Ali dan Fatimah dalam Mahligai Sedekah

22 Februari 11:58 | Dilihat : 2151
Ali dan Fatimah dalam Mahligai Sedekah Ilustrasi nama Ali bin Abi Thalib
 
Di dalam mahligai sedekah tak hanya penyucian jiwa. Ia melapangkan jiwa-jiwa hamba untuk penciptaNya. Dalam mahligai sedekah tak hanya harta bertambah, namun juga penebusan dosa-dosa. Sedekah bukan hanya pemberian ikhlas kepada orang lain, namun juga sebuah bukti (burhan) keimanan seorang HambaNya, laksana sabda Rasulullah SAW bahwa “Sedekah adalah bukti” (HR Muslim). Ia-lah amal yang menjauhi pelakunya dari siksa neraka sekaligus melapangkan hati dan jiwa. Salah seorang dari ahli sedekah itu adalah Abul Hasan Ali bin Abi Thalib, sepupu yang jua menantu Rasulullah.
 
Suatu ketika Ali baru saja pulang dari rumah baginda Nabi SAW. Saat Ali pulang, Fathimah sedang berdiri di sana, ada juga Salman Al-Farisi di depan rumah sedang mengurai bulu-bulu domba untuk dipintal oleh Fathimah. 
 
“Wahai wanita mulia, apakah kamu punya makanan untuk suamimu ini?” tanya Ali.
 
“Demi Allah aku tak punya sesuatu apa pun. Namun ini ada enam dirham dari Salman saat aku memintal tadi, hendak aku belikan makanan untuk buah cinta kita, Hasan dan Husain,” jawab penghulu wanita ahli Surga ini.
 
“Biarlah kanda yang beli, mana uang itu?” 
 
Fathimah pun memberikan uang enam dirham tersebut kepada sang kekasih. Lantas Abu Turab pun bergegas membeli makanan. Tiba-tiba di perjalanan itu ada seorang lelaki berkata, 
 
“Siapa yang mau meminjami Rabb yang Maha Pengasih lagi Maha menepati janji?” sebuah isyarat bahwa lelaki tersebut minta sedekah.
 
Tak tanggung-tanggung dan tak jua berfikir panjang, figur yang kelak menjadi khulafaa ar-rasyidin keempat ini langsung memberikan semua hartanya sebesar enam dirham tersebut. Ali pun pulang ke rumahnya, tentu saja dengan tangan hampa.
 
Fathimah tahu pasti, jika suami tercinta tidak membawa makanan apa pun, sang kekasih telah menyedekahkan hartanya. Fathimah pun sempat bersedih dan menangis.
 
Ali terheran, “Mengapa adinda menangis, wahai wanita mulia?”
 
“Wahai kanda Ali, kamu pulang tanpa membawa sesuatu pun?!” tanya Fathimah.
 
“Wanita mulia, telah kupinjamkan harta itu kepada Allah,” sahut putra bungsu Abu Thalib ini.
 
Sayyidah Fathimah bukan wanita shalih biasa, jiwa dan keimanannya telah membumbung tinggi. Wanita shalih biasa akan ber _hujjah_, “Bukankah kau harus mendahulukan kebutuhan istri dan anak-anakmu?” ya, itu celotehan wanita shalih biasa. Jelas, Fathimah tidak akan mau keislaman dan keimanannya hanya dalam level standar. Ia sadar dirinya akan diteladani para wanita sejagat. 
 
Sebagai teladan Muslimah, ia adalah putri Rasulullah dan suami dari Ali, ia memahami kalau sedekah itu tidak akan mengurangi sesuatu apa pun dan tidak merugikan siapa pun. Malah akan dijadikan penghapus dosa-dosa, melipatgandakan pahala dan keberkahan. 
 
Dengan ikhlas Fathimah bertutur, “Sungguh, aku mendukung apa yang kau lakukan.”
 
Tak lama kemudian, Ali pergi lagi hendak menemui Rasulullah. Tiba-tiba di perjalanan ada seorang Arab Baduwi beserta seekor untanya. 
 
Ia menyapa Ali “Wahai Abul Hasan, tolonglah beli unta ini.”
 
Ali menjawab, “Aku tak punya uang.”
 
“Bayar tempo saja,” kata si Baduwi coba menawarkan.
 
“Berapa harganya?”
 
“Seratus dirham”
 
“Ya, aku beli,” ujar Ali.
 
Saat melanjutkan perjalanan tidak lama kemudian datanglah orang Baduwi lain, ia pun menyapa Ali. 
 
“Hai Abul Hasan, apakah kau jual unta ini?"
 
“Ya” jawab Ali.
 
“Berapa” tanya si Baduwi.
 
“Tiga ratus dirham”
 
“Ya aku beli,” kata si Baduwi.
 
Baduwi itu tunai membayar 300 dirham dan mengambil unta tersebut.
 
Ketika Ali pulang, sang istri dengan tersenyum bertanya pada suaminya itu, “Apa ini, wahai Abul Hasan?”
 
“Duhai putri Rasulullah, telah kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham, dan kujual lagi 300 dirham, tunai,” jawab Ali lembut.
 
Fathimah pun senang dengan apa yang dialami suaminya itu. Lantas Ali menemui Rasulullah lantaran tadi sempat tertunda dengan “bisnis”nya itu. Rasulullah berada di Masjid Nabawi, saat Ali masuk ke Masjid, Rasulullah pun tersenyum melihat kedatangan sepupu sekaligus mantunya ini.
 
“Hai Abul Hasan, engkau yang bercerita atau aku yang bercerita?”
 
Sabda Rasulullah itu adalah isyarat bahwa beliau telah mengetahui perihal yang terjadi. Tentu siapa lagi kalau bukan Allah ‘azza wa jalla atau Malaikat yang memberikan kabar ini ke beliau, lantaran beliau tidak menyaksikan apa yang dialami Ali.
 
“Tuan saja yang bercerita, wahai Rasulullah.”
 
“Wahai Abul Hasan, tahukah kamu siapa Baduwi yang menjual unta dan Baduwi lain yang membeli unta?”
 
“Tidak. Allah dan RasulNya lebih tahu,” jawab Ali dengan agak heran.
 
“Berbahagialah engkau, kau telah ‘meminjamkan’ enam dirham kepada Allah. Allah memberimu 300 dirham, tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Baduwi yang pertama datang kepadamu adalah Jibril. Sedangkan yang berikutnya adalah Mikail.”
 
Ali pun berbahagia lagi bersyukur. Ia mendapatkan kemuliaan secara tunai. _Radhiyallahu’anhu_ Ali, dalam satu kali amalan ia dijauhi dari api neraka, dipadamkan dosa-dosa, dilipatgandakan pahala, serta diberikan harta. Semua itu diberikan “tunai” oleh Allah _ta’ala_ kepadanya. Kuncinya merupakan pembuktian keimanan dari seorang suami yang disambut kelapangan dada dari sang istri. Fathimah bisa saja mengeluh, tapi ingat Az-Zahra bukan wanita dengan level ketaqwaan yang biasa-biasa saja.
 
Kisah ini dikisahkan oleh fuqaha dan imam Madinah, Imam Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin, Ali Zainal Abidin sendiri merupakan putra dari Husain bin Ali bin Abi Thalib. Benarlah firman Allah untuk mereka yang merasakan mahligai sedekah: 
 
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
 
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS Al Hadid: 18)
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar