Solusi Was-Was

Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh Ustad, saya Ahmad Riady. Saya mau bercerita, meski malu tapi terpaksa saya lakukan. (1). Dipikiran saya sering terlintas nadzar dan sumpah. Baik mutlak maupun yang bersyarat. Dan kemudian diucapkan di hati kadang di lisan. Bahkan nadzarnya orang lain pun turut diucapkan. Tapi kemudian saya membantah nazar-nazar tersebut secara berulang-ulang, tujuannya untuk meyakinkan Allah dan hati saya bahwa nazar-nazar dan sumpah-sumpah yang telah diucap atau akan diucap adalah nazar dan sumpah TIDAK BENAR dan BOHONGAN. Dan saat salat fardhu, hajat dan tahajud saya selalu berdo'a agar Allah tidak mengesahkan atau memberlakukan nazar-nazar dan sumpah yang telah dan akan terucap. Dan jangan pula menghukum saya dan keluarga karena nazar-nazar dan sumpah tersebut. tapi tetap saja hati selalu was-was takut terjadi yang sebaliknya.

(2). Saat shalat saya selalu mengulang-ulang takbiratul ikhram, karena dipikiran dan hati bahwa shalat yang saya lakukan TIDAK SAH DAN BATAL. Dan sering pula saya lupa bilangan rakaat dalam shalat dan mengulang-ulang wudhu. (3). Saat berdo'a di pikiran sering pesimis kalau Allah mengabulkan do'a saya. Dan di pikiran juga sering terlintas pikiran hinaan pada Allah, tapi kemudian istighfar. (4). Sering mimpi buruk di lingkungan kuburan, tempat yang tinggi, macam tentang rumah, melihat orang yang sudah meninggal, melihat mayat, dll. Kemudian saya mencari tafsir mimpi di internet, tapi setelah tahu artinya saya menjadi ketakutan dan takut mati. (5). Saya sudah berusaha sembuh dari was-was dan melupakan nomor 1 dan 4, tapi justru pikiran saya tambah kacau dan gelisah. Demikian cerita saya, dan sudi kiiranya bapak ustadz mau mengomentari atau memberi solusinya.
Ahmad Riady, e-mail: lanangsejati27@ovi.com.

Jawaban
Wa'alaikumussalam Warahmatullaahi Wabarokaatuh.

Nash-nash menunjukkan bahwa cara menghilangkan was-was adalah dengan cara menutup pintu/memblokir dialog pikiran dengan was-was, yakni menghentikan upaya menuruti/memberikan jawaban terhadap pikiran was-was tersebut dan memilih untuk tidak mempedulikannya. Tindakan ini disertai dengan sikap bertumpu total hanya kepada Allah, berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan-Nya untuk menghilangkannya. Bukhari meriwayatkan; Dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Az Zubair, berkata Abu Hurairah ra; Rasulullah saw bersabda: "Syetan senantiasa mendatangi salah seorang dari kalian seraya berkata; siapa yang menciptakan ini dan siapa yang menciptakan itu hingga akhirnya dia bertanya 'Lantas siapa yang menciptakan Tuhanmu?. Bila sudah sampai seperti itu maka hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dan berhenti". (H.R. Bukhari)

Dalam riwayat Ahmad, hadits ini diriwayatkan dengan lafadz;
Anshori menceritakan dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Setan mendatangi manusia lalu bertanya: Siapa yang menciptakan langit? Ia menjawab: Allah. Kemudian setan bertanya: Siapa yang menciptakan Allah? Bila salah satu dari kalian mendapatkan hal seperti itu maka ucapkanlah : Aku beriman kepada Allah dan rasulnya. (H.R. Ahmad)

Dalam hadits di atas, Rasulullah menjelaskan bagaimana setan menggoda dengan was-was terkait iman dan aqidah terhadap Allah. Ketika was-was itu muncul, Rasulullah bukan memerintahkan untuk melayani, "dialog-dialog imajiner" tersebut, namun justru memerintahkan untuk berhenti dan tidak melayani seraya meminta perlindungan kepada Allah. Karena itu, hadits ini menunjukkan bahwa solusi menghilangkan was-was adalah dengan menutup pintu/memblokir dialog pikiran was-was, yakni menghentikan upaya menuruti/ memberikan jawaban terhadap pikiran was-was tersebut dan memilih untuk tidak mempedulikannya, bukan malah melayaninya dan berusaha menundukannya dengan logika-logika ataupun silogisme-silogisme.

Tidak pula seseorang yang tertimpa was-was hendaknya membiasakan membaca do'a-do'a perlindungan dari was-was syetan dan godaan setan secara umum dengan ayat-ayat ruqyah seperti surat An-Nas, Al-Falaq, Ayat Kursi, dll.

Seorang lelaki di zaman Rasulullah yang tertimpa was-was dalam shalat diajari Nabi cara menghilangkannya dengan meminta kepada Allah. Imam Muslim meriwayatkan;
Dari Abu Al A'la bahwa 'Utsman bin Abu Al 'Ash datang kepada Nabi Saw lalu bertanya: "Ya, Rasulullah! Aku sering diganggu setan dalam shalat, sehingga bacaanku menjadi kacau karenanya. Bagaimana itu ?" Maka bersabda Rasulullah Saw: 'Ya, yang demikian itu memang gangguan setan yang dinamakan Khanzab. Karena itu bila engkau diganggunya, maka segeralah mohon perlindungan kepada Allah dari godaannya, sesudah itu meludah ke sebelah kirimu tiga kali! 'Kata Usman; 'Setelah melakukan yang demikian, maka dengan izin Allah godaan seperti itu hilang. (H.R. Muslim)

Patut diperhatikan pula analisis Imam Syafi'i. Menurut beliau, was-was muncul karena kejahilan terhadap syariat. Dengan analisis ini, berarti diantara solusi menghilangkan was-was adalah memiliki ilmu terhadap syariat, artinya ber-tafaqquh fiddin, karena dengan kefakihan tersebut orang akan sanggup bersikap yang benar sesuai yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. As-Suyuti menulis; As-Syafi'i berkata: was-was dalam niat shalat dan toharoh adalah dikarenakan kebodohan terhadap syariat atau kekacauan dalam pikiran (al-Amru bil Ittiba' Wan-Nahyu 'An-Ibtida', hlm 31).

Berita Terbaru

Sabtu, 18/05/2013 17:13:42 Alhamdulillah Kini Hadir RSIA Islam di Bogor Sabtu, 18/05/2013 14:50:50 KH Ma'ruf Amin : Waspadai Kebangkitan PKI Sabtu, 18/05/2013 14:39:01 Kelompok Oposisi Liberal Desak Presiden Mursi Mundur Sabtu, 18/05/2013 14:21:20 Hukum Safar bagi Wanita Sabtu, 18/05/2013 14:06:15 Awas Wabah Chikungunya Ancam Kesehatan Keluarga