Pesan Ibnu Khaldun untuk Tidak Bermegah-megahan

23 Maret 17:04 | Dilihat : 851
Pesan Ibnu Khaldun untuk Tidak Bermegah-megahan Ilustrasi

Sejarawan Ibnu Khaldun pernah berkomentar di kitab Muqaddimahnya, peradaban umat manusia sesungguhnya memiliki kelemahan yang pasti, yakni selalu berproses ke arah keruntuhan ketika sudah mencapai “fase tenang”. Kapan “fase tenang” itu? Saat para pembesar negeri itu telah bermegah-megahan serta bermewah-mewahan. Fase di mana sebuah peradaban telah memuncak, materi berkelimpahan di mana-mana, baik dari penarikan pajak, hasil bumi negara dan lain-lainnya. Bisa jadi pula fase seperti ini hanya dinikmati segelintir orang yang berkuasa dan kaya raya. Selain merusak jiwa manusia, kemewahan dan kemegahan merusak pula ashabiyah yang diyakininya sebagai ikatan fanatisme solidaritas sosial antar sesama manusia di dalam sebuah peradaban. 

Ikatan solidaritas sosial merupakan penopang peradaban itu sendiri. Ibnu Khaldun memandang, bahwa peradaban punya kecenderungan bergerak dan berproses ke arah kemewahan serta kemegahan. Nah itu menjadi racun bagi peradaban itu sendiri, lantaran kehidupan bermewah-mewahan dan bermegahan membawa kehancuran. 

Allah SWT berfirman: “Bilamana Kami berkehendak menghancurkan sebuah kota (peradaban), Kami suruh (jadikan) orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan (al-mutrafun) dan melampaui batas, tetapi mereka durhaka, maka pantaslah mereka menerima adzab kemudian Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.” (QS Al-Israa:16) 

Rupa-rupanya sejarawan yang sempat menjadi dosen Universitas Al-Azhar Kairo ini meyakini bahwa sumber kerusakan adab dan akhlak (moral) adalah penyebab kehancuran. Kehancuran peradaban sendiri berawal dari kesombongan, bermewah-mewahan dan bermegah-megahan. Dalam firman Allah di atas, bahkan pelaku utamanya adalah orang-orang kaya dan berkedudukan di dalam suatu negeri. Tidak ada satupun peradaban yang selamat dari ‘penyakit’ semacam ini, tak terkecuali pula peradaban Islam di masa belakangan. 

Solusinya, peradaban dengan segala kekuasaan dan kejayaannya wajib senantiasa diatur dan dilandasi syariah Allah, terus-menerus. Keharusan beradab dan menegakan syariah menjadi solusi yang tiada bisa ditawar. Peradaban-peradaban besar di masa lalu merosot dan jatuh utamanya karena kecongkakan, bermegah-megahan dan bermewahan. Bahkan banyak para sejarawan dan intelektual mempercayai: peradaban yang meyakini berada di puncak kejayaan dan kedigdayaan sesungguhnya telah berada diambang kemerosotan dan kejatuhannya. 

Rasulullah SAW pun pernah bersabda: "Jika kalian telah sibuk dengan dirham dan dinar, berjual beli ‘inah (mengandung riba), mengikut ekor sapi (sibuk bertani), dan meninggalkan jihad, Allah akan memasukan kalian ke dalam kehinaan, Dia tak akan memperdulikan kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad). 

Sabda lain beliau SAW “kalian dihinggapi penyakit Al-Wahn, yaitu kecintaan pada dunia dan takut mati (dalam memperjuangkan Islam)” (HR Abu Dawud dan Ahmad). Nampaknya hadits ini membuat kita percaya bahwa pandangan kemerosotan dan kejatuhan sebuah peradaban dari Ibnu Khaldun adalah benar.

Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam

1 Komentar