Sepak Terjang Abdullah bin Saba di Masa Utsman bin Affan (bag 1)

Senin, 05 Desember 2016 - 21:49 WIB | Dilihat : 3344
Sepak Terjang Abdullah bin Saba di Masa Utsman bin Affan (bag 1) Ilustrasi
Pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan radhiallahu’anhu, munculah sebuah kelompok bernama Sabaiyah dengan tokohnya seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba Al-Yahud. Nama yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai pionir paham Syi’ah. Bapaknya Abdullah adalah Yahudi sedangkan ibunya adalah wanita berkulit hitam.
 
Cara kelompok Abdullah bin Saba merongrong kekuasaan Khalifah Utsman adalah dengan menghembuskan paham-paham menyimpang serta merencanakan gerakannya dengan berkedok pendukung Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu.
 
Hembusan-hembusan paham sesat disebarkan melalui doktrin-doktrin yang nyeleneh, semisal:
 
Pertama, dikatakan Rasulullah SAW akan turun dari langit menjelang hari Kiamat. Kaum Saba menipu orang-orang dengan pemikiran yang menyimpang ini, ia menyebarkan kabar jika umat Islam percaya Nabi Isa alaihissalam akan turun dari langit menjelang akhir zaman, jelas Rasulullah Muhammad SAW yang lebih mulia, lebih pantas dan lebih masuk akal untuk diimani akan turun dari langit juga. Orang awam dan para mualaf pun banyak yang tertipu dengan pemikiran semacam ini.
 
Kedua, dikatakan Rasulullah SAW telah mewasiatkan bahwa Ali karramahullah wajhahu yang seharusnya memegang tumpu kepemimpinan khalifah. Ada pun Khulafaa Ar-Rasyiddin Abu Bakar, Umar dan Utsman derajat kemuliaannya dianggap jauh di bawah Ali. Dengan kata lain ia berdusta atas nama Rasulullah. Bisa dipahami, Kelompok Saba atau Sabaiyah serta tokohnya Abdullah bin Saba menggerogoti stabilitas kekhalifahan sedikit demi sedikit, dengan cara-cara yang amat halus. Orang-orang yang mereka seru pun disengaja dari kalangan para mualaf dan orang-orang awam.
 
Ada pun kaum Saba bisa melancarkan fitnahnya karena ada momentum:
 
Pertama, futuhat di zaman Utsman bin Affan sangat luar biasa sehingga kekhalifahan Islam bertambah luas, berbagai bangsa berbondong-bondong masuk Islam. Momentum ini dimanfaatkan kaum Saba untuk melemahkan Islam dari dalam  karena banyak mualaf yang belum terlalu paham Islam.
 
Kedua, kebijakan-kebijakan Utsman yang berbeda dengan Abu Bakar dan Umar sengaja dicitrakan negatif oleh kaum Saba dan orang-orang yang sudah terprovokasi oleh fitnah mereka, walhasil sebagian golongan masyarakat datang ke Madinah untuk demonstrasi terhadap kebijakan Khalifah Utsman.
 
Prestasi Utsman yang cemerlang justru digugat dan diprotes oleh para calon pemberontak. Keanehan terjadi karena para demonstran dan calon pemberontak tersebut berasal dari tiga wilayah yang berbeda: Mesir, Kufah dan Bashrah. Sampai pada masa Khalifah Hasan bin Ali dan Khalifah Muawiyah, tiga wilayah ini memang sering jadi tempat bergolaknya masalah. Oleh karena itu wajar saja jika tiga wilayah ini dianggap sebagai poros kaum Saba, tempat kaum Saba serta orang-orang yang sepaham dengannya menjalankan perongrongannya terhadap kekhalifahan Islam melalui cara yang halus.
 
Perlu diingat, bahwa secara personal, mereka yang tergabung dalam gerakan Saba hampir tidak dikenali sekalipun gerakannya sangat bisa dirasakan dan dicermati.
 
Selanjutnya langkah-langkah taktis dilakukan kaum Saba. Pertama, dengan memprotes secara tidak wajar para gubernur di wilayah Mesir, Bashrah dan Kufah. Misalnya protes pada gubernur Kufah, Said bin Al-Ash yang tidak disukai sebagian warga Kufah, sehingga Khalifah Utsman menggantinya dengan Abu Musa Al-Asy’ari. Padahal Said sebelumnya baru saja diangkat menjadi gubernur dan tidak melakukan kebijakan yang merugikan warga Kufah. Hal ini dilakukan bukan karena mereka lebih menyukai Abu Musa sebagaimana klaim mereka, melainkan untuk menimbulkan pergolakan sedikit demi sedikit.
 
Sebelumnya di Mesir juga terjadi pergantian gubernur atas kehendak sebagian masyarakat, gubernur Mesir sampai tahun 27 H ialah Amr bin Ash, kemudian diganti dengan Saad bin Abi Sarh yang banyak melakukan futuhat di Afrika. Gubernur Bashrah Abu Musa Al-Asy’ari juga dicopot pada 28 H, diganti Abdullah bin Amir bin Kuraiz yang baru berusia 25 tahun, Abdullah juga dipercaya untuk menjadi gubernur wilayah Persia-Iran. Demikian tercatat dalam Tarikh Ath-Thabari dan Tarikh Khalifah bin Khayyath, walaupun menurut Tarikh Khalifah bin Khayyath, peristiwa digantinya Abu Musa oleh Abdullah bin Amir terjadi tahun 29 H. Belakangan Abu Musa menjadi gubernur di Kufah.
 
Dimulai dengan banyaknya tuntutan, langkah taktis mereka dilanjutkan dengan berdemo ke Madinah. Prestasi Utsman yang cemerlang justru digugat dan diprotes oleh para calon pemberontak tersebut, namun semua keberatan dari demonstran dijawab dengan baik oleh Khalifah Utsman. Perlu ditekankan juga, para sahabat Rasulullah waktu itu sama sekali tidak mempermasalahkan demonstrasi dan unjuk rasa mereka, namun mempermasalahkan apa yang mereka tuntut serta isi dari demonstrasinya.
 
Puncak fitnah di masa Khalifah Utsman sendiri dimulai pada awal tahun 35, ketika para gubernur yang berhaji bersama-sama  Utsman sudah pulang ke daerah masing-masing. Ath-Thabari menuliskan: 
 
“Ketika para gubernur tiba di daerahnya masing-masing (ba’da ibadah haji bersama Utsman) kelompok sabaiyah tidak memiliki cara untuk keluar dari daerah mereka, namun mereka dapat berkirim surat kepada sekutunya di berbagai wilayah untuk sama-sama datang ke Madinah, mereka menginstruksikan kepada para koleganya jika ditanya tujuan kedatangan mereka di Madinah,maka jawablah untuk amar ma’ruf nahi munkar dan menanyakan kepada Utsman tentang kabar-kabar yang beredar di masyarakat (fitnah terhadap Utsman) serta menyelidiki (tabayyun) kebenarannya.” (Tarikh Ath-Thabari, jld 4, no. 343-348)
 
Sebagai sahabat Rasulullah terbaik ketiga setelah Abu Bakar dan Umar, Utsman adalah salah satu figur pemimpin paling ideal sepanjang masa. Oleh karena itu akhlak, adab dan kesabarannya sangat tinggi. Sekalipun gelagat-gelagat pemberontakan sudah mulai terlihat dari demonstrasi mereka (warga Kufah, Bashrah dan Mesir) namun Utsman sangat peduli terhadap aspirasi masyarakatnya, sehingga tuntutan warga Kufah agar menunjuk Abu Musa sebagai gubernur Kufah dikabulkan oleh Khalifah Utsman. Lagi pula menurut para demonstran Kufah tersebut, Abu Musa lebih disetujui oleh masyarakat di Kufah.
 
Lebih dari itu, Utsman lebih mendengarkan rakyatnya ketimbang keluarga besarnya sendiri yang diwakili Muawiyah. Muawiyah pernah menawarkan kepada Utsman bahwa Bani Abdu Syams dan Bani Umayyah (keluarga Utsman) siap memerangi kelompok-kelompok perongrong kekhalifahan, namun tawaran seperti itu jelas ditolak oleh khalifah yang sangat sabar seperti Utsman. (Bersambung)
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar