Al Qomah, Durhaka pada Ibu Menyulitkannya Mengucap Kalimat Tauhid Saat Sakaratul Maut

Senin, 23 September 2013 - 15:27 WIB | Dilihat : 16887
Al Qomah, Durhaka pada Ibu Menyulitkannya Mengucap Kalimat Tauhid Saat Sakaratul Maut Seorang Ibu tua (ilustrasi) / IST

Adalah suatu kisah yang banyak memberikan pelajaran hakikat kasih sayang seorang ibu yang tiada batasnya. Walaupun pernah tersakiti oleh perbuatan anaknya, namun kasih sayangnya tak pernah luntur dan hilang, bahkan rasa ibanya dan cintanya kepada anaknya telah menghapuskan sakit hatinya.

Maka sekecil apapun peran seorang ibu adalah merupakan kebaikan yang nilainya jauh lebih besar dari dunia dan seisinya. Kisah ini sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi siapa yang selalu menyakiti dan mendurhakahi orang tuanya terutama ibunya. Walaupun banyak yang meragukan kisah dalam hadits ini sebagai kisah yang diada-adakan dan pelakunya adalah sosok yang dibuat-buat, namun isi dari cerita ini menggambarkan hal yang harus dilakukan bagi setiap manusia harus  selalu berbuat baik kepada orang tua dan jangan mendurhakainya sebagaimana perintah Allah Swt berlepas dari itu semua ada yang kita bisa petik sebagai pelajaran berharga.

Dikisahkan dalam satu riwayat bahwa pada masa Rasulullah Saw ada seorang pemuda yang bernama Al-Qomah. Dia seorang pemuda yang giat beribadah, rajin sholat, banyak puasa dan suka bershodaqoh.

Suatu hari dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah Saw untuk memberitahukan kepada beliau Saw tentang keadaan Al-Qomah. Maka Rasulullah Saw kemudian mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar Rumi dan Bilal bin Robah Ra untuk melihat keadaannya.

Rasulullah bersabda, “Pergilah ke rumah Al-Qomah dan talqinlah untuk mengucapkan Laa ilaha Illallah.”

Akhirnya mereka berangkat ke rumahnya. Ternyata pada saat itu Al-Qomah sudah dalam keadaan naza’. Maka segeralah mereka mentalqinnya, tetapi ternyata lisan Al-Qomah tidak bisa mengucapkan Laa Ilaha Illallah.

Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rasulullah Saw. Beliau bertanya, ”Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?” Ada yang menjawab, ”Ada, wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta.”

Maka Rasulullah Saw mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berpesan kepada utusan tersebut, ”Katakan kepada ibunya Al-Qomah, jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah, maka datanglah, namun jika tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuinya.”

Tatkala utusan itu sampai ke tempat ibunya Al-Qomah, dan pesan beliau telah disampaikan, maka dia berkata, ”Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah Saw.” Maka dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah Saw. Sesampainya di rumah Rasulullah, maka dia mengucapkan salam dan Rasulullah pun menjawab salamnya, lalu Rasulullah, ”Wahai ibu Al-Qomah, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Sebab jika engkau berbohong maka akan datang wahyu dari Allah azza wa jalla yang akan memberitahukan (hal itu) kepadaku.

Bagaimana sebenarnya keadaan putramu Al-Qomah?” Sang ibu menjawab, ”Wahai Rasulullah, dia rajin  mengerjakan shalat, banyak puasa, dan senang bersedekah.” Lalu Rasulullah bertanya, ”Lalu bagaimana perasaanmu terhadapnya?” Dia menjawab, ”Saya marah kepadanya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?” Dia menjawab,”Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya, dan dia pun durhaka kepadaku.”

Maka bersabda, ”Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Al-Qomah sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.” Kemudian beliau bersabda, ”Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.” Si Ibu bertanya,”Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau lakukan.” Beliau menjawab, ”Saya akan membakarnya dihadapanmu.” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, saya tidak tahan apabila engkau membakar anakku dihadapanku.” Maka Rasulullah menjawab, ”Wahai ibu Al-Qomah, sesungguhnya adzab Allah azza wa jalla lebih pedih dan lama. Kalau engkau ingin agar Allah azza wa jalla mengampuninya, maka relakanlah anakmu Al-Qomah. Demi Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sholat, puasa, dan sedekahnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya.” Lantas sang ibu ini berkata, ”Wahai Rasulullah, Allah azza wa jalla sebagai saksi, serta semua kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridho kepada anakku Al-Qomah.”

Rasulullah pun berkata kepada Bilal Ra, ”Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Al-Qomah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum. Barangkali ibu Al-Qomah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari hatinya, atau barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Bilal pun berangkat, dan ternyata dia mendengar Al-Qomah dari dalam rumah mengucapkan Laa Ilaha Illallah. Maka Bilal masuk dan berkata, ”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Al-Qomah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhonya telah menjadikannya mampu mengucapkan.”

Akhirnya Al-Qomah meninggal dunia saat itu juga. Kemudian Rasulullah Saw melihatnya dan memerintahkan agar dia dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau mensholatinya dan menguburkannya, dan di dekat kuburan itu beliau bersabda,

”Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshor, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah azza wa jalla, para malaikat, dan seluruh manusia. Allah azza wa jalla tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat, dan berbuat baik kepada ibunya, serta meminta keridhoannya, karena ridho Allah azza wa jalla tergantung pada ridhonya dan kemarahan Allah azza wa jalla tergantung pada kemarahananya.”


[Bernard Abdul Jabbar]

0 Komentar