Zaid bin Sanah : Pendeta Yahudi yang Masuk Islam Setelah Melihat Tanda Kebesaran Rasulullah

Selasa, 12 Maret 2013 - 16:03 WIB | Dilihat : 52678
 Zaid bin Sanah : Pendeta Yahudi yang Masuk Islam Setelah Melihat Tanda Kebesaran Rasulullah

Perjalanan hidup seseorang dalam mencari hidayah petunjuk Allah Swt untuk membuktikan kebenaran ajaran dan kitab suci yang dianutnya, memerlukan cara dan metode yang berliku. Untuk itulah salah satu dari pendeta Yahudi ini ingin membuktikan kebenaran itu dengan cara menguji langsung kepada orang yang telah disebutkan dalam kitab sucinya maka iapun berusaha membuktikanya sendiri akhirnya iapun menemukan petunjuk dan hidayahnya. 

Diriwayatkan oleh At-Thabrani dari Abdullah bin Salaam r.a bahwa pada suatu hari Rasulullah s.a.w keluar bersama sahabat-sahabat beliau, di antara salah satunya adalah Ali bin Abi Thalib r.a.

Tiba-tiba datang menemui Rasulullah Saw seorang Badui dengan mengendarai seekor kuda, lalu ia menghampiri dan mendekat seraya  berkata, "Ya Rasulullah di kampung itu ada sekumpulan manusia yang sudah memeluk Agama Islam dengan mengatakan bahwa jika memeluk Islam, mereka akan mendapat rahmat dan rezeki dari Allah. Tetapi sesudah mereka semua memeluk Islam, maka terjadilah musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mereka ditimpa kelaparan dan kehausan.

Saya khawatir ya Rasulullah jika mereka kembali kufur meninggalkan Islam, karena soal perut, karena mereka memeluk Islam juga karena soal perut. Saya menginginkan engkau mengirimkan bantuan kepada mereka untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa mereka itu."

Mendengar keterangan itu. Rasulullah s.a.w lalu memandang Ali bin Abu Thalib. Ali mengerti maksud pandangan itu kemudian Ali ra berkata, "Ya Rasulullah, tidak ada lagi bahan makanan pada kita untuk membantu mereka."

Zaid bin Sanah, seorang pendeta Yahudi yang turut mendengarkan laporan orang Badui dan jawaban Ali bin Abu Thalib lalu mendekatlah ia kepada Rasulullah s.a.w dan berkata, "Wahai Rasulullah, kalau engkau suka, akan saya belikan kurma yang baik lalu kurma itu dapat engkau beli dariku  dengan hutang dan dengan perjanjian."

Berkata Rasulullah s.a.w, "Jangan dibeli kurma itu sekiranya kau berharap aku berhutang kepadamu, tetapi belilah kurma itu dan berilah kami pinjaman dari engkau."

"Baiklah," jawab Zaid bin Sanah sang pendeta Yahudi itu.

Zaid bin Sanah kemudian membeli buah kurma yang kualitas terbaik lalu menyerahkan kepada Rasulullah s.a.w dengan perjanjian-perjanjian tertentu dan akan dibayar kembali dalam jangka waktu yang tertentu pula,kemudian Rasulullah s.a.w menerima kurma itu, lalu diserahkan kepada orang Badui untuk dibagikan kepada penduduk kampung yang ditimpa bencana itu.

Beberapa hari berselang sebelum jatuh tempo perjanjian pembayaran hutang Rasulullah Saw yang waktu itu sedang  menziarahi orang mati bersama Abu Bakar, Umar, Usman dan beberapa orang sahabat yang lain.Setelah selesai mensholatkan jenazah tersebut, Rasulullah s.a.w pergi ke suatu sudut untuk duduk lalu Zaid bin sanah menghampirinya dengan memegang erat-erat bajunya dan berkata kepadanya dengan sekasar-kasarnya. "Hai Muhammad, bayar hutangmu kepadaku, aku tahu bahwa seluruh keluarga Abdul Muthalib itu selalu mengulur ulurkan waktu untuk  membayar hutang!"

