Jasa Tarmizi Taher Buat Umat Islam Indonesia

Baru saja umat Islam dan bangsa Indonesia kehilangan tokoh kaliber internasional, dialah mantan Menteri Agama RI Kabinet Pembangunan VI (1993-1998), Laksamana Muda TNI (Purn) Dr H Tarmizi Taher. Tokoh umat Islam tersebut kelahiran Padang, Sumatera Barat, 7 Oktober 1936. Ibunya, Hj Djawanis adalah Ketua Aisyiah Sumatera Barat, sedangkan ayahnya, H Taher Marah Sutan, adalah tokoh pendidik dalam pergerakan kebangsaan di Sumatera Barat. Dialah yang menjadi motivator dan guru politik Mohammad Hatta, sebelum sang proklamator itu hijrah untuk menempuh pendidikan hukum ke Pulau Jawa dan akhirnya ke Negeri Belanda. Tarmizi Taher wafat pada Selasa (12/2) pukul 04.00 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta dalam usia 76 tahun, setelah menderita serangan stroke sejak 2011 lalu dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Dalam buku biografinya “Tarmizi Taher: Jembatan Umat, Ulama, dan Umara”, Tarmizi Taher mengatakan dirinya selama menjabat sebagai Menteri Agama selalu aktif berhubungan dengan para ulama. “Menteri Agama itu kan mesti intensif berhubungan dengan  ulama.  Barangkali  tiap hari  tidak  pernah  Menag  nggak  menelepon  tokoh-tokoh  organisasi  keagamaan. Nah,  untuk  itu  saya  tidak  melalui  jalur-jalur  yang  terlampau  formal,”  ujar Tarmizi Taher.

Sementara itu Ketua MUI KH Hasan Basri dalam buku biografi tersebut memuju Tarmizi Taher, dimana seorang dokter sekaligus jenderal bintang dua TNI AL yang tetap rajin berdakwah untuk kemajuan umat Islam Indonesia. “Dr  H  Tarmizi  Taher,  seorang  anggota ABRI  yang  sangat  rajin  berdakwah  sebagai seorang mubalig, dan melayani umat dari berbagai lapisan masyarakat. Beliau bukan  saja  seorang  dokter  medis,  tapi juga  seorang  dokter  yang  dapat  mengobati penyakit masyarakat, seperti kemalasan,  kebodohan,  kemiskinan  serta  kerusakan akhlak dan moral,” tulis KH Hasan Basri dalam buku biografi setebal 300 halaman tersebut.

Jamaah Haji 1998

Ternyata Tarmizi Taher sangat berjasa dalam memberangkat jamaah haji Indonesia tahun 1998 lalu, ketika awal krisis moneter dimulai. Dengan pertolongan Allah Swt, akhirnya dengan kecerdasan dan kelihaian strategi politik Tarmizi Taher, akhirnya 160.000 jamaah haji Indoensia dapat berangkat ke Tanah Suci dengan biaya paling murah dalam sejarah jamaah haji Indonesia.

Sebagaimana dikisahkan mantan Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI), Tabrani Sabirin yang sangat akrab dengan Tarmizi Taher yang juga menjabat Ketua Umum DMI (2006-2012). Menurutnya,  begitu terjadi krisis moneter yang melanda seluruh Asia yang dimulai pertengahan 1997, dimana nilai rupiah terhadap dollar AS jatuh dari Rp 2.000 menjadi Rp 12.000 awal 1998 dan Rp 16.000 per dollar AS pertengahan 1998 setelah rezim Orde Baru lengser. Pada permulaan krisis dimulai, secara diam-diam Tarmizi Taher pergi ke AS untuk menemui Gubernur Bank Central AS, Alan Greenspain. Setelah bertemu Alan Greenspain, Tarmizi Taher menanyakan apakah ekonomi Indonesia dapat diselamatkan dari badai krisis moneter tersebut, ternyata jawaban Alan Greenspain adalah ekonomi Indoensia tidak akan bisa diselamatkan. Padahal menurut Gubernur BI, Sudrajad Djiwandono, fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat sehingga tidak akan terpengaruh dengan badai krisis moneter yang melanda Asia pada waktu itu. 

Setelah mendengar jawaban Alan Greenspain tersebut, Tarmizi Taher langsung pulang ke Indonesia dan menemui Sudrajad Djiwandono. Dengan gaya diplomatisnya, Tarmizi Taher menanyakan kepada Gubernur BI  apakah fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, ternyata jawaban Sudrajad adalah fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Mendengar jawaban tersebut, Tarmizi Taher langsung meminta Sudrajad agar Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) hari itu bisa menyetorkan seluruh Ongkos Naik Haji (ONH) ke Bank Indonesia dengan kurs rupiah pada waktu itu yakni Rp 2.000 per dollar AS. Padahal jumlah jamaah haji waktu itu sebanyak 160.000 orang. Karena termakan oleh omongannya sendiri, akhirnya Sudrajad setuju. Sebab Tarmizi Taher beralasan besok dirinya akan pergi ke luar negeri.             

