Perang Salib di Masa Shalahuddin Al-Ayyubi

Selasa, 26 Desember 2017 - 22:36 WIB | Dilihat : 976
Perang Salib di Masa Shalahuddin Al-Ayyubi Ilustrasi: Sultan Shalahuddin Al Ayyubi

Perang Salib bukanlah satu peperangan yang singkat dan khusus, sebagaimana lazimnya suatu peperangan. Peperangan ini merupakan satu rangkain dari pertikaian anatara Barat dan Timur (Nasrani dan Islam), pertikaian kaum Muslimin dan kaum Nasrani telah dimulai semenjak kekuatan Islam mulai menguasai seluruh Jazirah Arbaia. Titik awalnya adalah saat jatuhnya Qadisyiyah pada tahun 16 H.  
    
Faktor keagamaan memainkan peranan penting sebagai alasan peletusan kepada Perang Salib. Kronologi sejarah menyatakan bahwa kehadiran Islam di tanah suci Kristen telah bermula sejak penaklukan Palestina oleh tentara Islam Arab pada abad ke-7. Bahkan, orang Eropa di Barat itu sendiri tidak begitu peduli dengan kehilangan dengan kehilangan Jerussalem disebabkan oleh kesibukan mereka dalam menghadapi serangan orang Islam.
    
Nama asli beliau ialah Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi. Beliau biasa dikenal dengan julukannya yaitu, Shalahuddin Ayyubi atau Saladin atau Salah ad-Din, Beliau terkenal di dunia Muslim dan Kristen karena kepemimpinan, kekuatan militer, dan sifatnya yang ksatria dan pengampun pada saat ia berperang melawan tentara Salib. Ketika beliau lahir di muka bumi ditandai dengan kabar buruk yang tidak baik bagi ayahnya, dikarenakan ayahnya beliau kehilangan kekuasaan dan jabatan atas benteng, dan juga kehilangan Negeri, karena mereka sekeluarga di usir dari wilayah itu.
    
Ayah beliau mengatakan: “Anak itu lahir dalam keadaan yang benar-benar menyedihkan. Saya benar-benar merasa sial dengan kelahirannya. Dia lahir di malam saya kehilangan jabatan dan kekuasaan atas benteng Takrit. Di saat kami terusir keluar dari negeriku.” Ayah Shalahuddin benar-benar sangat menyesali kelahiran lelaki itu. Tetapi berbeda dengan kawan-kawan ayah beliau justru berpendapat lain, mereka berkata : “... Kurang tepat perkataanmu itu kawan. Kami justru melihat sebaliknya, firasat kami mengatakan, kelahiran anak ini tidak akan membawa kesialan bagimu. Percayakah engkau? Anak ini kelak akan menjadi seorang raja yang agung, namanya baik dan terkenal. Bahkan suaranya akan bergaung ke seluruh bumi dan menjulang ke angkasa..”
    
Jika ayah beliau mengetahui bahwa ramalan itu benar-benar terbukti, pastilah beliau tidak akan pernah menyesali kelahiran peristiwa saat itu, ternyata memang, Shalahuddin menjelma menjadi seorang pahlawan besar Islam yang menjadi kebanggaan baik timur maupun di barat. Benar suatu hal yang menyenangkan.
    
Dari usia belasan tahun Shalahuddin selalu bersama ayahnya di medan pertempuran melawan tentara Salib atau menumpas para pemberontakan terhadap pemimpinnya Sultan Nuruddin Mahmud. Ketika Nuruddin berhasil merebut kota Damaskus tahun 549 H/1154 M maka keduanya ayah dan anak ini telah menunjukkan loyalitas yang tinggi kepada kepemimpinannya. Dalam tiga pertempuran di Mesir bersama-sama pamannya, Asaduddin Syirkuh melawan Tentara Salib, beliau dan pamannya berhasil mengusir mereka dari Mesir pada tahun 559-564 H. 1164-1168 M.
    
Sultan Shalahuddin ingin merebut Kota Yerussalem yang mana beliau mengajak Tenatara Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, Kaum Salib mengira bahwa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menyangka bahwa orang-orang Kristen itu akan mengkhianati perjanjian itu, maka hal ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Beliau telah membuat persiapan secukupnya, ternyata dugaan Sultan Shalahuddin tidak meleset, baru sebentar mendatangani perjanjian tersebut, Kaum Salib telah mangadakan pelanggaran.  Penguasa Nasrani renanud atau Count Rainald de Chatillon penguasa Benteng Akkra menyerang suatu kafillah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.
    
Maka Sultan Shalahuddin, segera bergerak melancarkan serangan kepada Pasukan Salib yang dipimpin oleh Count Rainald de Chatillon dan Baldwin IV Raja Yerussalem, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir tertawan. Perang ini terkenal dengan nama Battle of Montgisard yang terjadi pada tahun 1177. Beliau mengadakan gencatan senjata dan kembali ke markasnya serta menyusun kekuatan yang lebih besar. Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan, adalah Count Rainald de Chatillon yang bergerak dngan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di Laut Merah dan sisa pasukan Count Rainald kembali ke Yerussalem. Dalam perjalannya, mereka berjumpa dengan satu rombongan kafillah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorag saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berpikir panjang, Count Rainald dan prajuritnya menyerang kfilah tersebut dan menahan mereka, termasuk saudara perempuan Shalahuddin.

Sultan sangat marah terhadap pengkhianatan genjatan senjata itu dan mengirim utusan ke Yerussalem agar semua tawanan di bebaskan. Tapi mereka ridak memberikan jawaban, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum salib yang sering mengkhianati janji itu dengan mengepung kota Tiberias. Maka terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin. Pasukan Salib dipimpin oleh Rainald de Chatillon dan Raja Guy de Lusignan, Raja Yerussalem sesudah kematian Baldwin IV(1185). Seluruh Pasukan Salib hancur binasa dan hanya tinggal tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri, Pasukan Salib yang tertawan diperlakukan dengan sangat baik oleh Shalahuddin, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh Tentara Salib satu abad sebelumnya.

Setelah pertempuran ini, dua pemimpin Tentara Salib, Count Rainald de Chatillon dan Guy de Lusignan dibawa kehadapan Sultan Shalahuddin, Beliau menghukum mati Rainald de Chatillon yang telah begitu keji karena kekejamannya yang hebat yang ia lakukan kepada orang-orang Islam dan penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian Guy de Lusignan dilepaskan untuk pergi, karena ia tidak melakukan kekejaman yang serupa. Kekalahan tentara Salib ini berdampak besar terhadap kekuatan Tentara Islam. 


[Muhammad Havis Haqqi R]

Sumber:
Syalabi, Mahmud. 1993. Shalahuddin Al-Ayyubi. Solo: CV Pustaka Mantiq
Armstrong, Karen. 2001. Perang Suci. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta

0 Komentar