Beginilah Cara Rasulullah Memerangi Yahudi (Bag 1)

Selasa, 25 Oktober 2016 - 21:54 WIB | Dilihat : 4433
Beginilah Cara Rasulullah Memerangi Yahudi (Bag 1) ilustrasi
Persoalan Masjid Al-Aqsa, kota Al-Quds dan Palestina yang berada dalam cengkraman Yahudi Israel merupakan persoalan besar seluruh kaum Muslimin. Tentunya problematika ini bukan hanya menjadi tanggung jawab kelompok Hamas, Bridgade Al-Qassam, dan rakyat Palestina saja, melainkan sudah menjadi kewajiban segenap kaum Muslimin di seluruh dunia. Apalagi mengingat sampai detik ini umat Islam belum sejengkal pun merebut negeri Palestina dari negara Yahudi. Solusi demi solusi selama beberapa dekade telah banyak dilontarkan, baik solusi yang sifatnya berdamai dan ‘membagi dua’ bumi Palestina serta kota Al-Quds dengan kaum Yahudi; ada juga solusi yang cenderung mengandalkan PBB (perserikatan Bangsa-Bangsa); serta ada solusi-solusi jangka pendek melalui pemberian bantuan dana, obat-obatan dan segenap logistik ke warga Muslim Palestina yang menjadi korban kebiadaban Yahudi Israel.
 
Sebenarnya tidak mungkin dipungkiri bahwa solusi yang paling menyeluruh adalah jihad total melawan negara Yahudi. Namun demikian, sebagian dari umat Islam ada yang belum memiliki gambaran, bagaimana bentuk-bentuk jihad melawan Yahudi yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah adalah uswatun hasanah dan qudwah kaum Muslimin, sejak awal Rasulullah telah mengajarkan segenap kaum Muslimin memerangi kaum yang dimurkai (maghdhu bi’alaihim) oleh Allah SWT tersebut.
 
Model pertama jihad Rasulullah melawan Yahudi adalah berperang melalui pengepungan dan pengusiran. Salah satu peperangan (maghazi) Rasulullah melawan Yahudi adalah peristiwa pengepungan Bani Qainuqa, kelompok Yahudi yang paling ganas dan beringas di Madinah. Kisahnya selepas kemenangan kaum Muslimin di Perang Badar bulan Ramadhan tahun 2 H, kedengkian Yahudi Bani Qainuqa semakin memuncak. Sebenarnya saat Rasulullah berhijrah lalu kemudian mengambil alih kepemimpinan di Madinah, orang-orang Yahudi telah memendam kebencian serta kedengkian terhadap beliau, karena ternyata Nabi dan Rasul penutupan yang ditunggu-tunggu pula oleh kaum Yahudi ternyata berasal dari bangsa Arab dan suku Quraisy. Yahudi adalah bangsa yang mementingkan gengsi kebangsaan, darah dan ras mereka, mereka tidak mau beriman pada Nabi dan Rasul yang bukan Bani Israil, padahal sudah ketetapan Allah ‘azza wa jalla kalau khataman Al-Anbiya wa Al-Mursalin adalah seorang dari bangsa Arab. Jelas itu hak mutlak Allah Yang Maha Pencipta, Maha Pengatur dan Maha bijaksana.
 
Setelah menjadi pemimpin Madinah dan mendirikan Daulah Islam di kota yang dulunya bernama Yastrib itu, Rasulullah dengan Yahudi membuat pakta perdamaian, dan beliau membuat surat perdamaiannya, sebagaimana diungkapkan Al-Waqidi dalam Maghazinya, “Nabi menetapkan setiap suku dengan sekutunya masing-masing dan membangun perlindungan antara beliau dan mereka, beliau yang merumuskan syarat-syarat dan ketentuan bagi mereka, antara lain ketentuan yang berbunyi bahwa mereka tidak akan membantu pihak musuh mana pun melawan beliau.” Pakta dan perjanjian Rasulullah dengan Yahudi itu tertuang dalam Piagam Madinah.  
 
Terkait membuncahnya kedengkian Yahudi terhadap kaum Muslimin, sejarawan Al-Waqidi berkata “orang-orang Yahudi ternyata melanggar perjanjian yang telah disepakati antara mereka dan Rasulullah, Nabi memanggil mereka, dan ketika mereka semua sudah berkumpul, beliau berkata “Wahai Yahudi, menyerahlah, karena demi Allah, kalian tahu bahwa aku adalah Rasulullah, sebelum Allah menimpakan azab yang pernah menimpa kaum Quraisy”. Tetapi Yahudi menyanggah sabda Rasulullah dengan berkata “Wahai Muhammad, jangan tertipu oleh orang-orang yang pernah kau temui, sesungguhnya kau telah mengalahkan orang-orang yang tidak memiliki pengalaman dalam peperangan. Namun demi Allah, kami adalah kaum yang ahli berperang, dan jika kau memerangi kami maka akan kau sadari bahwa kau belum pernah memerangi kaum setangguh kami sebelumnya.” Kisah ini tercantum pula dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam. 
 
