Bolehkah Ulama Mendatangi Penguasa?

24 Juli 05:23 | Dilihat : 972
Bolehkah Ulama Mendatangi Penguasa? Ilustrasi

Para ulama salaf memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi penyelewengan yang dilakukan penguasa. Tergantung pada keadaan dan fakta penguasa tersebut, baik dari sisi keadilan maupun kezaliman mereka. Juga tergatung pada sejauh mana ketertarikan mereka terhadap Islam dan kebijakan mereka dalam menerapkan syariat Islam. Lalu tergantung pula dengan sejauh mana penyelewengan dan penentangan mereka terhadap syariat Islam. 

Terhadap pemimpin yang adil, yang berkemauan keras untuk menerapkan syariat Islam, tulis Syaikh Abdul Azis Al Badri dalam bukunya “Al Islam Bainal Ulama wal Hukkam”,  para ulama tidak berselisih paham tentang bolehnya menghadap dan mendatangi majelis-majelis mereka. Kalau tidak dikatakan sunnah bahkan wajib, dengan alasan karena dengan menghadap mereka dapat membantu pemimpin itu untuk menegakkan keadilan, melanggengkan eksistensinya, merealisasikan kebaikan dan melanggengkannya untuk membangun umat Islam. Hal ini sesuai dengan seruan Allah Swt dalam Surat Al Maidah ayat kedua. 

Sebaliknya, lanjut Syaikh Al Badri, terhadap para pemimpin yang zalim, yakni penguasa yang menentang hukum atau syariat Islam baik sebagian ataupun seluruhnya dalam pemerintahannya, namun di waktu yang sama dia menyeru kepada keimanan dan keislaman, membaca syahadat, dan melaksanakan ibadah bersama umat Islam, terhadap hal ini Imam Al Ghazali, membagi menjadi tiga sikap:

Pertama, ulama mendatangi penguasa dan langsung menegurnya bahwa tindakan itu sangat tercela dalam syariat, sesat dan melenceng dari ajaran Islam. Lalu dipaparkan dalil-dalil syariat baik Alquran maupun hadits yang mencela perbuatan ini, lalu dipahamkan kepadanya mana yang haram, mana yang mubah dan mana yang makruh dari perbuatan orang itu yang sejelas-jelasnya. 

Kedua, penguasa menghadap seorang ulama untuk berkunjung, maka kedatangannya harus dijawab dengan salam. Boleh juga dihormati dengan berdiri dan memuliakannya, karena tidak diharamkan untuk melakukan itu, karena orang yang berilmu dan beragama berhak untuk dihormati, sedangkan orang zalim berhak untuk dijauhi. Maka penghormatan harus dibalas dengan penghormatan, salam dijawab dengan salam. Kemudian setelah mereka bertemu, ulama itu harus menasehati dan menunjukkannya ke jalan yang benar jika dia tahu jalan yang sesuai dengan syariat. 

Ketiga, ulama menghindari penguasa sehingga dia tidak melihat mereka dan mereka tidak melihatnya. Ini wajib dilakukan jika itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan berkeyakinan bahwa mereka benar-benar zalim yang kezalimannya sulit diubah. Sementara dia tidak senang bila kezaliman itu terus berlangsung, tidak mau memujinya dan tidak banyak mengetahui tentang keadaan mereka yang sebenarnya. 

[shodiq Ramadhan]

0 Komentar