Umat Islam Kembali Dijajah
KH. Cholil Ridwan
(Ketua MUI Pusat)
Banjir yang menerjang DKI Jakarta 17 Januari lalu bisa jadi musibah atau fitnah dan azab dari Allah SWT. Kalau fitnah berarti cobaan, maka itulah musibah. Kalau musibah tidak hanya menimpa orang kafir saja, tetapi juga orang bertaqwa dimana iman mereka dicoba, apakah mau sadar apa tidak dengan musibah ini.
Sedangkan azab terjadi kalau umat sudah terlalu banyak yang melakukan kemaksiatan, seperti umat Nabi Luth yang membudayakan homoseksual, umat Nabi Musa yang ditenggelamkan si Laut Merah dan umat Nabi Sholeh yang dihancurkan bangunannya, semua itu merupakan azab.
Jadi kalau tidak masuk akal berarti azab, seperti umat Nabi Luth yang dihujani batu kemudian tanahnya dibalikkan dan akhirnya menjadi Laut Mati seperti sekarang ini. Jadi kalau ukuran banjirnya itu melebihi ukuran tangan manusia, maka itu azab. Dengan banjir maka manusia diingatkan supaya sadar, bersyukur, bertaubbat serta beristighfar kepada Allah Swt dengan kembali kepada Syariah Islam.
Kemaksiatan sekarang melebihi zaman jahiliyah sebelum Islam. Seperti orang tua yang memperkosa anak gadisnya hingga tewas, setelah lihat film porno lima orang anak SD ramai-ramai memperkosa seekor kambing, adanya kawin lintas agama dan kawin sesama jenis. Maka pantaslah kalau datang azab berupa banjir sebagai azab pemula dengan korban sedikit.
Banjir terjadi juga karena sebelumnya rakyat Ibukota memilih pasangan sekuler dan Nasrani pada Pilgub dengan menolak nasehat para ulama dengan memilih pemimpin dari umat Islam. Memilih pemimpin Nasrani berarti telah melakukan kemaksiatan. Padahal di Eropa dan AS yang katanya negara demokrasi, tidak pernah adanya Bupati, Walikota atau Gubernur yang beragama Islam. Kalau umat Islam memilih pemimpin Nasrani, itu berarti siap-siap dijajah ulang sebagaimana zaman kolonial dulu. Maka pantaslah kalau azab Allah Swt datang dan Jakarta ditenggelamkan banjir.







