Bekal Perang Opini dan Urat Syaraf Pasca Aksi 411, Ibrah dari Perang Badar (bag 1)

Senin, 14 November 2016 - 00:03 WIB | Dilihat : 3973
Bekal Perang Opini dan Urat Syaraf Pasca Aksi 411, Ibrah dari Perang Badar (bag 1) Peserta Aksi Bela Islam 4 November 2016
Aksi Bela Islam II pada hari Jumat 4 November 2016 yang menuntut agar aparatur negara segera menangkap Gubernur DKI Jakarta Ahok telah berlalu. Dari segi jumlah massa, aksi 'jihad lisan' umat Islam ini merupakan aksi terbesar sepanjang sejarah Indonesia. 
 
Dikatakan peserta Aksi Bela Islam II itu jumlahnya tiga kali lipat aksi demonstrasi penggulingan Soeharto tahun 1998. Maklum saja mengingat jumlah peserta aksi yang mencapai kisaran 2-3 juta manusia. Aksinya sendiri selesai menjelang Subuh keesokan harinya Sabtu (5/11), berakhir dengan kepastian diproses hukumnya Ahok, namun dengan proses hukum yang memakan waktu dua pekan terhitung sejak Senin (7/11). Apakah selesai begitu saja? Tentu saja tidak.
 
Pasca aksi, tibalah masa perang opini dan urat-syaraf bagi kaum Muslimin, mengingat tidak sedikit juga pihak-pihak yang mendukung Ahok agar ia tidak jadi dipenjara, atau setidaknya batal menjadi tersangka penistaan agama. Padahal kaum Muslimin Indonesia sudah begitu terzhalimi dan tersakiti oleh pelecehan Al-Quran yang dilakukan Ahok akhir September lalu. Tibalah jua waktunya kaum Muslimin masuk dalam perang pemikiran atau ghazwul fikr karena musuh-musuh Islam dipastikan akan 'menyerang balik', itu sudah Sunnatullah.
 
Semua ini membuat saya teringat pada perang Badar Al-Kubra, perang yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah di mana Rasulullah beserta para sahabatnya berperang melawan kafir Quraisy Makkah. Hari meletusnya perang Badar disebut juga yaum al-furqan, hari pembeda antara haq (kebenaran) dan kebatilan. Kaum Muslimin menang total dalam perang besar tersebut, sebaliknya musyrik Quraisy kalah telak seraya dipermalukan meskipun jumlah serdadunya sekitar tiga kali lipat jumlah mujahidin Islam.
 
Aksi damai 4 November sendiri benar-benar seperti pergumulan yang haq dan bathil, karena kaum Muslimin berkonsolidasi untuk sama-sama menuntut hukum terhadap pelaku penista Al-Quran yang kini bercokol sebagai Gubernur DKI Jakarta. Aksi damai Bela Islam II berlangsung tidak sampai 24 jam, dari ba'da Jumat hingga menjelang Subuh keesokan harinya (di DPR). Sama halnya dengan perang Badar, perang yang haq melawan yang batil ini memang tidak sampai sehari, namun perang urat-syaraf dan opini terjadi sepanjang tahun sampai pecah perang Uhud bulan Syawal tahun 3 Hijriyah.
 
Sudah tentu, benturan urat-syaraf dan opini pasca perang Badar Al-Kubra bisa diambil ibrah (pelajaran) dan hikmahnya bagi kita yang telah sukses melakukan aksi damai hari Jumat (4/11). Mengingat kita adalah kaum Muslimin yang senantiasa meneladani sirah Rasulullah SAW, terlebih dalam menghadapi tekanan-tekanan pasca aksi damai Bela Islam II.
 
Sama halnya seperti aksi jihad lisan (4/11), tekanan opini dan urat-syaraf yang lebih berat justru melanda pasca aksi. Demikian pula dalam sirah Nabawiyah kadang benturan opini dan urat-syaraf lebih berat serta melelahkan dibandingkan perang fisik. Perang opini dan urat-syaraf pasti sangat menguras energi. Kita dapat memetakannya sebagai berikut:
 
Pertama, pasca kemenangan di Badar, kaum kafir baik di Makkah dan Madinah sama-sama terkena shock. Kesan peristiwa Badar Al-Kubra sangat membekas di jiwa-jiwa musyrik Quraisy dan kaum Yahudi di Madinah. Kaum munafik Madinah juga masuk dalam 'barisan sakit hati' terhadap kemenangan Islam, hal yang sama juga dialami kaum musyrik Arab yang tidak terlibat perang secara langsung namun bersekutu dengan Quraisy Makkah. Mereka semua merasakan kekuatan kaum Muslimin telah begitu besar, citra Islam demikian terangkat ke seantero jazirah Arab. Peradaban yang baru lahir di Madinah tidak sampai dua tahun sebelumnya itu telah memperoleh wibawanya, mengokohkan dirinya sebagai kekuatan baru dari jazirah Arab.
 
Kedua, pasca Badar kerugian musyrik Quraisy bukan hanya sekedar kehilangan banyak jiwa figur pemimpin serta kerabat mereka, namun juga kerugian harta yang tidak sedikit. Sampai-sampai dendam yang membuncah di diri para pembesar Quraisy yang masih hidup tidak bisa dilampiaskan lantaran Quraisy kehabisan modal. Tokoh seperti Abu Sufyan sampai bernazar tidak akan menyentuh istrinya sampai dendamnya bisa terlampiaskan (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, jld II, bab Perang As-Sawiq). Lebih-lebih Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan, yang ayah dan saudaranya mati di perang Badar, ia dipenuhi dendam yang menyala-nyala, terutama ke Hamzah bin Abdul Muthalib panglima perang kaum Muslimin di Badar. Bahkan tokoh seperti Abu Lahab yang tidak ikut perang Badar membawa shocknya sampai mati saat mengetahui kaumnya kalah memalukan oleh Madinah. Sudah kalah perang, rugi korban jiwa,  mentalitas yang jatuh, penderitaan kaum Quraisy masih harus ditambah habisnya modal perang mereka.
 
Ketiga, peristiwa perang Sawiq (tepung), yang terjadi beberapa bulan pasca Badar, tepatnya bulan Dzulhijjah tahun 2 H. Ekspedisi 200 serdadu kaum Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb ke Madinah terjadi pada tanggal 5 Dzulhijjah, tadinya bertujuan untuk mengembalikan citra kekuatan kaum Quraisy di mata masyarakat Arab. Abu Sufyan telah bernadzar tidak mau menyentuh istrinya dan mengharamkan minyak atas dirinya sampai ia mampu membalas dendam kepada Rasulullah (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, jld II, bab "Perang As-Sawiq" dan Maghazi Al-Waqidi bab "Penyerbuan ke Sawiq"). Tidak tahunya Abu Sufyan dan pasukannya gagal total karena ia hanya membunuh dua orang kaum Muslimin Anshar dan membakar sebuah kebun kurma saja di dekat Madinah.
 
Abu Sufyan dan pasukannya justru kabur saat dikejar Rasulullah SAW. Ekspedisi yang bertujuan mengangkat 'elektabilitas' citra Quraisy ini, akhirnya sia-sia belaka. Citra Quraisy justru tambah merosot, karena ekspedisi pasukan Abu Sufyan itu terlampau sekali mental pengecutnya. Itu terlihat dari tepung jelai milik kaum Quraisy dalam jumlah besar berjatuhan di dataran rendah Qarqarat Al-Kudri karena pasukan Abu Sufyan lari terbirit-birit ketakutan dikejar pasukan Rasulullah. Kaum Muslimin justru untung besar karena tepung tersebut bisa menjadi bahan makanan bagi penduduk Madinah meskipun turut berduka atas terbunuhnya dua kaum Anshar akibat serangan mendadak Abu Sufyan. Tiap ada informasi percikan antara Makkah versus Madinah, bangsa Arab pasti memasang mata dan telinganya, sekali lagi masyarakat Arab melihat Quraisy Makkah sebagai pengecut dan melihat Islam sebagai kekuatan baru yang menonjol. Tentu saja ini adalah perang opini dan urat-syaraf sekaligus.
 
Namun demikian ekspedisi Abu Sufyan bukan sama sekali tanpa hasil, ia dan pasukannya berhasil membakar kebun kurma di Al-Uraidh, membunuh dua kaum Anshar yang sedang bekerja di sawah dengan serangan mendadak, dan mendapat informasi dari sekutunya di Madinah, Sallam bin Misykam, penjaga asset kaum Yahudi Bani Nadhir. Sallam banyak memberikan informasi kepada Abu Sufyan terkait kaum Muslimin Madinah. Tetapi dalam benak masyarakat se-antero jazirah Arab, citra positif tetap berpihak kepada kaum Muslimin dan citra negatif tetap melekat di Quraisy, malahan orang-orang Arab semakin memandang Abu Sufyan dan Quraisy Makkah sebagai pengecut.
 
Keempat, Perang Bahran atau perang Al-Furu' di Bahran yang terjadi pada bulan Jumadil Awal tahun 3 H. Sebuah jalan yang sering dilalui oleh kafilah dagang Quraisy dari Makkah ke Syam, serta dari Syam ke Makkah. Ibnu Ishaq (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam) mengatakan Rasulullah bersama 300 orang mujahidin melakukan ekspedisi dari bulan Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Dalam tempo 10 hari perjalanan beliau ke sana (Maghazi Al-Waqidi), beliau sempat bertemu seorang dari Bani Sulaim dan mengorek banyak informasi darinya pada suatu malam, Bani Sulaim sendiri merupakan cabang Bani Ghatafan yang sangat memusuhi Islam. Setelah mendapat banyak informasi, lelaki tersebut dilepaskan. Dalam ekspedisi ini Rasulullah mendapat dua keuntungan, 1) Diperolehnya banyak informasi mengenai Bani Sulaim dan Ghatafan, 2) Memastikan Madinah masih menguasai jalur dagang strategis dari Hijaz ke Syam, lewat ekspedisi tanpa pertempuran ini Rasulullah seolah mengirim "pesan" ke Quraisy dan suku-suku Arab bahwa Madinah tetap punya hegemoni di jalur dagang strategis tersebut.
 
Kelima, Jalur dagang strategis ke Syam melalui Najd dan Iraq pada bulan Jumadil Akhir juga berhasil dikuasai oleh Madinah. Himpitan ekonomi yang melanda Makkah pasca Badar membuat Quraisy berpikir keras untuk menemukan jalur dagang baru selain pantai Barat (Hijaz) dari Makkah-Madinah-Dumatul Jandal-Syam, yakni melalui jalur Najd dan Iraq ke Syam. Ini terbukti dalam peristiwa ekspedisi ke Qaradah.
 
Tokoh Quraisy Shafwan bin Umayyah, yang hendak berdagang ke Syam bersama rombongan kafilah dagang Quraisy mengungkapkan, "Sungguh Muhammad dan para pengikutnya mempersulit perdagangan kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat terhadap para pengikutnya. Mereka tidak meninggalkan pesisir (Barat) dan orang-orang pesisir telah membuat kesepakatan dengan kaum Muslimin. Kami tak tahu jalan mana yang harus kami lalui. Jika kami tinggal, kami hanya makan modal kami sementara kami berada di tanah kami sendiri, dan tak punya perbekalan yang cukup di tanah ini. Sungguh, kami biasanya pergi berdagang ke Syam setiap musim panas, dan berdagang ke Habasyah pada musim dingin."  
 
Aswad bin Muththalib menimpali "Jauhi saja jalur pesisir dan tempuhlah jalan ke Iraq." Akhirnya terpilih Furat bib Hayyan dari Bani Bakr bin Wail sebagai penunjuk jalan (Al-Maghazi Al-Waqidi, Ekspedisi ke Qaradah). Pemimpin Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb pun turut serta dalam rombongan dagang, harta perak milik Abu Sufyan merupakan harta paling besar dalam rombongan kafilah tersebut.
 
Sebelumnya, jalur dagang ke Syam melalui pesisir Barat Hijaz (Makkah-Madinah) sudah direbut pihak Madinah bahkan sebelum perang Badar, melalui datasemen-datasemen yang dilancarkan Rasulullah. Setelah kemenangan Badar Al-Kubra, otomatis Madinah semakin memegang hegemoni di jalur dagang strategis menuju Syam, terlebih Madinah sendiri merupakan tempat transit para kafilah dagang Arab menuju Syam.
 
Di jalur dagang menuju Syam juga ada banyak mata-mata Rasulullah. Melalui keislaman Buraidhah bin Hushaib Al-Aslami dari Bani Aslam bersama 70-80 orang kaumnya, mereka masuk Islam dihadapan Rasulullah saat perjalanan beliau hijrah ke Madinah bersama Abu Bakr Ash-Shiddiq (Musnad Ahmad, jld 5, h. 346; Thabaqat Al-Kubra Ibn Sa'ad, jld 4, h. 242), tepatnya di daerah Ghamim. Bani Aslam telah bersumpah setia kepada Rasulullah dan kaum Muslimin. Bani Aslam adalah kaum setelah Bani Ghiffar yang banyak memberikan informasi kepada Rasulullah terkait gerak-gerik serangan Quraisy maupun berbagai kabilah yang memusuhi Islam.
 
Kembali ke peristiwa berangkatnya kafilah dagang Quraisy melalui jalur Najd-Iraq. Akhirnya 100 mujahidin kaum Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah dikirim oleh Rasulullah untuk menghadang rombongan Quraisy. Beliau telah mendengar kabar kepergian kafilah dagang Quraisy melalui jalur Najd-Iraq. Akhirnya kafilah itu tercerai-berai diserang Zaid dan pasukannya, kaum Muslimin mendapatkan ghanimah perak sebanyak 30 ribu dirham, dan harta total sebanyak 100 ribu dirham. Sang penunjuk jalan, Furat bin Hayyan berhasil ditangkap, setelah itu ia dihadapkan ke Rasulullah, Rasulullah mengajaknya masuk Islam dan Furat pun menjadi mualaf. Dengan demikian Madinah kini memiliki orang yang paling paham jalur dagang ke Syam melalui Najd-Iraq. Begitu juga hegemoni di jalur Hijaz dan Iraq, bisa dikatakan ada di tangan kaum Muslimin. Belakangan karena sudah begitu terdesak karena krisis ekonomi, kaum Quraisy bertekad mengumpulkan harta para pembesar mereka untuk modal berperang sehingga meletuslah perang Uhud bulan Syawal tahun 3 H.
 
Menarik di sini jika kita rangkai hubungan Madinah dan Makkah pasca Perang Badar dengan pendekatan “spiral konflik” dalam Teori Konflik Sosial. Pecahnya perang Badar adalah hasil dari konflik aqidah karena dakwah Rasulullah di Makkah selama 13 tahun benar-benar mengguncang tatanan masyarakat yang sudah mapan. Peristiwa hijrah ke Madinah sendiri adalah akibat permusuhan, penyiksaan dan pengusiran kaum Quraisy terhadap umat Islam, bukan peristiwa yang terjadi begitu saja. Sedangkan perang Badar adalah konsekuensi perbuatan Quraisy karena merampas harta kaum Muslimin. Pengusiran dan permusuhan Quraisy pun membuat legitimasi bahwa kaum Muslimin berhak untuk melawan kezhaliman mereka, selain telah diturunkannya syariat jihad tentunya. Memang sudah ada perang-perang kecil sebelum Badar Al-Kubra, namun konflik jelas memuncak di Badar Al-Kubra.
 
Sekarang 'psycho-war' dan benturan opini pasca Badar jelas diungguli kaum Muslimin. Kaum Quraisy dan Islam sudah terlibat perang opini dan urat-syaraf sejak fase dakwah di Makkah. Eskalasi dalam konflik Islam-Quraisy sudah terbentuk sejak awalnya. Proses eskalasi sendiri merupakan mata rantai peristiwa yang menghasilkan dan mempertahankan transformasi-transformasi peristiwa tersebut ketika konflik meningkat. Model spiral konflik di kenal sebagai bagian Teori Konflik yang menjadi ajang aksi dan reaksi. Sesuatu yang dilakukan oleh satu pihak, mendorong pihak lain untuk merespon, kemudian respon ini menjadi dorongan lebih lanjut untuk tindakan yang lebih ‘keras’ dari sebelumnya.
 
"Di dalam spiral-konflik, konfliknya dalam tataran konsep berbentuk spiral, bersifat balas-membalas (retaliatory), masing-masing pihak menjatuhkan hukuman kepada pihak yang lain atas tindakan-tindakannya yang dianggap tidak menyenangkan (aversif)" (Dean Pruitt dan Jeffrey Rubin, Teori Konflik Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).
 
Terlihat pasca Badar Al-Kubra, terdapat peristiwa Sawiq, Bahran dan Qaradah, ada saling balas-membalas perbuatan yang dinilai aversif. Kaum Muslimin adalah pihak yang unggul sehingga rangkaian "balas-membalas" yang kita lihat dari spiral-konflik tersebut pun nampak jelas diungguli oleh kaum Muslimin. Buktinya jalur dagang yang dibutuhkan Quraisy untuk berdagang ke Syam baik jalur Hijaz dan Najd-Iraq, keduanya dipegang oleh Madinah. Opini pun lebih memihak kepada Madinah sampai meletusnya perang Uhud.
 
Keenam, Spionase ke musuh-musuh Islam non-Quraisy. Spionase yang dilakukan Umair bin Adi atas inisiatifnya sendiri beberapa hari setelah perang Badar, bahkan Nabi SAW dan rombongan pun masih dalam perjalanan pulang ke Madinah. Umair mengincar Asma binti Marwan dari Bani Umayyah bin Zaid, seorang wanita yang kerap kali menghina Rasulullah SAW serta menghasut orang-orang untuk memerangi beliau dengan syair-syairnya (Al-Waqidi, Al-Maghazi, h. 180). Meskipun Umair bertindak sendiri namun belakangan Rasulullah memujinya karena ia berhasil membuat gentar orang-orang kafir dan munafik di sekitar Madinah.
 
Perlu diingat bahwa musuh-musuh Islam tidak hanya dari barisan Quraisy Makkah saja, tapi juga Yahudi, kaum musyrik dan munafik sekitar Madinah, mereka termasuk yang dadanya sesak ketika Islam meraih kemenangan gemilang. 
 
Perbuatan Umair juga tidak dinafikan Rasulullah karena menyalahkan perbuatan seorang yang berjuang demi Islam dan merugikan musuh, hanya akan memecah belah konsolidasi umat yang terjalin. Berkah dari spionase Umair ini adalah keluarga besar Umair akhirnya berani menampakkan keislaman secara terang-terangan, yang sebelumnya takut dengan ancaman musuh-musuh Islam di internal Madinah. Dengan adanya aksi heroik Umair ini kubu-kubu pembenci Islam di Madinah semakin 'panas-dingin'. Dengan begitu opini pun menjadi: seorang Muslim saja mampu melakukan spionase heroik yang mengguncang.
 
Sebelumnya kaum Muslimin dikenal pihak-pihak lawannya hanya melakukan sariyah (ekspedisi) peperangan saja, bukan pelaku penyerangan tunggal. Rasulullah memuji Umair dengan bersabda "Jika kalian ingin melihat orang yang diam-diam menolong Allah dan RasulNya, maka lihatlah Umair bin Adi."
 
Terhadap kasus spionase ini, layak kiranya kita anggap sebagai seni "feather ruffling" dalam konflik sosial, yakni "percikan untuk mengalihkan perhatian" musuh-musuh Islam. Spionase ini justru menargetkan orang yang seolah-olah tak terlibat konflik Islam dengan Quraisy, namun hakikatnya ia musuh dalam selimut yang berbahaya bagi kaum Muslimin dan Madinah, karena wanita itu berusaha menyulut perang internal di Madinah selain mencaci maki Rasulullah SAW tentunya.
 
Musuh-musuh internal Islam di Madinah menjadi berpikir bahwa spionase Islam bukan hal yang bisa dianggap remeh di satu sisi, khususnya dalam menghadapi upaya musuh-musuh Islam dalam menggembosi kemenangan yang diraih Madinah di Badar. Sedangkan di sisi lain, aksi heroik Umair yang bertindak sendiri itu membuat musuh-musuh Islam di Madinah tidak bisa menyalahkan kebijakan resmi pemerintah Madinah begitu saja. Opini yang tergambarkan adalah: "Tindakan (spionase) itu inisiatif seorang Umair belaka". (Bersambung)
 
Ilham Martasyabana, 
pegiat sejarah Islam
0 Komentar