Setelah mendengar jawaban Sudrajad yang bagaikan angin surga itu, Tarmizi langsung meminta kepada Sudrajad agar dibuat MoU, dimana dalam salah satu butir perjanjian tersebut berbunyi: “Kapanpun terjadi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, maka perjanjian ini tidak bisa dibatalkan”. Setelah diteken MoU, malam itu juga Tarmizi Taher memerintahkan seluruh bank yang menerima setoran ONH agar segera membayarnya ke kas BI. Dengan membayarkan setoran ONH ke BI, maka amanlah keberangkatan 160.000 jamaah haji Indonesia tahun 1998 ke tanah suci.   

Namun besoknya Menag Tarmizi Taher dipanggil Presiden Suharto di kediamannya jalan Cendana. Pak Harto menayakan mengapa bisa terjadi begini. Pak Harto mengatakan kalau begitu negara wajib membayar seluruh ongkos jamaah haji yang jumlahnya sangat besar tersebut. Menag Termizi Taher mengatakan dirinya sudah merundingkannya dengan Gubernur BI Sudrajad dan sudah membuat MoU mengenai pembayaran ONH. Kata Tarmizi, perjanjian itu sudah tidak bisa dibatalkan, sebab jika dibatalkan siapa yang akan membayar ONH dan bisa jadi jamaah haji Indonesia tidak bisa berangkat ke tanah suci.  Saat itu pak Harto langsung marah-marah kepada Sudrajad. Besoknya Sudrajad mendatangi Tarmizi Taher di Departemen Agama Lapangan Banteng dan meminta agar perjanjian tersebut direvisi, namun Tarmizi dengan tegas menolaknya sehingga menyebabkan Sudrajat menangis karena menyesali kebodohannya.    

Akhirnya pada Fenruari 1998, nilai dollar AS terhadap rupiah sudah mencapai Rp 12.000 dan pada waktu itu jamaah haji Indonesia mulai berangkat ke tanah suci. Dengan ONH hanya Rp 6 juta, berarti jamaah haji Indonesia hanya membayar 500 dollar AS, padahal seharusnya 3.000 dollar AS. Jadi seandainya waktu itu bayarnya pakai dollar AS, maka jamaah haji Indonesia harus membayar Rp 36.000.000.  Sedangkan ONH yang dikembalikan kepada jamaah haji setelah tiba di tanah air mencapai 800 dollar AS. Jadi boleh dikatakan, jamaah haji tahun 1998 dibiayai oleh pemerintah, sehingga menjadi haji paling murah dalam sejarah haji di Indonesia. Jadi seandainya pada waktu itu dengan gaya diplomasinya Menag Tarmizi Taher tidak berhasil meyakinkan Gubernur BI Sudjarad Jiwandono untuk membuat MoU dan membayar ONH secara langsung, barangkali mayoritas jamaah haji Indoensia yang membayar dengan nilai rupiah itu tidak bsia berangkat, sebab biayanya menjadi enam kali lipat dari ONH sebelum krisis moneter yang dimulai pertengahan 1997.  Inilah jasa Menag Tarmizi Taher yang perlu diingat umat Islam Indonesia terutama jamaah haji 1998.

Tommy vs Benny       

Menurut kisah Tabrani Sabirin sebagaimana keterangan dari Tarmizi Taher, ketika menjabat Menteri Agama (1993-1998), Tarmizi Taher pernah mendapat desakan kuat  dari dua pihak yang sama-sama berperan penting di negeri ini, yakni putra bungsu Presiden Suharto, Tommy Suharto dan Menhankam, Jenderal TNI LB Moerdani. Keduanya ingin menjadi penyedia pesawat bagi jamaah haji Indonesia. Namun karena kelihaian diplomasi Tarmizi Taher, akhirnya keduanya hanya gigit jari doang dan tidak mendapatkan apa-apa.

Dikisahkan, waktu itu Tommy Suharto mengirim Bob Hasan untuk menemui Tarmizi Taher di Kantor Pusat Departemen Agama Lapangan Banteng. Tujuannya adalah untuk meminta agar Tommy diizinkan menyediakan pesawat bagi jamaah haji Indonesia. Mendengar permintaan yang berbau KKN tersebut, Tarmizi bukannya langsung menolak tetapi menjawabnya secara cerdik. Kepada Bob Hasan, Tarmizi bilang kalau yang meminta Tommy pasti akan dikasih. Tetapi Tarmizi meminta agar Tommy menyediakan pesawat haji yang benar-benar bagus. Sebab jika asal-asalan, maka dikhawatirkan nanti bisa jatuh sebagimana pernah terjadi di Sri Lanka tahun 1974 yang menelan korban ratusan jamaah haji Indonesia. Jika itu sampai terjadi, maka bukannya Menteri Agama dan Departemen Agama yang jadi sasaran kritikan, tetapi ayah Tommy sendiri yakni Presiden Suharto.  Kemudian setelah itu Tarmizi datang ke Cendana dan melapor kepada pak harto kalau Tommy ingin meminta agar menjadi penyedia pesawat haji dan langsung ditolak, sebab dirinya khawatir nanti kalau pesawaytny sampai jatuh, maka yang menjadi sasaran kritikan umat Islam bukannya Menteri Agama tetapi Presiden Suharto sendiri, sebab Tommy akan mebgasih pesawat yang tidak qualified. Akhirnya Presiden Suharto membenarkan pendapat Tarmizi Taher tersebut.

Tidak begitu lama, Menhankam Jenderal TNI LB Moerdani memangil Menag Tarmizi Taher ke kantornya. Benny meminta agar penyediaan pesawat pengangkut jamaah haji haji diberikan kepada beberapa perusahaan yang ditunjuknya. Permintan yang juga berbau KKN dengan lihai itu ditolak secara halus oleh Tarmizi. Kepada Benny, Tarmizi mengatakan kalau Tommy sudah memintanya. Maka Tarmizi mempersilahkan kepada Benny agar memintanya langsung kepada pak Harto, sebab dirinya sebagai Menag hanya pelaksana saja. waktu itu Benny sempat marah-marah kepada Tommy karena ingin mengambil bagian penyediaan pesawat haji. Akhirnya permintan itu gagal gara-gara Benny tidak berani menghadap pak Harto di Cendana, sebab hubungam keduanya waktu itu sudha mulai kurang harmonis. Bahkan dalam eprjalanan kembali dari kunjungannya ke luar negeri (1994), didalam pesawat pak Harto mengatakan akan mengebuk siapapun termasuk Jenderal sekalipun yang berani merongrong kekuasaannya. Banyak yang berspekulasi, yang dimaksud Jenderal oleh pak Harto adalah LB Moerdani, yang waktu itu sering melontarkan kritik atas gurita bisnis putra-putri Presiden.  

Dana Abadi Umat     


Ketika zaman Menag Munawir Sadzali, waktu itu belum ada waitinglist sehingga begitu membayar ONH langsung bisa berangkat ibadah haji, dimana harus membayar ke rekening Depag setahun sebelum berangkat. Oleh Menag Munawir Sadzali, 10 bulan sebelum berangkat, pemondokan dan catering di Arab Saudi sudah dibayar lunas, demikian pula dengan tiket penerbangan Garuda dan Saudia, sehingga garuda dan Saudia dapat dana segar banyak yang bisa disimpan di bank dengan bunga cukup besar.  

Namun ketika Tarmizi Taher menjadi Menag menggantikan Munawir Sadzali, dia melihat ada celah yang dapat dioptimalkan sehingga menghasilkan dana haji yamg cukup besar yang akhirnya menjadi Dana Abadi Umat (DAU). Waktu itu Tarmizi Taher bersahabat dengan Menteri Haji Arab Saudi, Syekh Abdullah al Turki bin Abdul Aziz. Tarmizi melalui telephone meminta kepada Abdullah agar pembayaran lunas pemondokan dan catering dilakukan setelah selesainya pelaksanaan ibadah haji. Ide brilian dari Tarmizi itu ternyata disetujui Abdullah. Sebelum di bayarkan, uang itu disimpan di berbagai bank di Indonesia, sehingga menghasilkan bunga yang waktu itu besarnya sudah mencapai Rp 5 miliar per bulan.

Sedangkan untuk pembayaran tiket Garuda dan Saudia, Tarmizi Taher menggunakan tandatangan pak Harto untuk meyakinkan kedua perusahaan penerbangan Indonesia dan Arab Saudi tersebut. Sebab rasanya sulit tanpa persetujuan pak Harto, Garuda dan Saudia akan bersedia dibayar lunas tiket pesawatnya menjelang keberangkatan jamaah haji ke tanah suci.  Dari ketiga pembayaran tersebut, setiap tahun bisa terkumpul bunga yang mencapai ratusam miliar rupiah yang menjadi cikal bakal DAU, dimana pada akhir periode Menag Tarmizi Taher menjadi hampir Rp 1 triliun dan sekarang telah mencapai Rp 2,3 triliun. Pada era Tarmizi Tahir, DAU digunakan untuk membantu berbagai ormas Islam dan ormas pemuda serta mahasiswanya seperti Muhammadiyah dengan IMM dan Pemuda Muhammadiyah, NU dengan Banser dan PMII, DDII, Persis, Al Irsyad, Al Washliyah, Al Ittihadiyah dan sebagainya. Sehingga perkembangan syiar Islam pada waktu itu sedemikian kencangnya sebab dapat “gizi” dari DAU.

Menurut keterangan Tarmizi Taher, ketika uang DAU terkumpul ratusan miliar rupiah, dirinya lapor ke pak Harto di Cendana dimana pak harto sempat keget karena ada uang ratusam miliar rupiah diluar APBN. Ketika pak Harto tanya darimana uang tersebut, Tarmizi menjawab bahwa uang itu hasil penghematan dari pelaksanan ibadah haji dimana pak Harto yang tanda tangan untuk penundan pembayaran tiket Garuda dan Saudia. Kemudian pak Harto mengatakan: “sudah diatur saja”. Kalau waktu itu Tarmizi ingin mengambil uang tersebut, niscaya tidak ada satupun pihak yang mempersoalkannya karena sisa penghematan dari pembayaran pemondokan, catering serta tiket Garuda dan Saudia.

Karena DAU milik umat Islam, maka seharusnya pihak Kemenag tidak bisa seenaknya membekukannya. Seharusnya ormas-ormas Islam menuntut agar dicairkan kembali, sebab dana tersebut milik umat Islam bukan milik pemerintah dan digunakan untuk kepentingan dakwah Islam, jadi tidak hanya untuk membangun masjid saja. Ketika zaman Menag Tarmizi Taher, DAU dibawah Yayasan dan pengawasannya dilakukan oleh 5 ormas Islam termasuk Muhammadiyah dan NU. DAU tidak boleh digunakan untuk membeli pesawat haji, sebab DAU milik umat Islam dan dipergunakan untuk kepentingan umat Islam. Selain DAU, Tarmizi Taher juga berjasa dalam pengembangan Sistim Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat).   
                   
Kontribusi

Setelah pensiun dari Menag,  Tarmizi Taher diangkat menjadi Duta Besar untuk Norwegia dan Islandia. Setelah itu  menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2006 - 2012 dan Rektor Universitas Islam Az-Zahra di Jakarta periode 2004 - 2008.  Tarmizi Taher juga dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Dakwah oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama menjadi Sekjen (1987-1993) dan Menteri Agama Kabinet  Pembangunan  VI  (1993-1998), banyak kebijakan visioner dan terobosan lahir dari kepemimpinan Tarmizi. Taher. Selaku Menteri  Agama,  Tarmizi  Taher telah memberi  kontribusi  besar  bagi  umat  Islam  dan  pembangunan  kehidupan  beragama secara keseluruhan. Selain melahirkan  Sistem Komputerisasi  Haji  Terpadu  (Siskohat) dan membentuk Dana Abadi Umat (DAU), Tarmizi Taher juga sukses dalam  penataan  manajemen  penyelenggaraan  ibadah  haji.  Lahirnya  Mushaf  Istiqlal, Bayt al-Quran di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Museum Istiqlal yang diresmikan  Presiden  Soeharto  pada  Oktober  1993,  adalah  kenang-kenangan Tarmizi  Taher  sebagai  Menteri Agama.

Selain itu, jejak langkah Tarmizi Taher di  Kementerian  Agama  yang  tetap  dikenang  karena  tidak  ada  lagi  setelah tidak lagi menjabat adalah program diklat luar negeri ke  Amerika  Serikat  dan  Australia  untuk memperluas  wawasan  dan  memperkaya pengalaman  pejabat  eselon  I  dan  II  Kementerian Agama Pusat dan daerah di bidang Strategic Planning and Management. Dalam bidang pendidikan, pengembangan  mutu  IAIN  diupayakannya,  antara lain  lewat  program  kerjasama  Departe-men  Agama  dengan  Universitas  Leiden Belanda  mulai  1987  atau  lebih  dikenal dengan  INIS  (Indonesia-Netherlands  Co-operation  in  Islamic  Studies)  terutama untuk  para  dosen  IAIN.  Pembentukan STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri)  di  sejumlah  provinsi  juga  dicatat  sebagai  kebijakan  strategis  Menteri  Agama Tarmizi Taher. Dalam  pengangkatan  pejabat,  Tarmizi Taher  mengutamakan  integrasi  nasion\al  dan  bebas  dari  nepotisme  suku  maupun golongan.

Sementara konsepsi  pemikiran  dan  kebijakan, Tarmizi  Taher  tercatat berupaya  memperkuat  ukhuwah  Islamiyah dan  persatuan antar sesama organisasi Islam di Indonesia. Tarmizi Taher yang berasal dari lingkungan   Muhammadiyah, dikenal dekat  dengan  Nahdlatul  Ulama  (NU),  Al-Irsyad,  Persis,  Tarbiyah Islamiyah,  Dewan  Dakwah Islamiyah  Indonesia  (DDII) maupun  organisasi Islam lainnya.

(Abdul Halim)