Teladan Almarhumah Tuty Alawiyah untuk Muslimah

Jumat, 06 Mei 2016 - 08:38 WIB | Dilihat : 3186
Teladan Almarhumah Tuty Alawiyah untuk Muslimah Almarhumah Prof Dr Hj Tuty Alawiyah AS.


Fadh Ahmad Arifan
(Alumni Pascasarjana UIN Malang, Jawa Timur)
 
Usai ditinggal Prof Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, umat Islam di Indonesia kembali berduka. Mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Prof. Dr. Hj Tuty Alawiyah Abdullah Syafi'i telah meninggal dunia. Sebelum wafat, almarhumah selama tiga minggu menjalani perawatan di Rumah Sakit MMC Kuningan karena infeksi usus besar. (Kompas, 4 Mei 2016). 
 
Muslimah di Indonesia perlu meneladani atau meniru perjalanan hidup dan deretan prestasi dari almarhumah. Sedikitnya ada delapan  prestasi dari Prof. Dr. Tuty Alawiyah yang berhasil saya himpun dari berbagai sumber. 
 
Pertama, almarhum sosok yang tegar sedari kecil. Saat berumur sembilan tahun ibunda almarhum telah wafat. Sedari kecil terus didorong ikut berbagai perlombaan membaca Al Qur’an, sehingga dalam usia amat muda, almarhumah mampu membaca Al-Qur’an secara fasih. Kedua, saat kecil, sambil belajar mengaji, Tuty Alawiyah dibimbing ayahandanya, ulama besar Betawi, KH. Abdullah Syafi'i menjadi mubaligah yang handal. Bahkan dalam sebuah kesempatan, diminta berceramah di depan umum. Padahal kala itu usianya baru 16 tahun. 
 
Ketiga, semasa remaja, almarhumah rajin menulis puisi dan artikel yang dimuat di surat kabar ibu kota. Puisinya berjudul "Yusuf yang Agung" berhasil menjadi puisi terbaik versi RRI tahun 1960. 
 
Keempat, di bidang pendidikan, almarhumah pada 1957 sanggup menyelesaikan pendidikan SMP dan MTs sekaligus. Dalam perjalanannya, sang ayah yakni KH. Abdullah Ayafi'i menunjuk dan mengangkatnya sebagai penerus kepemimpinan Yayasan As-Syafi'iyyah, bukan menunjuk saudara laki-lakinya. Kebijakan ini didasari keseriusan Dr Tuty Alawiyah untuk meneruskan cita cita orang tuanya dalam membina umat. (Ulama Perempuan Indonesia, 2002, hal 201-203). Pada 2001 meraih gelar doktor kehormatan di bidang dakwah Islam dari IAIN Jakarta. Selanjutnya mendapatkan gelar profesor dari Federation al-Munawwarah di Berlin, Jerman. 
 
Kelima, di bidang dakwah, jangkauan dakwah Dr. Tuty Alawiyah melewati batas batas dakwah 'kebetawian'. Maksudnya almarhumah ini terbukti menjadi ulama perempuan level nasional dan bahkan internasional. (Genealogi Intelektual Ulama Betawi, 2011, hal 17). 
 
Keenam, karirnya di bidang politik tanpa cela. Almarhumah tidak pernah tersandung KKN. Almarhumah juga dikenang punya peran besar dalam kemajuan partai Golkar selama mengabdikan diri di partai berlambang pohon beringin itu (Inilah.com, 4 Mei 2016). Bukan hanya di Partai Golkar, almarhumah diketahui sebagai salah satu pendiri partai Hanura. Tak heran Hanura mendekati Badan Kontak Majelis Ta'lim (BKMT) yang didirikan atas prakarsa almarhumah pada 1 Januari 1981 (Perempuan dan Majelis Taklim, April 2010, hal 7-8).
 
Ketujuh, Almarhumah termasuk tokoh yang lantang menolak rencana Ahok yang akan melegalkan peredaran Miras.  “Terus kenapa sekarang malah dilegalkan?” ujar Tuty seperti yang dikutip dari Republika Online, 11 Desember 2014. 
 
Beliau meminta Ahok untuk tidak mengacau masyarakat dengan rencana pelegalannya tersebut. Menurutnya, seharusnya Ahok memusnahkan Miras di masyarakat, bukan justru melegalkannya. 
 
Kedelapan, hingga usia jelang 70 tahun, almarhumah pernah menyatakan tak pernah terpikir untuk ikut program asuransi. Bila pun ia sakit, biaya pengobatan dilunasi secara cash (www.jamsosindonesia.com, 2011). 
 
Selamat jalan Prof. Dr. Hj Tuty Alawiyah, semoga kebaikan anda dilipatgandakan pahalanya dan ditempatkan di Surga-Nya. Wallahu’allam
 
0 Komentar