Al-Arqam bin Abi al-Arqam : Sosok Misterius dalam Perjalanan Dakwah Rasululullah Saw

Kamis, 18 April 2013 - 12:19 WIB | Dilihat : 14120
Al-Arqam bin Abi al-Arqam : Sosok Misterius dalam Perjalanan Dakwah Rasululullah Saw

Sungguh suatu hal yang sangat menakjubkan seseorang yang tidak terkenal dan tidak sepopuler sahabat-sahabat yang lainya seperti Abu bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf dan lain sebagainya, tapi sangat memiliki peran yang sangat luar biasa dan penting di awal dakwah Rasulullah Saw. Tiada seorang pun yang mengira bahwa beliau adalah orang yang meyediakan tempat rumahnya sebagai tempat yang digunakan untuk membina para sahabat mempelajari dan memahami setiap wahyu yang turun, dan dalam literature sejarah tak banyak namanya disebutkan. Namun jasanya dalam perkembangan awal dakwah Islam tak bisa dilupakan dan menjadi barometer pembinaan dakwah.

Sosok Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam inilah yang kita bicarakan. Dia lahir pada 673 Masehi. Dia seorang pedagang dan pengusaha yang sangat berpengaruh dari kabilah bani Makhzum dari kota Mekkah.

Dalam sejarah Islam, dia termasuk kalangan yang awal masuk Islam bahkan, orang yang ketujuh dari As-Sabiqun al-Awwalun. Tempat tinggal beliau berlokasi tak jauh dari Bukit Safa. Di tempat inilah para pengikut Muhammad diajarkan berbagai pemahaman tentang agama Islam dan juga pengemblengan aqidah.

Hampir setiap malam satu demi satu para sahabat secara bergantian keluar masuk rumah tersebut untuk dibina Rasulullah agar mereka menjadi pengemban dakwah. Sebelumnya rumah al-Arqam ini disebut Dar al-Arqam (rumah Al-Arqam) dan setelah dia memeluk Islam akhirnya disebut Dar al-Islam (Rumah Islam). Dari rumah inilah madrasah pertama kali ada. Al-Arqam juga ikut hijrah bersama dengan Rasulullah Saw ke Madinah. Beliau wafat pada tahun 675 masehi

Pada awal penyebaran Islam, Rasulullah Saw masih menyebarkan agama secara sembunyi-sembunyi. Muhammad mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya. Pada akhirnya Rasulullah Saw  memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir. Rumah milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulallah Saw. Beliau sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan di sana. .

Mengapa Harus Rumah Al Arqam?


Rumahnya tersebut berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Dan dapat kita bayangkan hiruk pikuknya kota Mekkah yang merupakan kota suci tujuan sentral peziarah agama samawi, sekaligus sebagai salah satu kota transit perdagangan kafilah-kafilah, tentunya kecil kemungkinan orang-orang akan memperhatikan siapa dan apa yang dilakukan orang lain.

Dengan fakta seperti ini, maka dengan menggunakan kediaman Arqam bin Abi Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi. Pergerakan yang dilakukan di rumahnya tidak akan mudah dicurigai oleh masyarakat, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.

Justru disinilah letak kemisteriusan beliau dan sekaligus kelebihan yang dimilikinya, ketidak ternenalnya beliau memungkinkan orang orang Mekah tidak ambil pusing dan peduli dengan keadaan di rumah beliau, terlebih rumahnya yang jauh dari kota terletak dipinggiran.

Dan inilah kemudian menjadi pilihan Rasul untuk memilih tempat tersebut sebagai pusat dakwah awal Islam sungguh suatu strategi dakwah yang brilian.  

Mungkin ini merupakan sebuah ibrah yang dapat kita ambil dari sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan salah satu orang penting dalam proses pergerakan dakwah, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.

Semoga bisa lahir di kalangan kita mujahid mujahid dakwah yang tak memerlukan ketenaran dan popularitas tapi terus bekerja di jalan dakwah yang tak juga memerlukan pujian tapi istiqomah dalam berjuang sebagaimana ungkapan mengatakan “Fursanan fiinahaar wa ruhbanan fillaili” ketika siang hari berjuang bagaikan singa yang siap menerkam musuhnya tanpa lelah, dan malam bagaikan rahib yang beribadah tanpa putus putus kepada sang Ilahi.” 

[Bernard Abdul Jabbar]

0 Komentar