Al-Mala wa Al-Mutrafun

Kamis, 10 November 2016 - 06:31 WIB | Dilihat : 847
Al-Mala wa Al-Mutrafun Ilustrasi kabah zaman dahulu
Allah SWT berfirman: “Maka hendaklah merekah menyembah Tuhan pemilik Ka’bah ini. Yang telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar, dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS Quraisy 3-4). Firman Allah ini menggambarkan kepada kita bahwa suku Quraisy memang diistimewakan. Selain melindungi Makkah, negeri Quraisy, dari ancaman tentara bergajahnya Abrahah, Allah juga mencukupkan kaum Quraisy dan memberi mereka kelimpahan harta.
 
Imam Ibnul Jauzi berkata dalam "Zadul Masir fii Ilmi Tafsir" saat menafsirkan surat Quraisy, "kaum Quraisy hidup dengan aman di tanah Haram. Tanah Haram adalah sebuah lembah yang tandus tanpa pepohonan dan tanaman, kaum Quraisy dapat bertahan hidup di sana dengan berdagang ke Syam sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu musim dingin dan musim panas. Kalau saja bukan karena perdagangan ini (ilaf), niscaya mereka tidak akan dapat hidup di tanah Haram, dan kalau saja bukan karena hidup di samping Ka'bah, niscaya mereka tidak dapat berbuat apa-apa."
 
Allah mengingatkan mereka meski hidup di tengah-tengah gurun gersang, mereka sangat aman dari bahaya kelaparan serta dari perampokan, karena perserikatan dagang mereka yang disebut "ilaf". Itu artinya keamanan dalam berkehidupan dan berbisnis pun Allah anugerahkan kepada mereka. Tetapi di sinilah justru terdapat suatu faktor utama al-mala dan al-mutrafun Quraisy begitu keras menentang risalah Islam. Ternyata Quraisy menganggap keistimewaan yang diberikan kepada mereka melalui kekuasaan, berkelimpahan dan keamanan itu justru sebagai kecintaan serta keridhaan Allah terhadap mereka.
 
Kaum Quraisy seperti halnya Bani Israil memiliki sifat superioritas, seolah-olah perbuatan, adat-istiadat, norma dan agama mereka mendapat restu Allah. Maka faktanya, para pembesar Quraisy (al-mala) dan al-mutrafunnya, yakni pengendali kebijakan sosial-politik dan ekonomi di Makkah memang termasuk yang memusuhi dakwah Islam, bahkan termasuk penentang-penentang utama, sebut saja Abu Jahal bin Hisyam, Walid bin Mughirah, Utbah bin Rabi’ah, Abu Sufyan sebelum masuk Islam, Al-Ash bin Wail dan paman Rasulullah Abu Lahab. Oleh karena itu problem dakwah umat Islam saat ini dengan di zaman Rasulullah sesungguhnya tidak jauh berbeda. Para pembesar negeri (al-mala’) dan al-mutrafunnya tidak bisa menjaga amanah yang diberikan kepada mereka, mereka berbuat zhalim, fasik dan menyalahi syariat Allah di muka bumi (QS Al-Israa: 16).
 
Ini semua berakar dari salah persepsi seperti halnya Bani Israil, dalam pandangan Quraisy kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka dianggap ketinggian kedudukan mereka di mata Allah, bukannya sebagai ujian dan amanah. Ditambah lagi beberapa tahun sebelum itu negeri mereka diselamatkan secara ajaib oleh Allah dari serangan tentara Abrahah yang berjumlah 60.000 orang, peristiwa itu makin membuat Quraisy pongah.
 
Tentu jika mereka menganggap hal itu sebagai ujian dan amanah, mereka akan sangat berhati-hati dengan setiap perbuatan mereka, sehingga melandasi setiap perbuatan dan kebijakannya dengan bingkai aturan-aturan Allah.
 
Dengan demikian tidak mengherankan, Quraisy yang dilanda salah persepsi serta upaya mereka yang begitu memusuhi risalah Allah, membuat Rasulullah merasa perlu membuat strategi dakwah yang jitu dan tetap memperhatikan waqi’ (realita kondisi). Beliau memulai dakwah dari yang dirasakan paling memungkinkan menerima Islam yakni keluarga (Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah), kerabat (Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim) dan sahabat terdekat (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dst) hingga kemudian meluas ke seluruh lapisan masyarakat Quraisy dan Makkah.
 
Lalu Rasulullah juga memasukan putra dan putri klan-klan Quraisy ke dalam barisan kaum Muslimin secara merata, sebagai contoh dari kerabat Rasulullah Bani Hasyim ada Ali dan Ja’far bin Abi Thalib, Ummu Fadhl (Lubabah Al-Kubra) istri Abbas bin Abdul Muthalib, dan Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib sepupu Nabi SAW. Dari Bani Umayyah ada Utsman bin Affan, Khalid bin Sa’id dan istrinya Umaimah binti Khalaf, Abdullah bin Jahsy. Dari Bani Makhzum ada Abu Salamah bin Abdul Asad, ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah dan Al-Arqam bin Abul Arqam. Wakil-wakil putra-putri tiga klan terkuat Quraisy sudah masuk Islam dan berada di barisan Rasulullah. Dengan begitu ikatan Islam dan dakwah diperkuat dengan hadirnya putra-putri generasi muda dari para pembesar Quraisy.
 
Para al-Mala dan al-Mutrafun Quraisy boleh begitu gencar memusuhi dakwah Islam, tetapi jangan lupa, generasi-generasi penerus mereka sendiri sebagian sudah berada dalam barisan Islam.
 
Rasulullah sampai berhijrah demi membangun basis kekuatan dahulu di Madinah demi menumbangkan nilai-nilai jahiliyah yang ada dalam alam pikiran dan mentalitas al-mala dan al-mutrafun Quraisy di Makkah. Hijrahnya Rasulullah ke Madinah dan membangun basis kekuatan dakwah di sana sesungguhnya tetap memfokuskan memenangkan dakwah Islam di Makkah karena Makkah dianggap “kota suci” di alam pikiran Arab jahiliyah.
 
Sebagaimana diungkapkan Syaikh Munir Ghadban dalam Manhaj Haroki, strategi Rasulullah kemudian hari membangun basis kekuatan dakwah di Madinah demi memenangkan Islam di Makkah bukanlah spontanitas belaka, melainkan sudah diperhitungkan dengan matang, hanya saja Allah SWT yang menentukan timingnya. Sebagai catatan, di Madinah masih ada kerabat Rasulullah, ibunya Abdul Muttalib atau salah satu istri dari Hasyim bin Abdu Manaf adalah wanita bani Najjar dari Madinah. Tanah di mana Masjid Nabawi berdiri merupakan tanah milik dua anak yatim dari bani Najjar, kerabat Rasulullah dari pihak nenek. Bangsa Arab di kala itu meskipun berada dalam kondisi jahiliyah namun tetap memiliki loyalitas antar keluarga, meskipun itu kerabat jauh.
 
Tidak heran saat Fathul Makkah lalu kemudian warga Makkah diislamisasi, bangsa Arab berbondong-bondong masuk Islam. Bangsa Arab otomatis akan mengikuti agama ahlu Makkah karena Makkah adalah Ummul Qura (pusat keagamaan, budaya dan keramaian) di mana ada Baitullah Ka’bah di dalamnya, serta dianggap tempat ‘warisan’ Ibrahim dan Ismail, nenek moyang bangsa Arab.
 
lham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar