Orang yang Bangkrut di Akherat

Rabu, 28 November 2012 - 11:26 WIB | Dilihat : 23740
Orang yang Bangkrut di Akherat

Suatu ketika Rasulullah saw. Bertanya kepada sahabat-sahabatnya, "Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak mermliki harta benda".

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakatnya dan pahala hajinya, tapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain, Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang di dzaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal sholehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka."

Kata Rasulullah selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.” (HR Muslim no. 6522, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)

Mungkin sebagian kita sudah tau, bahwa puasa, zakat, haji (umrah), shalat dan berbagai ibadah kita serta taubat kita bisa menghapus dosa-dosa kita, tapi tidak semua dosa. Kenapa? Karena Ibadah dan taubat itu hanya bisa menghapus dosa kita kepada Allah SWT dan belum bisa menghapus dosa kita kepada sesama manusia. Lalu bagaimana kita menghapus dosa kita kepada sesama manusia? Tentu kita harus minta maaf akan kesalahan kita kepada orang yang kita dzalimi. Begitu pun hutang, apabila sampai ajal kita hutang kita kepada orang lain ada yang belum terbayar, maka itu bisa menjadi ganjalan kita di akhirat.

Lalu dijelaskan bahwa apabila sampai ajal kita tiba kita belum sempat minta maaf pada orang yang kita dzalimi atau pun belum sempat membayar hutang kita, maka di akhirat kita harus membayar itu semua. Lalu dengan apa kita harus membayar  pada saudara kita yang kita dzalimi atau hutangi? Tentu tak bisa lagi dengan harta, karena kita mati tidak membawa harta sepeser pun. Ya, kita hanya membawa amal baik dan amal buruk kita di akherat.

    “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dalam Tarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, hal. 225, bab Haram berlaku dhalim].

Sehingga, kedzaliman dan hutang kita, akan kita bayar ke saudara kita dengan amal baik yang kita punya. Semakin banyak kedzaliman dan hutang kita yang belum dimaafkan atau kita bayarkan ke saudara kita, semakin banyak amal kita yang kita berikan ke saudara kita. Dan inilah yang bisa menjadikan seseorang itu bangkrut di akhirat. Siapakah orang yang bangkrut di akhirat itu?
 
Yaitu orang-orang yang amal baiknya habis tak bersisa, karena digunakan untuk membayar kedzaliman atau pun hutang-hutangnya kepada saudaranya di dunia yang belum sempat terbayarkan. Dan apa yang lebih buruk dari habisnya amal baik itu? Yaitu yang lebih bangkrut lagi, teramat sangat bangkrut, yaitu apabila amal baiknya telah habis, padahal kedzalimannya dan hutang-hutangnya belum terbayarkan semua. Dan apa yang akan terjadi? Yaitu amal buruk saudaranya yang dia dzalimi atau hutangi, akan diberikan kepada dia. Naudzubillahi minzalik.

Berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang telah disebutkan tadi, beliau menjelaskan kepada kita bahwa di antara hal-hal yang dapat menyebabkan kebangkrutan di akherat itu ada lima perkara, yaitu:

Pertama : mencela, menghina dan mencaci maki orang lain.

Allah SWT memberikan kepada kita ni’mat Lidah/lisan agar dipakai untuk berzikir kepada Allah, dan membaca ayat-ayat suci Allah serta untuk selalu berkata yang baik. Maka janganlah kita begitu mudah mencela, menghina dan mencaci maki serta menyakiti hati orang lain dengan lidah kita. Karena apabila orang lain sudah dilukai hatinya, maka akan sulit untuk diobati. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah untaian kata-kata hikmah yang berbunyi: “Kalau pedang lukai tubuh, banyak obat bisa didapat. Tapi kalau lidah lukai hati, kemana obat hendak dicari”.

Kedua: menuduh atau menfitnah orang lain.

