Ketahanan Pangan Madinah Pasca Peristiwa Hijrah Rasulullah

Selasa, 08 November 2016 - 13:35 WIB | Dilihat : 1329
Ketahanan Pangan Madinah Pasca Peristiwa Hijrah Rasulullah Ilustrasi hijrah
Sebelum cahaya Islam menyinari Madinah, kota yang tadinya bernama Yastrib itu hanyalah kota biasa. Setelah Islam datang, hanya dalam 10 tahun saja Madinah menjadi ibukota jazirah Arab. Rasulullah beserta Muhajirin dari Makkah membuka gerbang peradaban Madinah dengan petunjuk Islam. Sirah Nabawiyah menunjukkan pada kita justru fokus Rasulullah bukan hanya sebatas “bagaimana orang yang tidak shalat menjadi shalat”, “orang yang tidak puasa menjadi puasa”, atau “orang yang tadinya ahli maksiat menjadi bertaubat” namun lebih dari itu. Rasulullah sampai taraf permasalahan siapa yang menguasai ekonomi, politik dan sosial. 
 
Seperti apa kebijakan-kebijakan yang harus diterapkan melalui petunjuk wahyu, karena itu semua menjadi bagian visi dan misi peradaban Islam. Sebagai generasi muda Islam, keteladanan Rasulullah dalam sirah Nabawiyah selalu bisa menjadi petunjuk kita dalam menghadapi problematika umat di masa kini dan masa mendatang. Berikut pemetaannya:
 
Pertama, saat Rasulullah tiba di Madinah, setidak-tidaknya (1) keberadaan kaum munafiq (2) perpecahan akibat kultur kesukuan dan dendam, (3) mayoritas lahan subur dan pasar besar yang dikuasai Yahudi serta (4) keterbatasan logistik, menjadi empat permasalahan internal yang melanda Madinah. Krisis-krisis tersebut masih ditambah ancaman eksternal, kaum musyrikin Makkah dan sekutu-sekutunya yang kapan saja siap menyerang Madinah.
 
Kedua, kepemimpinan yang baik selalu melihat harapan dan potensi di balik krisis serta problematika yang melanda. Itu sebabnya Rasulullah mempersiapkan kebijakan-kebijakannya dalam menghadapi tantangan dakwah, terutama yang terkait dengan logistik dan pangan mengingat adanya ‘ledakan jumlah’ penduduk Madinah. Dari mulai potensi umum yang dimiliki kaum Muslimin seperti (1) kepemimpinan dan potensi generasi muda Islam, hasil tarbiyah 13 tahun bagi kaum Muhajirin oleh Rasulullah SAW di Makkah, maupun hasil tarbiyah selama setahun lebih bagi kaum Anshar oleh “muqri” Mush’ab bin Umair di Madinah (2) kekuatan militer terutama dari kaum Anshar (Aus dan Khazraj) mengingat mereka sangat terbiasa berperang, (3) kemandirian ekonomi, yakni sarana dan penghidupan ekonomi yang dipegang sendiri oleh internal kaum Muslimin, (4) hingga kesadaran akan posisi strategis Madinah yang merupakan jalur perdagangan ke Syam, Yaman dan Najd.
 
Ketiga, Rasulullah dan kepemimpinan kaum Muslimin juga sadar akan potensi ekonomi yang dimiliki, seperti yang barusan disinggung bahwa Madinah merupakan wilayah pasar transit yang sangat strategis di Hijaz, Madinah menghubungkan jalur selatan (Yaman dan Makkah), Utara (Syam) dan Timur (Najd). Perkebunan dan pertanian yang dimiliki saudagar-saudagar Anshar terdiri dari kebun kurma, gandum, buah-buahan, dan sayuran sedangkan hewan-hewan ternak yang dimilikinya antara lain unta, sapi, kambing dan domba. Selain itu hasil keterampilan sahabat-sahabat Nabi SAW mulai dari peralatan pertanian, senjata, pakaian dan lain sebagainya juga bisa dimanfaatkan untuk potensi ekonomi sekaligus memenuhi kebutuhan umat dengan hasil kreasi sendiri.
 
Keempat, Di Madinah sendiri setidaknya ada lima pasar penting yang selalu diramaikan oleh pedagang lokal dan asing, dari pasar Zabalah, Al-Yasar, Safasir, Zaqaq dan belakangan pasar kaum Muslimin sendiri yang didirikan Rasulullah dan umat Islam pasca hijrah. Sayangnya pasar terbesar adalah pasar Yahudi Bani Qainuqa, pasar ini sepenuhnya dikuasai Yahudi Madinah. Perbandingan kekuatan ekonomi Anshar (Aus dan Khazraj) serta Yahudi (bani Qainuqa, bani Quraizhah, dan bani Nadhir) memang hampir berimbang, namun kaum Yahudi sedikit lebih kuat menguasai ekonomi Madinah ketimbang Aus dan Khazraj. Oleh sebab perekonomian yang mayoritas dikuasai Yahudi itu pula pasar kaum Muslimin didirikan. Selain untuk melepaskan ketergantungan pada non-Islam, kemandirian ekonomi juga difungsikan untuk praktek “ekonomi syariah.” 
 
Memang saat itu daerah-daerah seperti Fadak, Khaibar, Syam dan Najd memasok juga ke pasar-pasar Madinah tetapi mereka tetap memperhatikan hubungan Madinah dengan Quraisy, mereka juga tidak mau dimusuhi oleh Quraisy Makkah sebagai suku paling kuat dan berpengaruh di seluruh jazirah Arab. Selain itu di Madinah sendiri ada bahaya kaum munafiq yang tidak suka pada Rasulullah yang mengambil alih pimpinan, serta masyarakat Yahudi yang tidak bisa dipercaya untuk dijadikan mitra kaum Muslimin. Untuk itulah sangat diperlukan kebijakan sosial-politik dan ekonomi yang brilian dari kepemimpinan Islam Madinah.  
 
Sekalipun demikian, Rasulullah dan kepemimpinan Islam di Madinah tetap memikirkan solusi-solusi jangka pendek, misalnya dengan membuat kebijakan penyiapan tandan-tandan kurma di Masjid Nabawi, yang dikhususkan untuk kaum dhuafa. Kebijakan makan seporsi untuk dua orang, di mana hal ini melatih indahnya saling berbagi kepada sesama Muslim. Lalu ada pula kebijakan air minum yang saat itu dibarter dengan makanan. Hasil peternakan dan pertanian yang dibagikan kepada sesama Muslim, di mana kalangan Muhajirin membantu saudaranya, kaum Anshar untuk bekerja. Kaum Muhajirin Makkah yang mayoritas Quraisy dilarang oleh Rasulullah untuk berpangku tangan saja dengan menyandarkan diri dari pemberian kaum Anshar meskipun kaum Ansharnya sendiri tidak keberatan berbagi harta, tempat tinggal, pakaian dan makanan kepada saudara Muhajirin dengan cuma-cuma.
 
Rasulullah sebagai pemimpin yang bervisi dan misi hebat benar-benar paham jika kaum Muslimin harus menjaga wibawa, kepemimpinan Islam di Madinah tidak boleh bergantung pada non-Muslim. Oleh karena itulah akhlak sosial menjadi senjata utama Islam kala itu, akhlak sosial yang bersumber dari adab, akhlak dan ukhuwah yang tinggi. Oleh karena itu hubungan sosial sendiri menjadi penunjang ekonomi, sedangkan tujuan ekonomi itu sendiri adalah keseimbangan sosial bukan memperoleh harta dan keuntungan sebesar-besarnya seperti paradigma Kapitalisme. Sampai-sampai di kala itu orang yang berinfaq itu menjadi indikator beradab dan produktifnya seseorang karena dengan hartanya yang dimanfaatkan untuk kepentingan Islam ia menyalurkan ke sesama Muslim hingga terjadi keseimbangan ekonomi.
 
Akhlak sosial itu bisa diintisarikan dari sabda Rasulullah:
 
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أَفْشُوْا السَّلَامَ ، وَأَطْعِمُوْا الطَّعَامَ ، وَصِلُوْا الْأَرْحَامَ ، وَصَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلَام
 
“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, shalatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan Al-Hakim)
 
Akhlak sosial dimulai dari menyebarkan salam ke sesama Muslim baik kenal maupun tidak kenal, saling memberi dan mengajak makan, dan menyambung silaturrahim. Tanpa realisasi tiga amalan ini, niscaya akhlak sosial hanya sekedar wacana saja. Kehangatan hubungan sosial dan aspek ruhiyah (mental) yang terbina dengan baik adalah fondasi utama kaum Muslimin menghadapi tantangan dakwah.
 
Mayoritas Muhajirin adalah golongan miskin karena meninggalkan harta benda mereka di Makkah, maka Rasulullah membuat kebijakan mempersaudarakan mereka dengan Anshar sebagai shahibul Bait Madinah. Rasulullah juga melihat potensi individu-individu umatnya dan sengaja mengembangkan skill yang mereka miliki, bagi mereka yang gemar berdagang maka mereka menjadi pengusaha, mereka yang ahli membuat senjata maka menjadi pembuat senjata, mereka yang ahli bertani, beternak bahkan membuat “Rumah Pemotongan Hewan” (RPH) dibebaskan mengasah keahlian mereka dan berkreativitas demi kepentingan Islam.
 
Misalnya sahabat Rasulullah,  Abdurrahman bin Auf yang tadinya hendak dibagi harta oleh Sa’ad bin Rabi’ lebih memilih usaha ke pasar Bani Qainuqa, pasar terbesar di Madinah, beliau menjual jasa dan berdagang tali Unta. Tahun 9 H, saat perang Tabuk kita tahu Abdurrahman bin Auf sudah jadi saudagar besar dan menyumbang banyak harta untuk fii sabilillah. Contoh lain, Ali bin Abi Thalib yang pernah diberi tanah baik yang kurang subur maupun tanah yang subur, namun di tangan Ali tanah-tanah garapannya bisa menghasilkan.
 
Terbukti Ketahanan pangan di Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah menunjukkan dekatnya pertolongan Allah.
 
Dalam proses beberapa tahun saja ekonomi Madinah bisa tumbuh secara mapan. Ummul Mukminin Aisyah berkata “Demi Allah, kami belum pernah makan kurma sampai kenyang, kecuali setelah penaklukan Khaibar (tahun 7 H).” (HR Muslim).
 
Sebelum penaklukan Khaibar, umat Islam bisa dibilang masih dalam kondisi kekurangan, apalagi jumlah penduduk semakin bertambah dari waktu ke waktu. Dalam rentang waktu tahun satu hingga tujuh Hijriyah, berkat kepemimpinan Rasulullah, krisis-krisis pangan dan ekonomi yang melanda tidak sampai menimbulkan bencana bagi kaum Muslimin.
 
Ilham Martasyabana
Pegiat Sejarah Islam
0 Komentar