Selanjutnya Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay, keduanya adalah tokoh suku Khazraj Madinah sama-sama datang ke Rasulullah menyatakan sikapnya terkait hubungan Islam dan Yahudi yang kian memanas akibat congkaknya Bani Israil tersebut. Ubadah bin Shamit yang tadinya punya loyalitas dan menjadikan Yahudi sebagai orang-orang kepercayaannya memutuskan hubungannya dengan Yahudi, ia mengikrarkan bahwa wala-nya (loyalitas dan kesetiaannya) hanya pada Allah dan RasulNya. Ubadah bin Shamit yang tadinya akrab dengan Yahudi menjadi pembela Islam nomor wahid dalam memerangi Yahudi, sedangkan Abdullah bin Ubay, gembong munafik di Madinah, justru mengikrarkan bahwa ia akan terus loyal dan bersekutu dengan Yahudi dengan mengemukakan beragam alasan ke Rasulullah. Akhirnya kita tahu, Ubadah bin Shamit menjadi teladan baik bagaimana seorang Muslim bersikap ke orang-orang kafir Ahli Kitab, sedangkan Abdullah bin Ubay menjadi contoh yang buruk dan simbol kemunafikan karena loyalitas serta persahabatannya dengan Yahudi. Inilah yang menjadi Asbabun Nuzulnya surat Al-Maidah ayat 51-53, riwayat ini diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabari, Ibnu Ishaq dan tercantum dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Imam Ibnu Katsir. 
 
Dengan gelagat yang tidak enak dari kaum Yahudi dan perkataan buruk mereka kepada Rasulullah, maka memang sepatutnya kaum Muslimin waspada terhadap ancaman Yahudi, khususnya Bani Qainuqa. Dalam sebuah riwayat Rasulullah juga sampai mengkhawatirkan ancaman dari Bani Qainuqa “Aku sangat khawatir dengan (ancaman) Bani Qainuqa”. Di antara tiga keluarga Yahudi di Madinah: Qainuqa, Nadhir dan Quraizah, Bani Qainuqa inilah yang memiliki keganasan dan permusuhan yang paling tinggi terhadap Islam. “Bani Qainuqa adalah kelompok Yahudi pertama yang membatalkan perjanjian mereka dengan Rasulullah SAW” terang Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyahnya.
 
Penyerangan ke Bani Qainuqa tersebut terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal tahun 2 H, tepatnya bulan kedua puluh setelah hijrah. Nabi mengepung mereka sampai tanggal satu bulan Dzulqa’dah. Dengan begitu Sayyidul Mursalin mengepung Bani Qainuqa selama sekitar dua pekan berturut-turut. Dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, dikatakan Rasulullah mengepung mereka selama 15 hari.
 
Namun penyebab langsung peperangan dengan Bani Qainuqa bukan semata kedengkian dan perkataan buruk mereka saja yang diarahkan ke Rasulullah beserta kaum Muslimin, namun akibat peristiwa pelecehan terhadap Muslimah. Kisahnya ada seorang Muslimah dari kalangan Badui yang menikah dengan lelaki Anshar sedang ke pasar Bani Qainuqa dengan membawa barang yang akan dijual di pasar, wanita itu sedang duduk di dekat sebuah toko emas dengan perhiasan kecilnya, lalu seorang Yahudi Bani Qainuqa datang dan duduk di sebelahnya, tanpa sepengetahuannya si Yahudi itu mengaitkan pakaian luar wanita Muslimah itu ke punggungnya, dengan menggunakan peniti, lantas saat wanita itu berdiri pakaian wanita itu tersingkap dan terlihatlah auratnya. Kaum Yahudi pun menertawainya, karena pasar Bani Qainuqa memang pasar Yahudi dan dipenuhi kaum Yahudi.
 
Wanita itu menjerit meminta pertolongan, kebetulan ada seorang pemuda Muslim yang lewat, lantas membela kehormatan Muslimah itu, ia membunuh Yahudi yang langsung melecehkan wanita itu, tapi bani Qainuqa yang melihat perbuatan pemuda Muslim tersebut lantas mengeroyok pemuda itu sehingga pemuda tersebut syahid, tewas dibunuh gerombolan Bani Qainuqa itu. Akhirnya masalah diketahui oleh Rasulullah dan kaum Muslimin, sehingga Rasulullah memutuskan untuk memerangi Yahudi Bani Qainuqa dan mengepung mereka di bentengnya.
 
