Kisah Haru Asiyah dan Siti Masyitoh, Dua Wanita Penggenggam Iman

17 Maret 21:54 | Dilihat : 2545
Kisah Haru Asiyah dan Siti Masyitoh, Dua Wanita Penggenggam Iman Ilustrasi

Tulisan ini khusus mengenang mereka, para wanita yang menorehkan iman dengan darah dan nyawanya sendiri. Para wanita yang membuat kecantikan fisik, kekayaan dan kedudukan dunia jadi tak berarti. Ditukarnya semua itu dengan keharibaan Ilahi, keridhoanNya untuk menuju SurgaNya yang kekal abadi. Para wanita yang disiksa dan terbunuh lantaran beriman kepada Allah. Dalam hati dan jiwa para wanita mulia ini, hanya ada memurnikan penghambaan kepada Allah ta’ala. Kendatipun simbah darah menyembur dan tubuh pun berhambur.

Allah Yang Maha Hidup telah mengingatkan kita akan kedengkian dan kejahatan orang-orang kafir kepada kaum Mukmin. Sebagaimana tertera di dalam Al-Qur’an surat Al-buruj ayat delapan:

 ومَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Dan tidaklah mereka menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (QS Al-Buruj: 8)

Walau pun ayat ini berkisah tentang ashhabul ukhdud, namun maknanya meliputi kaum Mukmin sepanjang masa. Baik umat Muhammad Rasulullah SAW maupun yang jauh sebelumnya. Tuturan indah Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menyingkap ayat ini, “Orang-orang Mukmin tidak memiliki kesalahan terhadap mereka, kecuali hanya karena imannya kepada Allah Yang Maha Perkasa (yang dianggap tindak kejahatan), tidak akan tersia-siakan orang-orang yang berlindung di bawah kokoh naunganNya, Dia Maha Terpuji dengan segala perbuatan dan firmanNya, dalam syariat maupun takdirNya.”

Kisah yang abadi tak lekang ditelan zaman. Mereka hidup di dalam ayat-ayatNya. Salah satu nama yang diabadikanNya adalah Asiyah binti Muzahim, atau lebih dikenal dengan Asiyah istri Fir’aun. Dalam kitab _Shahihain_ diriwayatkan Abu Musa Al-Asy'ari, dari Nabi SAW yang bersabda:

"كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيلد، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيد عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ"

"Banyak dari kaum lelaki yang mencapai kesempurnaan, tetapi tiada yang mencapai kesempurnaan dari kaum wanita selain Asiah binti Muzahim bekas istri Fir’aun, Maryam binti Imran, dan Khadijah binti Khuwalid. Dan sesungguhnya keutamaan Aisyah di atas kaum wanita sama dengan keutamaan makanan Sarid di atas makanan lainnya."

Imam Abu Ja'far Ar-Razi dan Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari telah meriwayatkan dengan bersanad kisah Asiyah istri Fir'aun yang disiksa suaminya sendiri di bawah terik matahari. Asiyah disiksa lantaran beriman kepada Allah. Ia tidak mengakui suaminya itu sebagai Tuhan. Kisah pun berawal dari istri bendahara Fir’aun yang juga adalah tukang sisir istana. Orang Indonesia biasa menyebut istri bendahara Fir’aun sekaligus tukang sisir istana ini sebagai Siti Masyithoh. Masyithoh sendiri bukan nama, tetapi istilah bahasa Arab untuk tukang sisir.

Awalnya bermula saat Masyithoh sedang duduk menyisiri rambut anak perempuan Fir'aun seperti aktivitasnya sehari-hari. Suatu hari, sisir yang digunakannya itu terjatuh, dan ia pun spontan mengucap, “Celakalah orang yang kafir kepada Allah.”

Maka anak perempuan Fir'aun itu bertanya kepada Masyithoh, “Apakah engkau punya Tuhan selain ayahku?”

Masyithoh pun mencoba menjawab dengan mantap, “Tuhanku, Tuhan ayahmu dan Tuhan segala sesuatu ialah Allah.”

Seketika itu pula, anak perempuan Fir'aun itu menampar dan memukul Masyithoh. Ia tahu posisinya sebagai anak raja, ia pun lantas mengadukan hal itu kepada ayahnya.

Sebagai manusia yang mengaku-ngaku Tuhan, Fir'aun langsung memerintahkan agar Masyithoh ini ditangkap, meskipun wanita tersebut adalah istri bendahara kerajaan yang lama mengabdi. Fir’aun dengan angkuh bertanya, “Apakah engkau menyembah Tuhan lain selain aku?”

“Ya. Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu ialah Allah, dan hanya kepadaNya aku menyembah,” tegas Masyithoh dengan tenang.

Mendengar jawabannya itu sang penguasa Mesir Kuno ini murka. Lalu Fir'aun menyiksanya dengan mengikat kedua tangan dan kedua kakinya pada pasak-pasak. Hal ini juga sengaja dijadikan tontonan warga Mesir agar mereka tahu apa akibatnya kalau macam-macam dengan Fir’aun. Para algojo istana pun melepaskan ular-ular berbisa untuk mengerumuni tubuh Masyithoh. Penyiksaan itu berlangsung lama.

Suatu hari Fir’aun datang melihat keadaannya dan berkata, “Apakah engkau hendak kembali (murtad) dari keyakinanmu itu?” Tetapi Masyithoh itu justru menjawab: “Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu ialah Allah.”

Fir'aun merupakan raja lalim yang berpengalaman menyiksa orang. Ia sadar akan keteguhan Masyithoh. Fir’aun pun mengancam akan menyiksa dan membunuh anak-anak Masyithoh. Biasanya psikis keibuan para wanita akan terguncang dengan ancaman khas Fir’aun ini.

"Sungguh aku akan menyembelih anak laki-lakimu yang sulung di hadapanmu jika engkau tak mengindahkan apa yang kuperintahkan,” ancam pria yang dianggap titisan Dewa Matahari dalam keyakinan Mesir Kuno ini.

“Laksanakanlah apa yang ingin engkau putuskan,” ujar Masyithoh, ini bukan jawaban seorang ibu-ibu biasa, ini adalah jawaban wanita langit. Penghambaan penuh dan tawakkal kepada Rabb semesta alam. Jawaban semacam inilah yang membuat Fir’aun heran.

Akhirnya Fir’aun pun menyembelih anak laki-laki Masyithoh, di hadapan ibunya sendiri. Allah Maha Penyayang, tidak lama setelah wafat ruh anak laki-lakinya menyampaikan berita gembira kepada ibunda seraya mengatakan:

“Duhai Ibu, bergembiralah, sesungguhnya bagimu di sisi Allah ada pahala yang besar,” hiburan dari Rabbul ‘Izzah inilah yang membuat Masyithoh tetap teguh dan bersabar dalam menghadapi siksaan.

Tidak cukup dengan penyiksaan itu, di hari lain Fir’aun datang lagi. Ia mengancam akan menyiksa dan membunuh anak Masyithoh yang lain. Disembelih lagi anaknya di hadapan sang ibu, Masyithoh tetap tegar seperti sebelumnya. Masyithoh pun menjawab dengan kata-kata yang sama. Kemudian Fir'aun menyembelih lagi putranya yang lain di hadapannya. Lagi-lagi keajaiban datang, ruh anaknya yang baru saja terbunuh menyampaikan berita gembira kepada sang ibunda seraya berkata, “Duhai ibu, bersabarlah, karena sesungguhnya bagimu ada pahala yang besar sekali di sisi Allah.”

Darah telah lama bersimbah, jasad telah terkoyak. Siksaan demi siksaan selama berhari-hari akhirnya membuat jasad Masyithoh terbujur kaku. Ia wafat. Wanita biasa kemungkinan akan mati pada hari pertama siksaan. Pada Allah jualah segala sesuatu kembali. Allah Yang Maha Hidup dan Maha Memiliki Kehidupan, mengambil nyawa Masyithoh. Allah jualah yang menampakkan pahala, kedudukan dan kemuliaan Masyithoh kepada Asiyah. Keimanan Asiyah si wanita yang cantik jelita ini pun bertambah kuat.

Saat Masyithoh disiksa, diam-diam Asiyah istri Fir’aun ternyata mendengar pembicaraan Masyithoh dengan ruh kedua putranya. Akhirnya Asiyah pun memutuskan mantap beriman.

Peristiwa kemenangan Nabi Musa dan Nabi Harun dalam menghadapi para tukang sihir istana menjadi wasilah tertampaknya keimanan Asiyah di mata Fir’aun. Asiyah bertanya ke seorang pembesar istana, “Siapakah yang menang (dalam pertandingan itu)?”

