Kobarkan Semangat Kaum Muslimin untuk Berjihad

Minggu, 16 Oktober 2016 - 11:05 WIB | Dilihat : 5244
Kobarkan Semangat Kaum Muslimin untuk Berjihad Bung Tomo, pahlawan nasional
 
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ ۚ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيلًا

“Dan berperanglah kalian di jalan Allah, kalian tidak dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri. Kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang kafir itu. Allah sangat besar kekuatanNya dan sangat keras siksaNya.” (QS An-Nisaa: 84)
 
Ayat ke-84 dari surat An-Nisaa ini mewajibkan kaum Muslimin agar mengobarkan semangat jihad fii sabilillah atau berperang di jalan Allah, sebuah ayat yang menunjukkan izzah, kekuatan, keberanian dan kejantanan khas umat Rasulullah SAW.
 
Menurut Syaikhul Mujahid Abdullah Azzam rahimahullah ayat ini berisikan dua perintah: pertama, seorang Muslim diperintahkan untuk berperang walaupun ia sendirian di medan perang. Kedua, seorang Mukmin harus mengobarkan semangat untuk berperang di mana pun ia berada.
 
Kedua ayat ini saling berkaitan karena: tegak dengan mengobarkan semangat perang, tegak melalui dorongan dan motivasi, tegak melalui kerinduan akan kemenangan Islam dan mendapat mati syahid serta ghirah (gairah) untuk mendapatkan itu semua. Jihad memasang pelananya di atas manusia yang merindu, di atas jiwa manusia yang mencari kematian (syahid). Demikian dituturkan dengan gaya bahasa yang indah oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam kitab Tarbiyah Jihadiyah vol.2.
 
Dalam konteks Indonesia, kita mengingat figur Bung Tomo yang mengobarkan semangat jihad dan takbir warga Surabaya dan ‘arek-arek Suroboyo’ melawan kafir Belanda dan sekutu pasca kemerdekaan Indonesia, di mana Belanda masih saja ‘penasaran’ untuk menjajah negeri Indonesia. Begitu pula Ustaz Jenderal Soedirman yang berperang gerilya dengan spirit Islam serta kecintaannya pada umat, juga melawan penjajah kafir Belanda dengan landasan jihad Islam.
 
Lebih dahulu lagi sebelum Pergerakan Nasional, pernah dicontohkan pahlawan-pahlawan Muslim Nusantara seperti Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Mujahidah Tjut Njak Dien hingga Mujahidah Tjut Meutia. Semua berperang melawan penjajah kafir.
 
Imam Ibnu Katsir, ulama besar dan ahli tafsir kenamaan, menafsirkan An-Nisaa: 84 dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa Allah memerintahkan hamba dan RasulNya, yaitu Nabi Muhammad SAW, untuk ikut terjun dalam kancah peperangan, berjihad di jalan Allah.
 
Barang siapa yang tidak ikut berperang, maka tiada paksaan untuknya, karena itu ada frase “tidaklah kalian dibebani melainkan kewajiban kalian sendiri (masing-masing).” Keutamaan dan kemuliaan diraih individu-individu yang memenuhi seruan perang; sedangkan kerugian, dosa dan kehinaan juga ditanggung individu-individu yang tidak memenuhi seruan perang. Allah Maha mengetahui siapa yang memenuhi seruanNya.
 
Dalam sejarah, kita mengenal Sultan Muzhafar Syaifuddin Quthuz yang mengatakan ucapannya yang terkenal sepanjang masa,

“Aku akan memerangi pasukan Mongol, sekalipun sendirian. Maka siapa yang ingin mengikutiku, maka ikutilah aku. Dan siapa yang ingin berdiam dan tidak memiliki andil, silahkan berdiam dan pergi dengan urusannya sendiri”
 
Ucapan menggelegar itu dilontarkan saat beliau mengetahui umat Islam Mesir dan Syam awalnya ragu-ragu berhadapan langsung dengan pasukan kafir Tartar Mongol yang dikenal beringas, sebagaimana tercatat dalam kitab tarikh As-Suluk karya sejarawan Al-Maqrizi.
 
Sultan Quthuz tahu betul keutamaan berperang fii sabilillah meskipun sendirian melawan sekumpulan musuh, kata-katanya justru turut mengobarkan semangat umat Islam melawan kafir Tartar Mongol di Perang Ain Jaluth pada pertengahan abad 13 M. Meskipun sebenarnya beliau bisa saja merealisasikan kata-katanya itu dengan benar-benar perang sendirian ke dalam barisan musuh. (Bersambung)
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
 
0 Komentar