Dress Code Hijabiyah, Tebar Pesona Islami
Ada yang menarik, dan kini tengah berkembang pesat di kota Surabaya--ibu kota Provinsi Jawa Timur; Wanita mengenakan jilbab (hijab) membentuk kelompok, cepat membesar hingga mampu membentuk komunitas (kita sebut hijabiyah, Red). Bergiat dalam berbagai bentuk acara keagamaan, yang diberi titel menarik.
Puluhan hijabiyah tumbuh pesat di kota ini. Hadir, kendati mengenakan berbagai uniform, namun berusaha berbeda dengan anggota majlis ta'lim pada umumnya. Uniform, pada komunitas ini diberi sebutan mentereng; dress code. Diniatkan menjadi ciri khas. Karenanya dirancang semenarik mungkin. Memadukan tata warna srasi antara jilbab dan keseluruhan pakaian. Demikian pula dengan pernak-pernik asesoris di sekitar jilabab, mempertimbangkan meningkatnya pesona Islami.
Salah satu hijabiyah tumbuh dengan pertambahan anggota demikian pesat, bernama Hijabee. Komunitas ini memiliki beberapa sebutan dress code, sebagai pilihan untuk menyesuaikan dengan kegiatan dan acara yang hendak dihadiri, diberi tema atau sebutan titel yang menarik.
Simak undangan yang disebar, untuk acara pengajian (Minggu 27 Januari 2013) yang dihelat disekitar peringatan Maulud Nabi Muhammad Saw di Masjid Ash Shobirin -- masjid dengan bentuk bangunan "cekli" di Jalan Raya Rungkut Mapan Tengah, Surabaya Selatan-- yang berada di tengah-tengah pemukiman warga menengah ke atas.
Dalam undangan agar tidak mengesankan "hanya sekadar" melainkan mampu menghadirkan kesan istimewa dan khas. Acara pengajian itu, diberi titel Dream, Believe, Make it Happen. Menurut salah seorang pengurus, yang karib disapa Lala, dengan tema itu komunitas Hijabee mengajak anggotanya mendapat pijakan; agar tetap segar memasuki tahun 2013. Karena itu, "dress code" yang dipilih untuk dikenakan saat menghadiri acara, diberi tema "Fresh With Green"---perpaduan warna senada, segar antara hijau cerah dan hijau muda.
Umumnya Hijabiyah ini, dengan pengurus sangat kreatif. Tidak hanya dalam mengemas dan memberi titel menarik disetiap acara yang diselenggarakan, hingga mengesankan spesial. Namun juga dalam "menebar pesona" dengan memanfaatkan berbagai media cetak dan elektronik, terutama internet. Web side komunitas semacam ini sangat dimanfaatkan untuk mengembangkan kreatifitas menata busana muslimah, dan interaksi setiap anggota. Media, menambah daya pesona, menjadikan komunitas berusia belum genap setahun, cepat menjadi besar, bahkan menjadi wadah trendi, terkini.
Simak lagi, kemasan acara yang sudah diagendakan komunitas ini untuk mengisi kegiatan bulan Februari mendatang. Disamping berbagai kemasan acara pengajian, dengan lokasi masjid berpindah-pindah, juga yang rutin digelar adalah Hijabee Locomarket--- yaitu bazar yang diselenggarakan dengan lokasi juga berpindah. Anggota ini menyebut acara ini sebagai nomaden market. Berbagai macam barang yang ditawarkan dalam bazar ini, paling menonjol, ya dalam kisaran hijab serta pernak pernik asesorisnya. "Februari depan, pada tanggal 10 dan 17, dijadwal untuk Hijabee Locomarket. Telah tersusun pula agenda acara selama setahun, dengan lokasi masjid berpindah-pindah. Begitu, agar anggota dapat menikmati keindahan masjid di berbagai tempat," tambah Lala.
Fatimiyah
Selain Hijabee, ada Hijabiyah lain dengan nama Fatimiyah. Nama komunitas ini diambil dari nama putri nabi Muhammad Saw; Fatimah Az Zahra. Bedanya, komunitas semacam Hijabee, beraktivitas mulai dari semacam majlis ta'lim, sehingga memungkinkan jumlah anggota terus meningkat. Sedang Fatimiyah jumlah anggota terbatas. Komunitas ini dibentuk sebagai kelompk arisan. Setahun berdiri dengan anggota hanya 30 orang.
Dikalangan anggotanya menyebit kelompok ini sebagai Arisan Fatimiyah. Selintas, seperti tidak ada bedanya dengan kelompk arisan lain yang sejak lama tumbuh di Surabaya maupun di berbagai daerah lainnya---ya, anggota seluruhnya wanita, sebagai kelompok dari kalangan sosialita. Yang membuat masing-masing kelompok berbeda dengan yang lain, diantaranya karena latar belakang anggota; mendorong keinginan eksklusif dan terbatas.
Arisan Fatimiyah juga ingin berbeda; pengelola cukup kreatiif. Setiap berkumpul ada saja upaya berbagai tips mengenai berbagai masalah---terutama masalah keluarga. lebih khusus selalu ada tausiyah untuk berbagi ajaran Islam. Di hari-hari besar keagamaan---seperti di sekitar peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW--- ada yang spesial. Mengundang kiyai atau ulama untuk memberikan tausiyah khusus.
Memang perkumpulan wanita, tips ditularkan anggota ke anggota, tak jauh dari urusan kewanitaan; seperti masak dan kosmetik halal. Pada suatu kesempatan berbeda; hadir ahli-ahli khusus di tengah arisan. Seperti, dr. Agus Ali Fauzi, PGD. Pall Med. (ECU), dokter ahli perawatan Palitatif dan Bebas Nyeri dari RSUD. DR. Soetomo, Surabaya. berbagi tips Mempertahankan Kebahagiaan dan Kesuksesan. Penyampaian, diwarnai berbagai gambaran realita, ringan, dan penuh canda.
Jauh dari kesan arisan hura-hura. Berbeda dengan kelompok arisan eksklusif lainnya, kegiatan berpindah-pindah; namun di restoran dan hotel bahkan mall. Fatimiyah, arisannya juga berpindah tempat, tetapi di rumah-rumah anggota. "Bergantian di rumah anggota, kami bisa menghargai kondisi masing-masing rumah anggota, yang tidak semua bagus dan mewah. Tapi kami lebih nyaman membangun keakraban dan kebersamaan," kata seorang pengelola.
Setiap arisan diselenggarakan, anggota hadir dengan busana seragam. Kelompok ini, memiliki beberapa pilihan tema dress code; ada dominasi warna ungu, pink dan putih dengan berbagai pilihan padu padannya. Busana, sesuai tujuan kelompok Arisan Fatimiyah. Diantaranya memberi motivasi agar setiap muslimah mengenakan jilbab. Sangat sering, tips yang muncul pada setiap arisan; terkait penampilan berbusana muslimah; fasionable tetapi senantiasa memperhatikan ketentuan syari'at Islam. (Muhammad Halwan)








