
Komnas HAM Jangan Ikut Menghina Hati Nurani dan Intelektualitas Bangsa Indonesia
Jakarta (SI ONLINE) - Mengapa segelintir preman Palangkaraya yang mengatsnamakan Suku Dayak menolak FPI, bahkan berniat membunuh pimpinan FPI. Apakah ada riwayat FPI di Jakarta membunuh orang Dayak atau mengusir orang Dayak dari Jakarta?. Jika tidak ada, lantas mengapa orang-orang di Palangkaraya melakukan pengusiran bahkan percobaan pembunuhan pada pimpinan FPI?.
Pertanyaan menggelitik itu dilontarkan Sekjen Forum Umat Islam KH Muhammad Al Khaththath saat mendampingi delegasi FPI di Kantor Komnas HAM, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/2/2012).
Menurut Al Khaththath selama ini tidak ada riwayat permusuhan antara Dayak dengan FPI. "Tidak pernah ada kasusnya. Kok tiba-tiba (mereka) melakukan hal seperti itu." katanya.
Karena itu peristiwa ini harus menjadi catatan bagi seluruh elemen bangsa. Jika tidak, lanjut Al Khaththath, maka semuanya tidak memiliki hatu nurani. Bahkan media massa yang telah memutarbalikkan fakta dianggapnya juga tidak memiliki harti nurani dan telah menghina intelektualitas bangsa Indonesia.
"Ini harus jadi catatan buat kita. Kalau tidak, berarti kita tidak punya hati nurani. Media massa saya anggap tidak punya hati nurani, karena telah memutarbalikkan fakta sedemian rupa", ungkapnya.
Terkait dengan hal tersebut, Al Khaththath mengajak Komnas HAM agar tidak turut serta mendiamkan kasus ini. Jika Komnas HAM diam, maka berarti Komnas HAM juga ikut menghina nurani bangsa dan menghina inteletualitas bangsa. "Kalau itu terjadi semuanya, lebih baik kita bubarkan saja bangsa Indonesia. Sudah tak perlu ada", pungkasnya.
Roadshow FPI
Front Pembela Islam (FPI) terus melakukan roadshow ke sejumlah lembaga negara terkait Insiden Palangkaraya. Selasa (21/2/2012) sejumlah delegasi FPI dan FUI, seperti Munarman, Habib Muchsin Alattas, Ustadz Bachtiar Nasir dan KH Muhammad Al Khaththath diterima oleh anggota Komnas Hak Asasi Manusia Hesti Armiwulan di Kantor Komnas HAM, Jl Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat.
"Karena hanya saya saja yang sekarang ada di kantor, saya diberi amanah untuk menerima bapak-bapak", kata Hesti mengawali pertemuan yang dimulai pukul 13.35 WIB itu.
Kepada Hesti, Ketua Bidang Dakwah DPP FPI Habib Muchsin Alattas menyampaikan kronologis Insiden Palangkaraya dan sikap DPP FPI atas peristiwa itu. Habib Muchsin juga menyodorkan sejumlah bukti keterlibatan orang-orang dekat Gubernur Kalteng Teras Narang dan Sekdaprov Kalteng yang menjadi koordinator lapangan aksi yang diduga bermaksud membunuh empat pimpinan FPI Pusat yang akan mendarat di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya.
Rep: shodiq ramadhan
Hasbiyallaah
2012-02-22 11:29:411






andi
2012-02-22 21:04:53