Fitnah atau tuduhan yang tidak benar yang dilontarkan kepada orang lain, dapat menyebabkan orang tersebut menderita dan terkena hukuman atas kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya. Dia hanya menjadi kambing hitam korban fitnah, orang lain yang berbuat kesalahan tapi dia yang menanggung hukumannya. Orang lain yang makan nangkanya, dia yang kena getahnya. Sungguh kasihan nasib orang yang terkena fitnah, betapa menderitanya dia. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Sebagaimana Allah tegaskan di dalam al-Qur’an: “Fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan ( QS : Albaqarah: 191) “Fitnah itu lebih besar dosanya daripad membunuh.” ( QS : Albaqarah: 217)

Ketiga: merampas hak milik orang lain.

Allah SWT melarang keras kita memakan harta sesama kita dengan jalan yang bathil (tidak hak). Sebagaimana Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang bathil.”

Oleh karena itu, apabila ada diantara kita yang terlanjur telah mengambil hak milik orang lain, maka segeralah kembalikan kepada pemiliknya yang sah. Karena hal ini merupakan hak adami, artinya kalau kita memakan harta orang lain dan kita bertaubat kepada Allah, maka Allah belum mau menerima taubat kita kalau kita belum menyelesaikan urusan kita terhadap sesama manusia, terkait dengan hak miliknya yang kita ambil, maka harus kita kembalikan kepadanya.

Keempat: melukai dan menumpahkan darah bahkan membunuh orang lain.

Kalau kita perhatikan fenomena yang terjadi sekarang ini, betapa nyawa manusia begitu murahnya. Terkadang hanya karena masalah yang sepele, dan uang yang tidak seberapa jumlahnya, nyawa bisa melayang. Begitu mudahnya orang menghabisi nyawa orang lain. Begitu gampangnya orang membunuh orang lain. Seakan nyawa manusia tidak ada harganya, sama seperti nyawa binatang. Padahal Allah melarang keras hambanya membunuh dan menghabisi nyawa orang lain kecuali dengan jalan yang hak, yang dibenarkan dalam syariat agama islam. Seperti hukuman Qishash bagi orang yang membunuh.

Kelima: memukul dan menganiaya orang lain.

Allah memberikan ni’mat berupa anggota badan seperti tangan dan kaki kepada kita tentunya untuk mempermudah kita beribadah kepada Allah. Maka janganlah sampai kita menyakiti dan menganiaya orang lain dengan tangan dan kaki kita. Karena setiap satu pukulan yang kita layangkan atau tendangan yang kita hujamkan kepada orang lain, mengakibatkan kita terkena Diyat dengan konsekwensi kita mendapatkan hukuman setimpal dengan kejahatan yang kita lakukan. Tangan dengan tangan, mata dengan mata, hidung dengan hidung, kuping dengan kuping.

Itulah di antara hal-hal yang dapat menyebabkan kita mengalami kebangkrutan di akheratnanti. Oleh karena itu hendaklah kita waspada dan lebih berhati-hati dan bertindak, jangan sampai kita berbuat dzalim terhada orang lain.

Dari uraian singkat di atas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa: berapapun banyaknya ibadah kepada Allah yang kita lakukan di dunia ini, tetapi kalau kita suka berbuat dzalim kepada orang lain, maka kedzaliman yang kita perbuat itu sedikit-demi sedikit bisa mengikis habis pahala amal ibadah dan kebaikan kita, sehingga kita menjadi orang yang merugi dan bangkrut di akherat.

Allah SWT, memerintahkan kita agar selalu berbuat baik kepada orang lain, karena kebaikan itu akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri, begitu pula sebaliknya. Sebagaimana firman Allah: Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu akan kembali kepada dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itupun akan kembali kepda diri kamu sendiri.”

Dan di dalam ayat lain Allah nyatakan: “Balasan dari suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tapi barang siapa yang memberi maaf dan berbuat baik, maka ia akan mendapatkan pahala dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat dzalim.”

 Senada dengan ayat tersebut di atas, Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Kebaikanitu tidak akan sirna sia-sia, dan dosa juga tidak akan dilupakan, dan Allah yang memberi balasan tidak akan mati. Jika kamu berbuat begitu, maka kelak kamupun akan diperlakukan begitu pula.”


Red     : Agusdin
Sumber     : -  Kumpulan Tausyiah Islam/ Dhony Wardhana
                      - Masjid UID/ Taufik Hidayat MA   

0 Komentar