Malu

Dr. Daud Rasyid, MA
Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Diriwayatkan dari 'Uqbah ibn 'Amru al-Anshary al-Badary –radhiyallahu 'anhu- ia berkata, Rasulullah –Shallalahu alaihi wasallam- bersabda : "Diantara ungkapan kenabian dahulu yang ditemukan orang ialah kalau engkau tidak malu, maka lakukan apa yang engkau inginkan." Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhory
 
Tema Sentral :


Tema sentral Hadits ini adalah penanaman rasa malu dalam hati setiap Muslim. Malu adalah perasaan halus yang mempengaruhi sikap dan prilaku manusia secara zahir.
 
Penjelasan :

Hadits ini menjelaskan salah satu perasaan yang terpendam di dalam hati manusia, yaitu rasa malu. Sejak zaman Nabi-nabi terdahulu, malu tetap dianggap terpuji dan tak pernah dihapuskan dalam syari'at mereka. Apalagi dalam syari'at Nabi Muhammad Saw, malu dianggap bagian dari Iman. Sabda beliau Sahallallahu alaihi wasallam: "Malu sebagian dari Iman".

Manusia perlu menghidupkan rasa malu, karena pengaruh positifnya dapat dirasakan. Rasa malu mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik atau menghalangi orang dari perbuatan yang buruk.

Kendatipun redaksi hadits ini mengandung perintah untuk melakukan apa saja, tetapi pengertian sebenarnya adalah peringatan keras dan ancaman kepada setiap orang untuk tidak melanggar apa yang sudah ditetapkan oleh Syari'at.
 
Malu di zaman sekarang

Malu di zaman sekarang terasa makin terkikis. Apa yang dulu tak berani dilakukan orang, tetapi di zaman ini orang-orang sudah tidak merasa segan melakukannya. Penyebabnya karena rasa malu sudah hilang. Yang paling menonjol sekarang ialah hilangnya rasa malu dari diri perempuan.

Aslinya perempuan adalah makhluk Allah yang paling pemalu. Dahulu, perempuan sering dijadikan perumpamaan untuk rasa malu. Kalau ada lelaki pemalu, maka teman-temannya mengejeknya, dia seperti perempuan. Tetapi perempuan di zaman sekarang sudah kehilangan rasa malu. Itu tampak dari caranya berpakaian, berjalan, berbicara, bergaul dan berhubungan dengan orang lain yang sudah tidak ada lagi rasa sungkan.

Perempuan di zaman sekarang sudah tidak merasa malu membuka bagian tubuhnya di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya. Mereka keluar dari rumahnya dengan pakaian yang membukakan dada, betis, bahkan pahanya.

Di zaman ini ada lagi model pakaian perempuan yaitu pakaian ketat dan singkat. Baju dan celana yang dipakainya, selain ketat, lagi pendek. Sehingga kalau ia membongkok, maka bajunya tersingsing ke atas, maka celana dalamnya pun menjulur keluar terlihat oleh orang di sekitarnya, dan anehnya dia tidak merasa malu dengan itu. Mereka inilah contoh orang-orang yang tak beriman.

Lain lagi bila anda melihat pakaian presenter di televisi kita, sungguh menunjukkan bahwa orang yang memakainya sudah kehilangan rasa malu. Dadanya yang seharusnya ia tutup serapat-rapatnya, sengaja ia buka separuhnya. La Hawla wala quwwata illa billah. Padahal mereka ini perempuan muslimah. Konon lagi para artis yang memang profesi artis adalah profesi yang dikenal jauh dari nilai agama dan akhlak. Bahkan menjadi symbol bagi hidup yang tak peduli dengan tuntunna agama. Pakaian para artis dan selebritis itu sama sekali tidak mempedulikan rasa malu. Begitulah mereka tampil di layar kaca, ditonton puluhan juta pemirsa. Terbayangkah Anda bagaimana mereka ini nanti di dalam kubur menghadapi siksa Malaikat munkar dan Nakir yang tidak mengenal belas kasihan. Bagaimana mereka nanti berhadapan dengan Allah di Hari Akhir?

Dahulu, perempuan di negeri ini terkenal sangat pemalu. Berbagai kisah menggambarkan wanita pribumi di zaman dulu. Diceritakan, perempuan Betawi dahulu pada waktu pagi kerjanya menyapu halaman rumahnya. Ketika ia merasa dari kejauhan ada lelaki yang mau melintas di jalan di hadapan rumahnya, maka perempuan itu buru-buru masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan sapuannya di halaman, menunggu sampai lelaki itu pergi jauh, barulah ia kembali meneruskan pekerjaannya menyapu halamannya. Inilah yang disebut sifat pemalu (alhasymah) bagi perempuan.

Dahulu di kampung, perempuan tidak melihat lelaki yang jadi calon suaminya. Ia baru melihat suaminya ketika hari akad pernikahan berlangsung. Sebelumnya sang perempuan tidak mengenal siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Dalam pesta pernikahan juga demikian, tidak ada dulu pengantin disandingkan di atas pelaminan, ditonton para tetamu yang bercampur baur. Tetapi di zaman sekarang hampir tidak ada pengantin yang tidak duduk bersanding di tonton para tetamu. Kalaupun ada, maka kejadian ini dianggap orang aneh dan menjadi bahan ejekan. Inilah perubahan zaman dan hilangnya rasa malu dari diri manusai.
 
Hilangnya malu dalam soal mencari uang


Di zaman sekarang, orang tidak lagi malu-malu mencari uang dengan cara yang haram. Apa yang dikenal sebagai "koruptor" adalah sosok manusia yang sudah tidak peduli dengan malu untuk mengumpulkan uang. Apa saja ia lakukan, hingga menyalahgunakan jabatan yang dipegangnya. Asal tujuannya tercapai yaitu terkumpulnya banyak uang. Ia tidak malu namanya disebut oleh media massa secara luas, seperti sosok Gayus Tambunan di zaman ini, seorang pegawai Direktorat Pajak yang menjadi mafia kasus (markus) dalam pengadilan Pajak. Sehingga ia mampu mengumpulkan uang lebih dari dua puluh milyar rupiah (2.000 000 dollar US). Namanya menjadi buah bibir hampir semua orang di tanah air.