Menelisik Kebangkitan Islam dalam Chronicle of Sebeos, Catatan Sejarah Romawi Abad 7 M

20 April 23:03 | Dilihat : 2196
Menelisik Kebangkitan Islam dalam Chronicle of Sebeos, Catatan Sejarah Romawi Abad 7 M Ilustrasi

Catatan sejarah atau chronicle (disebut pula History of Heraclius) karya uskup dan sejarawan Armenia Sebeos, tidak diragukan lagi merupakan salah satu manuskrip terpenting untuk mengkaji sejarah Islam melalui sumber Barat. Sebeos diperkirakan hidup semasa dengan Rasulullah SAW dan Khulafa Ar-Rasyidin. Karyanya ini ditulis kira-kira pertengahan abad ketujuh masehi, bersamaan dengan masa Khulafa Ar-Rasyidin dalam peradaban Islam. Chronicle karya Sebeos selain menjadi acuan bagi peneliti sejarah Byzantium di masa Heraclius, juga menjadi sumber primer bagi mereka yang mengkaji peradaban Byzantium dan Timur Dekat akhir abad kelima hingga tahun 661 M. Bahkan tulisannya ini seabad lebih tua dari chroniclenya Theophanes sejarawan yang merangkum peradaban Byzantium, lantaran Theophanes hidup di abad kedelapan masehi. Setidaknya Sebeos ini menjadi catatan berharga bagi para pengkaji sejarah disebabkan catatannya yang sudah sangat tua (lebih dari 13 abad). Di lihat dari masanya, karyanya ini lebih tua dari maghazi Ibnu Ishaq sekalipun.

Bagi para pemerhati sirah Nabawiyah, ternyata catatan Sebeos di bagian kedua merekam kebangkitan sejarah Islam yang timbul di masanya. Bahkan ia juga menyebut Nabi SAW dengan sebutan pemimpin keturunan Ismail yang bernama “Mehmet”. Ia mengisahkan Romawi Byzantium di bawah pimpinan Heraclius berhasil merebut Edessa dan Armenia dari tangan imperium Persia. Sebeos mencatat, menjelang Byzantium merebut kota Edessa di Armenia, 12 suku Yahudi berbondong-bondong pergi ke Edessa. Mereka sempat menguasai kota legendaris ini saat pasukan Persia sudah meninggalkan kota karena kalah perang melawan Byzantium. Orang-orang Yahudi pun menutup gerbang kota dan berkerumun di benteng kota. Ketika Romawi Byzantium tiba di Edessa, kaum Yahudi sadar mereka tidak bisa mempertahankan kota, akhirnya Byzantium pun bisa menguasai kota itu dengan mudah tanpa perlawanan dari kaum Yahudi. Kaum Yahudi sempat berunding dengan Byzantium serta menuntut perdamaian, walhasil disepakati kaum Yahudi untuk meninggalkan kota. Mereka pun hanya diusir oleh Heraclius.

Ternyata kaum Yahudi dalam perjalanannya tersebut pergi ke selatan, tepatnya ke wilayah Tachkastan (sebutan untuk wilayah Arab). Di sana kaum Yahudi bertemu dengan keturunan Ismail (bangsa Arab). Kendati terjadi pertemuan tetapi dikatakan, baik kaum Yahudi dan kaum Muslimin (Arab) tidak menemui kesepakatan lantaran perbedaan agama yang mereka anut. Rasulullah SAW pun sempat disebut oleh catatan Sebeos itu, dengan sebutan ‘Mehmet’. 

“But although the latter were persuaded of their close relationship, yet they were unable to bring about agreement within their great number, because their cults were divided from each other. At that time a certain man from among those same sons of Ismael whose name was Mahmet, a merchant as if by God's command appeared to them as a preacher [and] the path of truth.” (The Armenian History Attributed to Sebeos, Translated Texts for Historians Volume 31, Liverpool University Press, h. 95)

Sebeos menyebut Rasulullah SAW yang ia sebut “Mehmet” itu sebagai seorang pengkhotbah dan penunjuk jalan kebenaran. Nabi SAW juga dikisahkan sempat mengajarkan kaum Yahudi tentang keesaan Allah, Tuhan Abraham, yakni Nabi Ibrahim alaihissalam, yang juga nenek moyang Bani Israil (belakangan disebut Yahudi). Tetapi dalam catatannya itu Sebeos mengklaim bahwa Nabi SAW mengetahui perihal Allah karena ia mempelajari dan memiliki pengetahuan tentang sejarah Nabi Musa alaihissalam. Hal demikian mirip klaim-klaim orientalis Barat generasi kemudian yang sering menuding Rasulullah belajar dari ahli kitab tentang keesaan Allah dan konsep-konsep ketuhanan.

“He taught them to recognize the God of Abraham, especially because he was learned and informed in the history of Moses,” demikian tutur Sebeos.

Rasulullah pun dikatakan telah mengajak kaum Yahudi agar bisa menerima ajarannya, karena perintah kerasulan tersebut datang dari langit. Beliau juga memerintahkan kaum Yahudi agar bisa bergabung, untuk sama-sama bersatu dalam keimanan. Rasulullah juga menyeru mereka agar meninggalkan pemujaan kepada sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat, serta kembali kepada Allah yang Maha hidup, yang telah diimani oleh nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim. “Abandoning the reverence of vain things, they turned toward the living God, who had appeared to their father–Abraham,” demikian catat Sebeos.

Jika begitu, berarti kabar Rasulullah yang menyeru kepada Islam sudah tersiar beritanya ke Armenia, negeri di utara Syam. Beliau juga dikatakan melarang kaum Yahudi untuk tidak memakan bangkai, tidak minum anggur (minuman memabukan), tidak berdusta dan tidak berzina. Rasulullah sempat mengingatkan kaum Yahudi tentang sejarah mereka dan mengingatkan janji Allah yang akan membuat mereka kembali ke negeri mereka ketika Allah memberikan kasihNya kepada mereka. Nampak di sini beriman kepada Allah menjadi syarat jika kaum Yahudi ingin kembali ke negeri mereka.

He said: “With an oath God promised this land to Abraham and his seed after him forever. And He brought about as He promised during that time while He loved Israel. (H. 96)
Lalu Rasulullah dikatakan mengingatkan bahwa mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim serta mengingatkan janji Allah kepada keturunan Nabi Ibrahim, termasuk Bani Israil. Bahkan beliau memerintahkan mereka untuk pergi dan merebut kembali negeri mereka (Eliya/Palestina), mereka tidak akan dalam dalam pertempuran karena Tuhan bersama mereka.

“Now, however, you are the sons of Abraham, and God shall fulfill the promise made to Abraham and his son on you. God is accomplishing his promise to Abraham and his seed for you. Love sincerely only the God of Abraham, and go and seize your land which God gave to your father Abraham. No one will be able to resist you in battle, because God is with you.” (h. 96) (“Sekarang, bagaimanapun, kalian adalah keturunan Ibrahim, dan Allah akan memenuhi janji kepada Ibrahim dan keturunannya itu untuk kalian. Cinta yang tulus hanya dari Tuhan Ibrahim, pergi dan ambilah negeri yang telah Allah berikan kepada ayahmu, Ibrahim. Tidak akan ada yang mampu mengalahkan kalian dalam peperangan, karena Allah beserta kalian”) Kaum Yahudi pun dikatakan pergi dan berkumpul di Tursina, “di seberang negeri Mesir” catat Sebeos.

Komentar sejarah: Dari catatan ini kita bisa menduga bahwa ada peristiwa pengusiran kaum Yahudi dari Edessa yang terletak di utara negeri Syam, ketika pasukan Heraclius merebut Edessa dari kekuasaan Persia. Kaum Yahudi akhirnya pergi ke selatan dan diceritakan tiba di negeri Arab, atau yang disebut Sebeos sebagai Tachkastan. Di sana mereka didakwahi oleh pemimpin Bani Ismail yakni Mehmet atau Muhammad, Rasulullah SAW. Waktu itu Rasulullah dikatakan menyerukan mereka masuk Islam, justru agar mereka kembali mengenal jati dirinya. Bahkan menjanjikan kaum yahudi negeri yang dijanjikan, yang dimaksud adalah Eliya (Palestina). Sampai-sampai Rasulullah dikatakan menyemangati mereka untuk merebut kembali negerinya. Dalam tulisan tersebut, Romawi Byzantium kadang disebut Greek (Yunani), lantaran Byzantium memang berbahasa Yunani dan punya kebudayaan mirip Yunani. 

Dari segi tahun, itu dipastikan pasca Byzantium merebut kembali negeri-negeri Syam dan Armenia dari tangan Persia. Bahkan disepakati itu terjadi tahun 628 M, sedangkan tahun hijriyahnya sekitar tahun 6 dan 7 H. Memang dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, waktu Abu Sufyan bertemu dan berdialog dengan Heraclius, Romawi Byzantium baru saja memenangkan serangkaian pertempuran dengan Persia. Begitu pula waktu Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi menjadi utusan Rasulullah ke Romawi. 

Sepertinya peristiwa pertemuan antara beliau dan kaum Yahudi dari Edessa itu perlu ditinjau kembali, lantaran tahun-tahun tersebut adalah masa pasca pengusiran Yahudi Bani Quraizhah, dipenuhi dengan peristiwa peperangan melawan kabilah-kabilah Arab, perjanjian Hudaibiyah dan masa perang Khaibar (juga melawan Yahudi). Seharusnya jika kaum Yahudi yang begitu banyak berbondong-bondong datang ke tanah Arab pasti peristiwa tersebut akan banyak yang mengingat maupun mencatat. Kita ketahui peristiwa tersebut tidak disebutkan baik di kitab sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Maghazi Al-Waqidi dan Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa’ad sekalipun, bahkan tidak dicatat dalam sirah Nabawiyah yang ada di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Bisa jadi kaum Yahudi dari Edessa itu ada yang datang ke negeri Arab, sempat bertemu kaum Muslimin (meski tidak harus dengan Rasulullah) lalu mereka pergi ke Eliya (Palestina). Patut diingat juga, kebijakan pemerintah Heraclius belakangan memang tidak bersimpatik kepada Yahudi, khususnya dibuktikan ketika tahun 630-632 M Heraclius mengambil kebijakan anti-Yahudi (Walter E. Kaegi, Heraclius Emperor of Byzantium, Cambridge: Cambridge University Press, h. 29). 

Sedangkan Byzantium sejak masa Yustinianus sudah memiliki kebijakan yang tidak simpatik dengan Yahudi disebabkan keyakinan dan kekerabatan khas Yahudi sangat sulit diterima oleh peradaban Kristen. Namun kekerabatan khas Yahudi dan sifat keras kepala juga yang membuat mereka dapat bertahan dari masa-masa penyiksaan pemerintahan Byzantium. Secara umum sampai abad keenam masehi hanya sedikit penyiksaan dan permusuhan yang dilakukan pemerintah Byzantium terhadap Yahudi (J.F Haldon, Byzantium in the Seventh Century: The Transformation of a Culture, Cambdridge University Press, 1997, h. 345). Badai penyiksaan pun mulai di masa Yustinianus, bahkan memuncak di masa pemerintahan Heraclius.

Tentunya catatan-catatan sejarah ini semakin menunjukkan geliat eksistensi Islam di tahun 628 M, atau tahun 6-7 H. Seorang pemimpin keturunan Ismail, yakni Muhammad Rasulullah menunjukkan kekuatan dakwahnya yang telah tersiar sampai ke negeri Armenia, setidaknya di masa Sebeos menulis chronicle-nya. Tentunya ini semakin membuka wawasan dan memperkuat konstruk kita akan sirah Nabawiyah.

Ilham Martasyabana
Pegiat Sirah Nabawiyah.
 

0 Komentar