Tetapi karena ada permohonan dari gembong munafik Abdullah bin Ubay, di mana ia adalah tokoh Khazraj Madinah yang cukup dipandang, maka Bani Qainuqa tidak jadi dieksekusi namun hanya diusir. Sekalipun demikian, hal ini terjadi karena syariat waktu itu belum memberikan hukum kepada para pemberontak dari kalangan kafir serta ada pertimbangan politis mengingat Abdullah bin Ubay adalah tokoh Khazraj yang berpengaruh di Madinah. Hukum finalnya menurut surat At-Taubah mereka dihukum potong tangan dan kakinya jika menyerah dan merelakan diri, jika melawan mereka harus diperangi dan dieksekusi mati. Begitulah hukum final ketika surat At-Taubah turun. At-Taubah sendiri merupakan surat qital (perang) dan di dalamnya banyak ayaatu as-saif (ayat-ayat pedang). 
 
Berbagai kejadian seputar Bani Qainuqa ini memberi kita beberapa pelajaran, teladan dan hukum di antaranya:
 
Pertama, Wajib memberikan loyalitas, keberpihakan serta kesetiaan hanya pada Islam dan kaum Muslimin saja, siapa yang bersahabat dengan kafir Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) ia adalah munafik, bahkan jika persahabatannya dilakukan di tengah terjadi konflik antara Islam dengan Yahudi-Nasrani maka orang yang loyal kepada orang-orang kafir Ahli Kitab tersebut adalah munafik tulen yang ancamannya adalah neraka yang paling dasar. Kaum munafik membahayakan aqidah dan keamanan kaum Muslimin dengan berkedok Islam, oleh karena itu sangat berbahaya. Islam jelas melarang tiap personal umatnya bersekutu dan bersahabat dengan Yahudi maupun Nasrani, serta melarang umat Islam mengambil kaum kafir sebagai pemimpin.
 
Kedua, sifat dan karakteristik Yahudi tergambarkan jelas sekali dari peristiwa ini bahkan Yahudi di masa kini pun punya sifat dan karakter yang sama dengan pendahulu mereka. Mereka gemar membuat makar, fitnah dan senang membunuh kaum Muslimin.
 
Ketiga, Wajib membela kehormatan seorang Muslimah sebagaimana teladan pemuda Muslim yang langsung menghajar Yahudi yang melecehkan Muslimah itu serta membunuhnya. Mengeksekusi mereka diperbolehkan walaupun tanpa izin imam kaum Muslimin atau ulil amri, karena ini adalah jihad difa’, yakni jihad membela diri dan kaum Muslimin karena ada ancaman bahaya dari orang kafir. Perbuatan pemuda itu sama sekali tidak disalahkan oleh Rasulullah. Rasulullah jelas tidak mengadakan diskusi-diskusi melelahkan nan bertele-tele seperti sebagian umat Islam zaman ini yang sedang lalai, sering berkontemplasi dan berwacana, dengan minim tindakan. Rasulullah dan kaum Muslimin langsung mengepung serta memerangi kaum Yahudi selama 15 hari, walhasil Yahudi Bani Qainuqa menyerah, Allah menganugerahi umat Islam rasa takut dalam diri musuh-musuh Islam. Tentu jika umat Islam berkomitmen dengan syariat jihad yang agung. Rasulullah mengusir mereka dari Madinah dengan hina.
 
Keempat, perlunya ada tindakan pembelaan langsung dari kaum Muslimin yang melihat perkara seperti diteladani oleh pemuda Islam yang membela Muslimah itu. Ia bahkan tidak takut meski ia menghajar Yahudi di pasar Yahudi (Bani Qainuqa) dan dipenuhi orang-orang Yahudi. 
 
Kelima, pengepungan yang cepat dan bersegera, menjadi ciri khas kepemimpinan Rasulullah, Rasulullah mengepung dan memerangi Yahudi Bani Qainuqa tanpa sedikit pun mengendorkan kekuatan tempurnya. Ini memberikan keteladanan bagi kita, justru memerangi orang-orang kafir harus dengan serangan kilat, menggentarkan (memberi rasa takut musuh) dan tidak mengendorkan sedikit pun semangat peperangan serta kekuatan tempurnya sampai mereka benar-benar kalah atau menyerah. Ini bisa diaplikasikan umat Islam yang insya Allah akan memerangi secara total Yahudi Israel untuk merebut Masjid Al-Aqsa, kota Al-Quds dan seluruh Palestina. Tentunya dengan semangat ukhuwah yang kuat serta kesadaran bahwa umat Islam memiliki musuh bersama. (bersambung)  
 
Ilham Martasyabana, 
Pegiat The Site of Study for Sirah Nabawiyah and Islamic Civilization 
 
0 Komentar