Berlumur Doa

Sabtu, 30 Juli 2016 - 11:19 WIB | Dilihat : 2155
Berlumur Doa 	Ilustrasi

Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka sepatutnya kita berusaha menyeimbangkannya. Dalam hal kuantitas dan kualitas, usahakan lebih sedikit dosa lebih banyak doa. Dosa merupakan efek dari berbuat keburukan sedangkan doa manifestasi dari kebaikan. Tidak ada yang tahu kadar kuantitas dan kualitas masing-masing orang, kecuali dirinya sendiri dan Allah Swt. Silahkan bercermin

Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka ingatlah selalu janji Allah Swt dalam mengabulkan permohonan hamba-Nya, sebagaimana tertera dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186, yang artinya “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Demikian pula Anas bin Malik ra, menceritakan kisahnya saat bersama Rasulullah Saw, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt berfirman, 
“Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. 
Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu, dan Aku tidak peduli. 
Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi). 
Subhanallah, mantap dan luar biasa janji Tuhan kita, Allah Swt, Sang Maha Penerima Taubat, singkatnya asal mau berdoa saja, sebanyak apapun dosa yang kita kumpulkan, Allah Swt menjanjikan ampunan-Nya. Semoga Freddy Budiman, kita dan saudara lainnya, termasuk salah satu anak Adam yang berhak menerima janji ini. Amin ya Rabb al Alamin. Maka jangan sedikit pun enggan dan malas berdoa! Dan bukan pula berarti kita lantas seenaknya memperbanyak dosa. 
Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, maka doa adalah senjata utama. Jangankan kita, manusia yang senantiasa berbuat dosa dan jarang sekali serius berdoa, Nabi-nabi Allah Swt pun mengandalkan doa. Doa Nabi Nuh AS, terabadikan dalam Q.S Al-Qamar: 10 yang berbunyi, “Maka ia Mengadu kepada Tuhannya: “bahwasannya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)”. Doa Nabi Yunus AS, diabadikan dalam Q.S al-Anbiya’: 87–88, doa Nabi Yakub AS dalam Q.S al-Anbiya’: 83. Demikian pula doa Nabi kita, Muhammad Saw, yang terukir indah dalam Q.S al ‘Imran, 26, yang artinya, “Katakanlah, “Wahai Tuhan Yang Maha mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Benang merah ayat ini, tentu saja bila kita berlumur dosa, pasti Allah Swt akan menghinakan kita, dan sebaliknya bila kita berlumur doa, Allah Swt pasti akan memuliakan kita. 
Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, adakalanya kita enggan berdoa, malas dan bahkan meninggalkan doa. Tak jarang, seketika mendapat kesuksesan, alpa untuk berdoa. Seringnya, ketika terpuruk dalam kegagalan, dalam hati mengumpat ternyata doa kita tidak dikabulkan dan berarti Allah Swt menyelisihi janji-Nya sendiri, naudzubillahi min dzalik. Oleh karenanya, ketika keadaan seperti ini menghampiri, sadari bahwa kadar iman sedang menurun dan perlu untuk dinaikkan kembali. Salah satunya dengan membaca kembali pesan Rasulullah Saw sebagaimana berikut ini; 1) Doa itu ibadah yang mulia, sebagaimana hadits, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah ta’ala selain doa” (HR. Ahmad). 2) Doa bermanfaat kapan saja, sebagaimana hadits, “Sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR. At-Tirmidzi). 3) Ancaman Allah Swt bagi yang tidak mau berdoa, sebagaimana hadits, "Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya". (HR. At-Tirmidzi). 
Di sisi yang lain, ada beberapa hal yang harus senantiasa kita ingat dan waspada, yaitu adanya sifat naluriah manusia pada umumnya, yang bisa mendekatkan kita dengan dosa, menjauhkan dari doa. Pertama, sifat sombong, sebagaimana firman Allah Swt, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir [40]: 60). 
Kedua, sifat tergesa-gesa (terburu-buru), kurang sabar, hingga kemudian berputus asa karena merasa permintaannya tidak didengar dan dikabulkan Allah Swt. “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra:11). 
 
Dalam hadits, Rasulullah Saw pun mengingatkan, “Seorang hamba yang berdoa akan terus menerus dikabulkan doanya selama ia tidak berdoa dengan dosa dan memutuskan silaturrahim, dan selama ia tidak tergesa-gesa ingin cepat dikabulkan. Dikatakan kepada Nabi Saw, “Wahai Rasulullah Saw apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa ingin cepat dikabulkan?” Rasulullah Saw bersabda, “Yaitu ketika ia berkata, ‘aku telah berdoa, aku telah berdoa, tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan.’ Kemudian ia mengeluh karenanya, dan akhirnya meninggalkan doanya.” (HR. Muslim). 
Ketiga, sifat kurang berhati-hati dalam hal mengkosumsi makanan dan minuman yang halal. Rasulullah Saw bersabda, “Ia berdoa kepada Allah, tapi makanan dan minumannya dari barang yang diharamkan, maka bagaimana mungkin aakan dikabulkan doanya.” (HR. Muslim).
Pembaca yang dimuliakan Allah Swt, 
Karena saya dan Anda pasti berlumur dosa, sekaligus berlumur doa, bilamana kita berhasil mengendalikan dengan baik dan benar sifat-sifat naluriah di atas, maka doa-doa kita pasti akan segera dikabulkan. Dan logika terbaliknya, jika selama ini kita merasa doa-doa tak kunjung dikabulkan oleh-Nya, maka jawabannya sudah tersebutkan di atas. 
 
Eka Sugeng Ariadi
Front Mahasiswa Islam Pasuruan, Mahasiswa Pascasarjana Unesa
0 Komentar