• Jangan Ragu, Saatnya Islam Memimpin
  • Sekjen FUI Nasehati Mendagri Agar Tak Langgar Hukum Allah, Tuhan YME
  • API Jabar Minta Perda Anti Miras Dipertahankan
  • Komnas HAM, Aktor di Balik Pencabutan Perda Anti Miras?
  • Ketua MUI: Komnas HAM Berpihak Pada Pemabuk
  • Newsticker

    Kaban Sebut Pemerintahan SBY Auto Pilot

    Shodiq Ramadhan | Sabtu, 28 Januari 2012 | 06:59:42 WIB | Hits: 350 | 1 Komentar
    Share |

    Jakarta (SI ONLINE) - Ketua DPP Partai Bulan Bintang MS Kaban melontarkan sejumlah kritik tajam terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Kaban, yang juga mantan menteri SBY dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jili I, menyebut negara yang saat ini dipimpin SBY sebagai Negara Auto Pilot. Ada Presiden, tetapi tidak ada fungsi dan perannya.

    "Negara kita ini seperti Auto Pilot. Ada Presiden tapi tak ada fungsi dan peranannya", kritik Kaban dalam pidato politiknya menyambut Mukernas II PBB di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (27/1/2012).

    Kaban juga mengkritik angka pertumbuhan ekonomi 6,5% yang dibangga-banggakan pemerintah saat ini. Menurut mantan Menteri Kehutanan itu, angka itu adalah angka eksploitasi. PBB, kata Kaban, tidak setuju dengan ukuran pertumbuhan ekonomi dijadikan sebagai standar kesejahteraan masyarakat.

    "Pertumbuhan ekonomi 6,5% itu siapa yang tumbuh?. Apa rakyat?. Kalau rakyat yang tumbuh, tidak mungkin ada buruh demo di jalanan", kata Kaban.

    Konsep pertumbuhan ekonomi menurut Kaban adalah konsep yang palsu. Ia mengingatkan bahwa pada zaman pemerintahan Pak Harto, Indonesia dipuji-puji oleh dunia internasional karena angka pertumbuhan ekonominya 6%. Tetapi saat krisis ekonomi menghantam pada 1998, ternyata Indonesia bangkrut.

    "Angka itu otak atik gathuk. Pada 1998 Indonesia bangkrut. Kasus BLBI 690 triliyun", kata Kaban.

    Kesejahteraan ekonomi, menurut Kaban, bukan dirasakan oleh rakyat Indonesia. Tetapi hanya dirasakan segelintir orang saja dari kalangan Asing. Sehingga, tujuan negara untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur pun tidak tercapai.

    "Anda lihat siapa orang-orang terkaya di Indonesia dari nomor urut satu sampai empat puluh. Kalau kita sebut nanti dibilang rasialis", lanjut Kaban.

    Rep: Shodiq Ramadhan


    Komentar

    inad

    2012-01-28 09:58:04
    mungkin tumbuhnya ekononmi yg 6.5%, hanya untuk para pengusaha, bukan untuk rakyat.....

    1
    Kirim Komentar
    Nama
    Email
    Komentar
     
    PXdyb
    Kode