altH. Bernard Abdul Jabbar, M.Pd
DPP Hizb Dakwah Islam


”Jika aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib, kini aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia, yaitu Musailamah Al Kadzdzab.”

Kisah seorang sahabat Rasulullah Saw, yang memiliki latar belakang kehidupan yang sangat keras dan liar. Ia berasal dari negeri yang jauh dari Mekkah, Habsyah/Ethiopia, Afrika. Ia bernama Wahsyi bin Harb. Seorang budak belian berperawakan kekar dan berkulit hitam. Ia berprofesi sebagai pembunuh bayaran. Ahli dalam menombak, tak ada satu sasaran pun yang meleset dari bidikannya.

Peristiwa ini berawal dari kekalahan kaum kafir Quraisy di perang Badar pada tahun ke 2 H. Perasaan dendam seorang wanita isteri pembesar Quraisy, Abu Sufyan, yaitu Hindun. Banyak saudaranya yang terbunuh di medan Badar. Ia pun berusaha membalas sakit hatinya terhadap saudara-saudaranya yang tewas dalam perang tersebut. Maka ia pun berusaha untuk membunuh Hamzah ra. dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, bernama Wahsyi bin Harb.

Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya untuk merencanakan pembunuhan terhadap Hamzah maka pada saat terjadi peperangan Uhud kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Wahsyi. Mencari celah dan kesempatan yang baik untuk membunuh Hamzah.
Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.

Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rasulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.

Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh Islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.
Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba' bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.

Masuk Islamnya Wahsyi Bin Harb

Dari Ibnu Abbas r.huma, ia berkata, "Rasulullah Saw. pergi mendatangi Wahsyi bin Harb pembunuh Hamzah r.a. untuk mengajaknya masuk Islam. Maka Wahsyi menghampiri beliau dan berkata, "Wahai Muhammad, bagaimana engkau akan mengajakku masuk Islam sedangkan engkau sendiri pernah berkata bahwa seorang pembunuh, musyrik, dan pezina, ia telah terjatuh ke dalam dosa dan akan menerima azab yang berlipat ganda serta kekal di neraka dalam keadaan hina. Sedangkan semua itu telah aku lakukan. Apakah menurutmu ada sedikit keringanan bagiku atas dosa-dosaku itu?" Sebagai jawabannya, Allah langsung menurunkan ayat:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Furqan [25] : 70)

Mendengar ini, Wahsyi berkata, "Wahai Muhammad, persyaratan ini (taubat, beriman dan beramal shaleh) amat berat, tidak mungkin aku dapat memenuhinya." (Atas keberatan Wahsyi ini), Allah Swt. menurunkan ayat:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. an-Nisa [4] : 48)

Maka Wahsyi berkata, "Wahai Muhammad, aku pikir bahwa ampunan ini hanya bagi orang yang dikehendaki Allah, sedangkan aku tidak mengetahui apakah aku ini diampuni atau tidak oleh Allah? Apakah selain ini juga masih ada keringanan?" Lalu Allah Swt. menurunkan ayat:

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. az-Zumar [39] : 53)

Kemudian Wahsyi berkata, "Kalau yang ini aku bisa." Maka dia pun masuk Islam. Orang-orang pun bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, kami juga telah melakukan dosa yang sama seperti yang telah dilakukakan oleh Wahsyi, apakah ayat ini berlaku untuk kami juga?" Nabi Saw. menjawab, "Ya, ayat ini untuk setiap orang Islam." (Hr. Thabrani. Juga al-Haitsami dalam kitabnya jilid VII halaman 100)

Ibnu Abbas r. huma berkata, "Sebagian orang musyrik banyak melakukan pembunuhan dan banyak melakukan perzinaan. Lalu mereka datang ke hadapan Rasulullah dan berkata, "Sesungguhnya yang engkau katakan dan engkau ajak kami kepadanya benar-benar suatu perkara yang baik, seandainya engkau beritahukan pada kami mungkin kejahatan-kejahatan yang telah kami lakukan itu ada kifaratnya (denda untuk menghapusnya)?" Atas hal ini turun ayat:

“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (Qs. al Furqan [25] : 68)

Juga turun ayat:

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Qs. az-Zumar [39] : 53)

Itulah kisah seorang sahabat, Wahsyi bin Harb. KeIslamannya telah membawanya kepada kesempurnaan keimanan. Ia pernah mengatakan, ”Jika aku telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib, kini aku telah membunuh seburuk-buruknya manusia, yaitu Musailamah Al Kadzdzab."

"> Wahsyi bin Harb: Pembunuh Sebaik-baik Manusia dan Seburuk-buruk Manusia
0 Komentar