Konflik Suriah Memuncak, Berbagai Negara Evakuasi Warganya
Pergolakan di Suriah diprediksi akan memasuki puncak konflik dalam beberapa pekan mendatang. Hal ini ditandai dengan beberapa negara penting seperti Rusia, telah mengevakuasi warganya dalam skala besardari negeri yang dulu disebut Syam itu, 22 Januari lalu. Sebelumnya, beberapa negara lain, seperti Kanada, Inggris, Mesir, Jepang, Filipina dan juga Indonesia telah melakukan evakuasi. Indonesia termasuk yang telah mengevakuasi warganya dan bahkan status KBRI di Suriah dinyatakan dalam keadaan darurat.
Selain evakuasi warga, puncak konflik juga ditandai dengan ditolaknya oleh kelompok oposisi 'road map' perdamaian nasional usulan Presiden Bashar Assad. Kelompok oposisi menetapkan syarat bersedia mengikuti rekonsiliasi perdamaian nasional asal Presiden Bashar Assad lengser dari kekuasaan.
Oposisi Suriah pada Minggu menolak inisiatif perdamaian dari Presiden Bashar al-Assad, termasuk konferensi rekonsiliasi nasional dan pemerintahan baru. Louay Safi, anggota Koalisi Nasional Suriah, menyebut pidato inisiatif perdamaian Presiden Bashar sebagai "retorika kosong." Dia tidak menawarkan diri untuk mundur, yang merupakan prasyarat untuk memulai perundingan," kata Safi dikutip oleh Al-Jazeera.
Dalam kaitan itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov menegaskan Suriah tidak akan damai jika oposisi tidak mau berunding. Sergei Lavrov mengatakan bahwa tidak akan ada penyelesaian damai atas konflik di Suriah selama oposisi terus menolak untuk bernegosiasi dengan pemerintah dan terus menuntut Presiden lengser dari kekuasaan sebagai prasyarat bagi pembicaraan perdamaian.
"Semua kekacauan akan teruus berlangsung selama oposisi masih terus memegang obsesi penggulingan rezim Assad. Selama itu pula posisi stalemate/stagnan, tak terdamaikan tetap berlaku. Tidak akan ada perkembangan baik yang akan terjadi, aksi bersenjata akan terus berlanjut, dan rakyat akan terus bertambah banyak yang akan mati," kata Lavrov dalam sebuah konferensi pers, seperti dimuat World Bulletin, Rabu (23/1).
Sementara itu Rusia telah melancarkan evakuasi warganya dari Suriah. Menurut Kedutaan Besar Rusia di Suriah, total 81 orang berada di daftar warga Rusia yang ingin pulang ke Rusia pada Selasa (22/1). Rusia mengirim dua buah pesawat yaitu YAK-42 dan Il-76, yang dapat membawa total 100 penumpang, ke Timur Tengah pada Selasa untuk menerbangkan sekitar 80 warga negaranya keluar dari Suriah.
Evakuasi pertama itu telah berhasil dengan selamat. Pesawat Yak-42 telah mendarat di Bandara Demodedovo Moskow, Rabu (23/1) di mana para warga Rusia ditemui oleh tenaga medis, psikolog dan pejabat imigrasi. Evakuasi dilakukan sekitar sepekan setelah penutupan sementara Konsulat Jendral Rusia di kota Barat Laut Suriah Aleppo, tempat pertempuran sengit antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak selama beberapa bulan. Kedutaan besar Rusia di Damaskus tetap dibuka, namun Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa pengurangan staf mungkin dilakukan.
Menjadi berita santer bahwa Rusia akan melanjutkan misi evakuasi ini dalam skala lebih besar. Menurut kantor berita RIA Novosti, sebanyak 8.000 warga Rusia terdaftar di konsulat di Suriah tetapi mungkin realitasnya warga Rusia ada sebanyak 25.000 perempuan Rusia yang telah menikah dengan warga Suriah dan tinggal di negara itu.
Para pengamat memperhatikan langkah Rusia melakukan evakuasi dalam skala besar ini, dan sekaligus menjadi pertanda bahwa pihak Rusia yang selama ini menjadi penopang kekuasaan Bassar Assad telah mulai ragu atas kelangsungan kekuasaan Presiden Suriah yang konon dikabarkan berlindung di dalam kapal perang Rusia.
Ibunya Bashar Assad konon juga sudah diungsikan ke Dubai. Antara melaporkan, Anisa Makhluf, ibunda Presiden Suriah Bashar al-Assad, telah meninggalkan negerinya yang tengah dicabik perang untuk bergabung bersama anak perempuannya di Dubai.
Uni Emirat Arab (UEA), demikian kesaksian para warga asal Suriah di UEA dan seorang aktivis, seperti dikutip AFP, Minggu (20/1).
"Kepergian Makhluf dari Suriah adalah isyarat lain mengenai Assad yang kehilangan dukungan, bahkan dari dalam keluarganya sendiri," kata Ayman Abdel Nour, pemimpin redaksi situs berita oposisi all4syria.com.
Para analis mengatakan Assad kini kian mengandalkan lingkaran paling dalam pendukungnya, termasuk Maher, adiknya yang mngepalai pasukan khusus Brigade Keempat. Dua adiknya yang lain, Bassel dan Majd, tewas dalam pertempuran. Bashar juga mengandalkan saudara-saudaranya dari pihak ibundanya. Sejumlah besar pengusaha dan orang kaya Suriah yang berhubungan dekat dengan rezim al Assad juga telah meninggalkan Suriah ke Dubai dalam beberapa bulan terakhir.
Evakuasi WNI
Situasi keamanan Suriah yang saat ini semakin memburuk membuat penetapan status darurat KBRI Damaskus, telah mendorong pemerintah pusat untuk segera mengeluarkan semua WNI dari Suriah lewat Lebanon. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Damaskus, Jumat (18/1) kembali memulangkan 109 WNI ke Indonesia melalui Beirut, Lebanon . "WNI dari Suriah yang akan dipulangkan ini ditampung di KBRI Lebanon sebelum diberangkatkan ke Indonesia," demikian siaran pers Kementerian Luar Negeri RI. Pemulangan tersebut merupakan ketiga kalinya tahun 2013 semenjak pemulangan 123 WNI awal Januari (05/01) dan 70 WNI minggu lalu (12/01).
Jumlah keseluruhan WNI yang dipulangkan sejak awal bulan Januari hingga saat ini berjumlah 302 WNI termasuk lima orang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S1 di Suriah.
"Hingga saat ini telah terdapat 57 WNI yang berkasnya telah selesai dan siap, namun KBRI Damaskus akan meningkatkan hingga akhir bulan Januari ini untuk dapat dipulangkan hingga 100 WNI lebih ke Indonesia, sehingga diperkirakan dalam bulan Januari 2013 dapat dipulangkan lebih dari 400 WNI," demikian siaran pers itu.
Dalam rapat bersama Dubes RI untuk Suriah, Bapak Wahid Abdul Jawad, dengan Tim Satgas KBRI Damaskus (10/01) menetapkan status Darurat I untuk Suriah yang berarti KBRI Damaskus harus berupaya maksimal untuk melindungi dan membantu percepatan repatriasi WNI.
Tim Satgas KBRI Damaskus terus bekerja penuh dengan malakukan piket 24 jam untuk membantu pihak konsuler KBRI dalam upaya menerima kedatangan WNI yang sebagian besar adalah TKI/PLRT yang bekerja di Suriah. Setelah kepulangan hari ini, WNI yang berada di Shelter KBRI Damaskus berjumlah 354 orang.
Laporan Antara menyebutkan, sejauh ini KBRI Damaskus memulangkan 1.928 warga negara Indonesia (WNI) termasuk para mahasiswa yang tergabung dalam PPI Damaskus, terkait makin meningkatnya konflik bersenjata yang terjadi di negara Suriah itu.
Pemulangan ini merupakan wujud dari kepedulian dan tanggung jawab KBRI terhadap perlindungan WNI di luar negeri terutama pembantu pelaksana rumah tangga (PLRT), demikian Sekretaris III/Fungsi Protokkol dan Komunikasi II KBRI Siria, Rahmat Hindiarta Kusuma di London.
Selama tahun 2012, KBRI Damaskus berhasil memulangkan sebanyak 1.928 WNI yang terdiri atas 42 keluarga KBRI, 80 pelajar dan mahasiswa dan sebanyak 1.786 WNI/PLRT, dan 20 WNI lainnya. Mereka masih menunggu penyelesaian masalah dan administrasi untuk kepulangan ke Indonesia melalui Beirut, Lebanon.
Konflik Memuncak
Dua minggu lalu konflik Suriah telah memasuki jantung kota Damaskus. Pejuang oposisi berhasil merangsek pasukan pemerintah dan diberitakan berhasil menguasai bandara di Damaskus Utara dalam suatu pertempuran sengit. Karenanya para pengamat meyakini, jika saja Rusia 'melempar handuk', kekuasaan Bashar Ashad segera jatuh dan konflik Suriah segera usai. Komentar Menlu Sergei Lavrov bahwa tak ada perdamaian di Suriah hanya gertak sambal diplomatik belaka.
Kesaksian seorang tentara Suriah yang membelot, salah seorang perwira Bashar Al Assad yang membelot yang berada di bandara militer Kwers mengatakan bahwa jasad pasukan Bashar Al Assad memenuhi bandara : "jasad dan mayat para perwira dan tentara memenuhi tempat itu dan bagian tubuh mereka berserakan di sudut-sudut bandara, dan kondisi di sana susah untuk digambarkan serta tentara pemerintah tidak akan bertahan dan bisa bangkit dalam waktu yang lama."
Kekuasaan Presiden Bashar Assad kini memanng tinggal mengandalkan serangan-serangan udara membabi buta. Tentara Suriah sangat ketakutan melakukan pertempuran darat. Meski diberitakan Bashar Assad muncul dalam peringatan Maulid Nabi di Masjid Negara beberapa hari lalu, kini Bashar Assad mengandalkan sepenuhnya dukungan Rusia untuk mempertahankan kekuasaannya. (msa dari berbagai sumber)







