Kisah Cinta Rasulullah dan Shafiyah

12 Februari 12:51 | Dilihat : 5243
Kisah Cinta Rasulullah dan Shafiyah Ilustrasi nama Rasulullah SAW
Bilakah Muhammad melarang cinta?
Dan apakah beliau menghina umatnya yang jatuh cinta?
Janganlah kau berlagak mulia!
Dengan menyebut cinta sebagai dosa
 
---Ibnu Hazm, sang penyair Andalus
 
Pria yang sedang kita bicarakan ini bukan sembarang pria, melainkan pria paling pria di muka bumi untuk tolak ukur sepanjang masa. Seorang pria paling tampan dan gagah yang tiada bandingnya. Siapa lagi kalau bukan Sayyidul Mursalin Muhammad bin Abdullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam (SAW), khalilullah yang menawan itu. Beliau tidak hanya menawan sebagai seorang nabi dan rasul teragung melainkan juga sebagai seorang pria idaman. Beliau adalah penghulu pria teragung dan simbol kelaki-lakian. Wajar saja jikalau tiada laki-laki yang lebih laki-laki daripada beliau. Tidak sedikit para gadis dan wanita di zamannya yang amat tertarik untuk dinikahi oleh beliau, terpikat oleh daya pesonanya yang luar biasa. Bukan hanya parasnya yang nan elok tapi juga lantaran akhlak-adabnya yang mulia. Hebatnya, yang suka lagi jatuh cinta dengan Rasulullah (tentu yang saya maksud ini “suka” dan “cinta” dalam hal ketertarikan) bukan wanita-wanita biasa, melainkan wanita-wanita tercantik di zamannya bahkan mungkin tercantik untuk ukuran segala zaman.
 
Siapakah gerangan tandingan pria sekelas beliau ini? Tidak cukupkah bukti seorang Khadijah binti Khuwailid “kembang”nya Quraisy dan wanita idola di negeri Makkah; tidak cukupkah bukti seorang Shafiyyah binti Huyai bin Akhtab seorang “ratu” kaumnya, wanita tercantik di kalangan Bani Israil. Bahkan saat hari pertama Shafiyah datang ke Madinah sebagai istri Rasulullah, para gadis dan wanita kaum Anshar berbondong-bondong mengunjunginya lantaran mendengar kecantikannya sangat luar biasa; Tidak cukup juakah bukti seorang gadis cantik Aisyah Ash-Shiddiqah putri Ash-Shiddiq, seorang gadis cerdas, berwawasan luas dan berkepribadian mulia yang di kemudian hari ia menjadi madrasah intelektual serta guru dari banyak sahabat maupun tabi’in. Mereka hanya tiga di antara sekian banyak wanita yang mendapat kemuliaan sebagai istri seorang pria gentleman ini.  
 
Rasulullah merupakan pria paling pemberani, paling bijaksana, paling beradab dan paling menjaga kehormatannya. Tidak jua ketinggalan, pria yang dipilih Allah menjadi penutup para nabi dan rasul ini juga adalah pria paling perkasa. Yang kita sedang membahas betapa menawan dan maskulinnya pria paling pria yang satu ini, untuk kali ini kita akan membahas perihal hubungan beliau dengan Shafiyah binti Huyai.
 
Awal pertemuan sepasang kekasih ini terjadi di kala kemenangan kaum Muslimin di perang Khaibar melawan Yahudi, pada awal tahun tujuh hijriyah. Beliau menikahinya saat perjalanan pulang dari Khaibar. Tadinya, sebagai wanita-wanita dari kaum yang kalah di peperangan, Shafiyah hendak dipilih oleh Dihya bin Khalifah, seorang sahabat Rasulullah yang paling rupawan, tapi ada seorang sahabat Rasulullah yang lain mengatakan kepada beliau, “Wahai Nabiyullah, apakah tuan akan menyerahkan Shafiyah binti Huyai kepada Dihyah? sesungguhnya ia adalah sayyidah (wanita terhormat) bani Quraizhah dan Bani Nadhir, ia hanya pantas untuk tuan.” Lalu Rasulullah pun bersabda kepada Dihyah, “ambilah budak perempuan selain dirinya.” Dihyah pun menaati perintah beliau. Tentu saja pesona pembawa risalah Ilahi sekaligus pemimpin besar lebih membuat Shafiyah tertarik.
 