Maka dikatakan kepada Asiyah, “Yang menang adalah Musa dan Harun.” Lalu ia mantap bersaksi dengan lantang, “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.”

Tidak kalah dengan Masyithoh, Asiyah pun Allah kuatkan menampakkan keimanannya. Setelah dipermalukan oleh keteguhan Masyithoh, ditambah lagi tukang-tukang sihirnya juga dikalahkan oleh Nabi Musa-Nabi Harun, makin bertambahlah angkara murka Fir’aun. Tentu ini menjadi guncangan psikis buat sang raja Mesir Kuno. Sekarang istrinya sendiri tidak mau menyembahnya. Fir’aun pun meminta pendapat para pembesar kerajaan, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Asiyah binti Muzahim?”

Para pembesar yang tak tahu perkara ini jelas memuji Asiyah. Ia permaisuri Fir’aun sendiri, bunga bangsa dan simbol kehormatan Mesir Kuno. Maka Fir’aun berkata kepada mereka, “Sesungguhnya dia sekarang menyembah selain aku!”

Mereka kaget, lalu berkata kepada Fir'aun, “Wahai paduka, kalau begitu hukum mati saja dia.”

Maka sama seperti Masyithoh sebelumnya. Asiyah ditangkap rezim suaminya sendiri. Asiyah diikat kedua tangan dan kakinya ke empat pasak. Asiyah berdo'a kepada Allah. “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga.” (QS At-Tahrim: 11)

Do'a ini pun diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. Mukjizat terbesar yang akan memandu umat manusia hingga akhir zaman. Allah sendiri yang mengabadikan do'a Asiyah.

Fir’aun yang menyaksikan ucapan Asiyah heran lantaran Asiyah malah tersenyum saat disiksa. Benar, Asiyah tersenyum karena Allah menampakkan rumahnya kelak di Surga, khusus untuk Asiyah.

“Tidakkah kalian heran dengan kegilaan Asiyah ini. Sesungguhnya kita sedang menyiksanya, namun dia malah tersenyum”, ujar Fir’aun kepada para pembesar kerajaan.

Peristiwa demi peristiwa yang disaksikan Fir’aun dan para pembesar memang pantas membuat mereka tertimbun dalam keheranan. Penyiksaan terhadap istrinya sendiri pun dijadikan tontonan menarik bagi raja lalim sepanjang masa ini. Jika sang raja Mesir Kuno itu sedang beranjak dari kursinya, maka para Malaikat menaungi Asiyah dengan sayap-sayap mereka.

Tubuh wanita Asiyah disiksa para algojo dengan beragam cara. Salah satunya ditimbun dengan batu besar yang diletakkan di atas dadanya. Tentu, sengatan matahari khas Mesir makin menambah siksaannya itu.

Tatkala Fir’aun pun mulai bosan, ia berpesan kepada para algojonya, “Carilah oleh kalian batu yang besar. Jika Asiyah tetap pada keyakinannya, lemparkanlah batu besar itu kepadanya, namun jika ia mencabut ucapannya itu, maka ia tetap menjadi istriku.”

Ketika kali ini para algojo mendatanginya, sang cantik jelita tetap teguh pada keimanannya. Asiyah menengadahkan wajahnya ke langit. Seraya melihat tempat tinggalnya kelak di surga, ia tetap teguh menggenggam kebenaran. Tatkala hendak dilemparkan batu besar ke tubuh Asiyah, ruh Asiyah dicabut dari jasadnya dan ia pun wafat dengan tenang. Barulah batu besar itu dihempaskan pada tubuhnya yang sudah tidak bernyawa. Tubuhnya hancur, berlumuran darah.

Keteguhan Masyithoh dan Asiyah menjadi pengokoh tersendiri bagi estafet risalah selanjutnya, tak terkecuali umat Rasulullah Muhammad SAW. Dua wanita yang mempersembahkan darah, tubuh dan jiwanya kepada Allah. Kisahnya laksana penegar bagi orang-orang beriman, khususnya wanita-wanita penggenggam risalah generasi berikutnya.

Kendati tubuh hancur, berlumur darah, keimanan mereka tiada luntur dan goyah. Allah menempatkannya di dalam JannahNya, ridha Allah senantiasa tercurah kepadanya.

Allah Sang Maha Hidup telah berjanji, “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalanKu, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik” (QS Ali Imran: 195)

Wallahu’alam.

Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam

0 Komentar