Mendengar kata-kata yang kasar itu, sekita itu juga wajah Umar bin Khattab yang berada disisi Rasulullah menjadi merah padam,kemarahannya pun memuncak ,lalu berkata kepada pendeta yahudi  "Hai musuh Allah!, engkau berkata begitu kasar terhadap Rasulullah dan berbuat tidak sopan. Demi Allah kalau tidak karena rasa hormatku terhadap Rasulullah s.a.w yang berada di sini, sungguh tentu akan ku potong lehermu dengan pedangku ini."

Rasulullah memandang kepada pendeta Yahudi itu dalam keadaan tenang dan biasa saja, lalu berkata kepada Umar, "Hai Umar, antara saya dengan dia ada urusan hutang piutang yang belum selesai. Sebaik-baiknya engkau menyuruh aku membayar hutang itu dan menganjurkan kepadanya untuk berlaku baik menuntut hutangnya. Hai Umar, pergilah bersama dia ke tempat penyimpanan kurma, bayarlah hutang itu kepadanya dan tambahlah duapuluh gantang sebagai hadiah untuk menghilangkan rasa marahnya."

Setelah Umar membayar hutang itu dengan tambahan tersebut, lalu sang pendeta yahudi Zaid bin Sanah pun bertanya kepada Umar, "Kenapa ditambah hai Umar?" Berkata Umar, "Aku diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w untuk  ini sebagai hadiah kemarahan engkau."

Kemudian Zaid bin Sanah berkata,"Hai Umar, kenalkah engkau siapa aku?" tanya Zaid bin Sanah. "Tidak," jawab Umar. "Akulah pendeta Yahudi Zaid bin Sanah."

"Engkau ini pendeta Zaid bin Sanah?," tanya Umar agak terkejut. "Ya," jawab Zaid bin Sanah ringkas.

"Kenapa engkau berbuat demikian rupa terhadap Rasulullah s.a.w? Engkau berlaku begitu kasar dan begitu menghina?," Tanya Umar lagi.

Zaid bin Sanah menjawab, "Hai Umar, segala tanda kenabian yang aku dapati dalam kitab Taurat sudah aku temui pada diri Rasulullah itu. Selain dua perkara yang aku sembunyikan dan tidak aku sampaikan kepada Rasulullah yaitu  perasaan sayang santunnya selalu mengalahkan perasaan marahnya. Makin marah orang kepadanya, makin bertambah rasa kasih sayangnya terhadap orang yang marah itu.

Dengan kejadian itu hai Umar yang sengaja aku lakukan untuk membuktikan apakah beliau seorang yang diceritakan dalam taurat dan sudah mengetahui dan melihat sendiri kedua sifat itu terdapat pada diri Muhammad itu. Aku bersumpah di depanmu hai Umar, bahwa aku sungguh-sungguh suka dan ridha dengan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabi dan panutanku."

Umar dan Zaid bin Sanah pun kembali menemui Rasulullah s.a.w. Setelah berhadapan dengan Rasulullah s.a.w, lalu berkata Zaid bin Sanah,langsung berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat "Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya."

Setelah keislamanya Zaid bin Sanah turut berjuang dan bertempur bersama Rasulullah s.a.w dan kaum Muslimin hampir di setiap medan perang dan akhirnya mati syahid di medan Perang Tabuk.

Demikianlah caranya bagaimana seorang pendeta Yahudi yang dihormati dan disegani kaumnya yaitu Zaid bin Sanah,mendapatkan petunjuk keislaman dan beriman kepada Allah dan  Rasulullah s.a.w dan bersumpah akan membela Islam sehingga akhir hayatnya. Subhanallah

Bernard Abdul Jabbar

0 Komentar