Disebutkan bahwa Rasulullah melemparkan selendang kain beliau kepada Shafiyah, semua kaum Muslimin yang melihat kejadian itu langsung paham bahwa beliau telah memilih Shafiyah untuk menjadi pendampingnya. Rasulullah menutupinya dengan jubah seraya berjalan beriringan bersamanya, serta-merta beliau mengajak Shafiyah masuk Islam “Jika kau memilih agamamu, kami tak akan memaksa, namun jika kau memilih Allah dan RasulNya, aku sendiri yang akan menikahimu.” Beliau menikahi Shafiyah dengan mahar kemerdekaan Shafiyah. Status Shafiyah berubah drastis, dari seorang Yahudi menjadi seorang Mukimin, dari seorang budak menjadi seorang Ummul Mukminin. Shafiyah merupakan mualaf dari Yahudi, kecantikannya amat luar biasa. Imam Ibnul Qayyim menuliskan dalam Zadul Ma’ad bahwa Shafiyah adalah “termasuk wanita yang sangat cantik di dunia.” Kini ia menjadi istri dari lelaki yang diperebutkan wanita-wanita Arab.
 
Shafiyah pun berjalan mengiringi Rasulullah SAW, menuju unta beliau. Sebagai seorang pria sejati (real man) ketika beliau hendak menaiki untanya, beliau mempersilahkan Shafiyah untuk naik unta terlebih dahulu. Beliau membantu bidadari barunya ini naik unta, dengan cara sangat romantis: sampai duduk berlutut agar Shafiyah bisa menapaki lutut beliau dan menggapai punggung untanya. Beliau sendiri sebagai pemimpin dan panglima yang biasa berperang, amat mudah menaiki kendaraan unta.
 
Pesta pernikahan tentu saja hanya dihadiri oleh kaum Muslimin yang mengikuti perang Khaibar, karena walimahan itu dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan ke Madinah. Ia dirias oleh Ummu Sulaim atas perintah Rasulullah. Ruang rias putri bangsawan Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Nadhir itu amat sederhana, bukan tirai permata, melainkan dua helai kain wol yang diikatkan di pohon. Amat sederhana, namun dua helai kain wol itu jadi saksi pernikahan pemimpin terbesar umat manusia dari bangsa Arab dengan tuan putri keturunan Yahudi yang telah menjadi mualaf. Pernikahan ini agak memadamkan kobaran dendam sisa-sisa bangsa Yahudi di jazirah Arab.
 
Rasulullah melangsungkan walimah pernikahannya yang sederhana dengan menu makanan tepung jelai, keju, dan kurma, tetapi semua orang yang ada bersuka-cita. Tidak hanya penduduk bumi yang menyaksikan walimah itu melainkan jua penduduk langit, lantaran yang menikah adalah seorang makhluk paling mulia di bumi dan langit.
 
Menjelang malam pertama beliau dengan Shafiyah, beliau ingin mendapat ketegasan dari Shafiyah “Pilihlah olehmu, seandainya engkau memilih Islam, engkau akan kutetap jadikan istri. Akan tetapi, kalau engkau memilih menjadi Yahudi, aku akan tetap memerdekakanmu dan mengembalikanmu kepada kaummu.”
 
Shafiyah menjawab, “Duhai Rasulullah, aku benar-benar telah jatuh cinta kepada Islam. Aku juga mempercayai anda, bahkan sebelum anda memasukanku ke dalam hidup anda. Apa yang kukhawatirkan dengan Yahudi? Mengapa pula harus menghiraukan bahwa di dalapnya terdapat orang tua dan saudara-saudaraku? Anda telah memberikan kepadaku pilihan antara kekufuran dan Islam. Sesungguhnya Allah dan RasulNya lebih menyukai keislamanku daripada kebebasanku dan kepulanganku ke kaumku.”
 
Dengan jawaban itu Rasulullah amat senang, karena Shafiyah masuk Islam dengan keikhlasan. Bukan hanya karena ingin dipersunting dengan Rembulan di Madinah itu. Mengapa dipilih kata rembulan? Nanti kita akan mendapatkan jawabannya.
 
Kemenangan gemilang di perang Khaibar yang mengundang suka cita segenap kaum Muslimin menjadi kian lengkap dengan pernikahan Rasulullah. Bagi sepasang pengantin, malam itu adalah sebuah anugerahNya dalam bentuk asmara. Perayaan cinta di keheningan malam selalu istimewa bagi dua insan yang sedang dilanda asmara, tak terkecuali bagi khalilullah sayyidul mursalin Muhammad bin Abdullah SAW. Sorot mata beliau yang senantiasa memandang Ummul Mukmin Sayyidah Shafiyah. Tentu sorotan mata yang menentramkan antar suami istri menjadi amal pahala di sisi Allah.
 
Untuk waktu yang lama, ada saat-saat keduanya hanya berbaring dalam diam, saling memandang satu sama lain. Waktu menjelang peraduan yang pertama antara dirinya dengan pria paling menawan sejagat itu, sang suami memperhatikan ada luka memar di bagian wajah Shafiyah.
 
“Apakah ini wahai adinda?” Seraya keheranan dengan memar biru di bagian wajah sang istri.
 
Shafiyah pun berkisah, bahwa itu didapat waktu menjadi pengantin baru dengan mantan suaminya Kinanah bin Ar-Rabi’ bin Abi Al-Huqaiq. “Wahai kakanda Rasulullah, sebelum engkau mendatangi kami (di Khaibar), aku bermimpi melihat rembulan di langit seakan-akan jatuh ke pangkuanku. Tidak, demi Allah aku tidak menyebut-nyebut dirimu sedikitpun. Aku menceritakan mimpiku ini kepada mantan suamiku, lalu dia menempelengku,” seraya berkata: “Rupa-rupanya engkau menginginkan Muhammad sang raja Hijaz menjadi suamimu” begitu celoteh Kinanah seperti yang dikisahkan Bunda Shafiyah sendiri. Ternyata Shafiyah telah lama menginginkan sang rembulan Hijaz, Rasulullah Muhammad bin Abdullah.
 
Malam itu laksana bait-bait doa yang berkumandang tanpa kata, melainkan melalui rangkaian ibadah bernama pernikahan yang menempatkan perayaan hasrat dan cinta untuk menggapai keharibaan ridha Ilahi. Suatu rahmat dariNya untuk memenuhi naluri insani para hambaNya melalui aqad yang suci.
 
Menjelang fajar, Rasulullah keluar dari tenda tempat beliau semalam memadu kasih dengan Shafiyah. Ternyata di luar tenda sudah ada Abu Ayyub Al-Anshari, sahabat beliau yang sangat semangat dalam berjihad. Abu Ayyub tidak tidur semalaman karena berjaga-jaga di luar tenda Rasulullah. Ketika itu Rasulullah bertanya apa yang telah dilakukannya, ”Ada apa gerangan wahai Abu Ayyub?”
 
Abu Ayyub menjawab, “saya mengkhawatirkan keselamatan tuan dari wanita ini, sebab ayah, suami, saudara, paman dan kaumnya telah dibunuh, sedangkan dia baru saja masuk Islam, maka saya mengkhawatirkan keselamatan anda.”
 
Maka Rasulullah menjelaskan kepada Abu Ayyub sekaligus menghiburnya. Beliau berdoa khusus untuk Abu Ayyub, “wahai Allah Subhana wa ta’ala, jagalah dan lindungilah Abu Ayyub sebagaimana dia telah semalam suntuk menjagaku.”
 
Saat rombongan Rasulullah tiba di Madinah, Shafiyah dititipkan sementara untuk menginap di rumah keluarga Haritsah bin Ma’mar. Wanita kaum Anshar berbondong-bondong menjenguk Shafiyah dan saling memperkenalkan diri lantaran mendengar kecantikannya yang sangat luar biasa itu. Kabar figur kecantikan Shafiyah menyebar ke seantero Madinah, dan membuat ‘panas’ Ummul Mukminin bunda kita tercinta Aisyah binti Abu Bakar dan Hafshah binti Umar, dua istri Rasulullah yang lain. Mereka bekerja sama, maka diutuslah pelayan Barirah untuk melihat lebih langsung keadaan Shafiyah. Kebetulan, di tempat Shafiyah ada pula Ummu Salamah, istri Rasulullah yang ikut rombongan perang Khaibar. Ummu Salamah masih berada di tempat Shafiyah yang ramai kedatangan tamu. Melihat Barirah, Ummu Salamah menemuinya. Ummu Salamah heran yang Barirah tanya adalah melulu perihal Shafiyah dan kecantikannya. Maka dengan insting wanitanya Ummu Salamah berkata, “wahai Barirah, siapa yang menyuruhmu? Aisyah ya?” Barirah tidak berani menjawab. Namun Ummu Salamah paham. “Demi hidupku, dia memang sangat cantik, dan sesungguhnya Rasulullah sangat mengasihi Shafiyah.”
 
Segeralah Barirah pulang mengabarkan perihal Shafiyah ke Aisyah dan Hafshah. Nampaknya cerita Barirah pun membuat ledakan cemburu di benak-benak Aisyah dan Hafshah. Lantas bagaimana Ummu Salamah? nampaknya lebih tegar, Ummu Salamah bahkan menyaksikan pesta pernikahan Rasulullah dan Shafiyah. Tapi Ummu Salamah adalah wanita as-sabiqun al-awwalun yang ketinggian jiwanya sudah begitu terlatih.
 
Wajar terjadi saling cemburu berbalas cemburu. yang mereka cemburui adalah sayyidul mursalin, lelaki paling lelaki di muka bumi.  Khalilullah yang menawan itu, di mana senyum dan tutur katanya saja bisa membuat jiwa-jiwa gersang bertekuk lutut untuk menerima kebenaran risalah.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar