Adi bin Hatim, Saksi Hidup Kebenaran Ucapan Rasulullah

Selasa, 25 Februari 2014 - 14:39 WIB | Dilihat : 11654
Adi bin Hatim, Saksi Hidup Kebenaran Ucapan Rasulullah Ilustrasi

Ia telah membuktikan dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri dua dari tiga ucapan Rasulullah yang pernah didengarnya.

Adi bin Hatim bin Abdullah bin Saad bin Hasyraj At-Thai adalah seorang kepala suku Thai. Sebagai seorang kepala suku, Adi sangat membenci Rasulullah dan Islam. Ia mengakui tak ada seorang pun di kalangan bangsa Arab yang kebenciannya terhadap Rasulullah melebihi dirinya. Permusuhannya kepada Rasulullah sangatlah keras. Padahal, dia sendiri belum pernah bertemu beliau. Saking bencinya, kelak ketika pasukan Rasulullah mendekati wilayahnya, ia segera kabur mengamankan dirinya ke wilayah Syam yang ketika itu dikuasai Romawi.

Di kalangan kaumnya, Adi adalah orang yang sangat dihormati. Ia memungut pajak dari rakyatnya sebesar seperempat dari penghasilan mereka. Sebagai seorang pemimpin, Adi seorang yang cerdas. Ia juga pandai berorasi. Lalu, bagaimana kisah hingga dia masuk Islam?.

Masuk Islamnya Adi, tak lepas dari peran saudara perempuannya yang pernah ditawan oleh kaum Muslimin di Madinah. Rasulullah memperlakukan tawanan ini sebagai seorang wanita yang mulia. Bahkan, saudara perempuan Adi itu kemudian diantarkan oleh Ali bin Abu Thalib ke Syam menyusul kakaknya, juga dengan penuh kemuliaan. Adik perempuannya itulah yang mendorong Adi supaya segera menemui Rasulullah Saw di Madinah. 

“Menurut pendapatku, demi Allah, sebaiknya temui dia segera. Jika dia Nabi, maka yang paling dahulu mendatanginya beruntunglah dia. Dan jika dia raja, tidak ada hinanya Anda berada di sampingnya. Anda adalah seorang raja pula,” saran saudara perempuan Adi itu.

Kepada Abu Ubaidah bin Hudzaifah, Adi bin Hatim menceritakan proses keislamannya. “Saat Allah mengutus Nabi, aku lari menjauhinya hingga aku berada di kawasan kaum muslimin paling jauh, berdekatan dengan Romawi, tetapi aku tidak menyukai tempat itu sejak pertama kali datang. Aku pun berkata, “Aku akan mendatangi orang itu (Rasulullah Saw, red), jika ia benar aku akan dengarkan, tetapi jika bohong, ia tidak akan membahayakanku,” cerita Adi.

Aku kemudian mendatanginya, dan orang-orang yang melihatku, mereka bilang, “Adi bin Hatim.... Adi bin Hatim....!” Abu Ubaidah berkata, ”Aku kira Adi menyebutnya sebanyak tiga kali.” Adi meneruskan, ”Beliau kemudian bersabda kepadaku, ”Adi bin Hatim masuklah Islam, kau selamat.” Aku bilang, ”Aku telah memeluk suatu agama.” Beliau mengulang, ”Adi bin Hatim masuklah Islam, kau selamat.” Aku bilang aku telah memeluk suatau agama.” Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali, setelah itu beliau berkata, “Aku lebih tahu agamamu melebihimu.” Aku bilang, “Engkau lebih tahu agamaku melebihiku?!” Beliau menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Bukankah kau adalah pemimpin kaummu.” Aku menjawab, “Benar.” Kemudian Muhammad menyebut-nyebut sekte Ar-Rukusiyah (kelompok kaum yang memeluk agama Nasrani dan Shabi’ah), beliau mengucapakan kata-kata yang beliau ralat kemudian beliau ditinggalkan, setelah itu beliau bersabda, “Sungguh, dalam agamamu, seperempat harta rampasan perang tidak halal (itulah bagian yang engkau ambil dari kaummu).

Adi berkata, “Saat beliau mengucapkan hal itu, aku menunduk di hadapan beliau“, setelah itu beliau bersabda, ‘Sungguh aku tahu, di antara hal yang menghalangimu (untuk masuk Islam) adalah kemiskinan yang engkau lihat di antara orang-orang yang ada di sekitarku (engkau takut miskin seperti mereka). Apakah kamu tahu Al-Hairah?.” Aku menjawab, ”Aku pernah mendengar, tetapi aku belum pernah ke sana.” Beliau bersabda, “Hampir tiba waktunya, seorang wanita pergi meninggalkan Al-Hairah tanpa pengawalan hingga ia thawaf di Ka’bah. Dan sudah dekat waktunya harta simpanan Kisra bin Hurmuz ditaklukkan.” Aku bilang, “Kisra bin Hurmuz?” Beliau menjawab, “Kisra bin Hurmuz -beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali-. Dan sudah dekat waktunya seorang mencari-cari orang untuk menerima sedekahnya tetapi ia tidak menemukannya.” Adi berkata, “Aku sudah melihat dua (ucapan Nabi), aku sudah melihat wanita keluar dari Al-Hairah tanpa pengawalan hingga ia thawaf di Ka’bah, aku bersama pasukan berkuda yang menyerang Madinah. Demi Allah, (prediksi Nabi) yang ketiga pasti terjadi. Sungguh itu adalah hadis yang aku dengar langsung dari Rasulullah.”

Riwayat lain menyebutkan, “Aku pergi hingga tiba di hadapan Rasulullah di Madinah. Aku menemui beliau, saat itu beliau berada di masjid. Aku mengucapakan salam lalu beliau bertanya, “Siapa kamu?,” Aku menjawab, “Adi bin Hatim.” Rasulullah berdiri lalu membawaku ke kediaman beliau, demi Allah beliau selalu berada didekatku, tiba-tiba ada seorang tua renta menghampiri beliau, wanita tua itu meminta beliau untuk berdiri, dan beliau pun berdiri lama sekali. Wanita tua itu menyampaikan keperluannya kepada beliau. Aku sampai berkata dalam hati, “Demi Allah, dia seperti bukan raja. Setelah itu Rasulullah membawaku pergi hingga masuk rumah, beliau mengambil bantal dari kulit berisi sabut, beliau memberikan bantal itu kepadaku,” Beliau bersabda, “Silahkan duduk di atas bantal ini.” Aku bilang, engkau saja yang memakai bantal ini.” Beliau menyahut, “Kamu saja.” Aku kemudian duduk di atas bantal itu lalu Rasulullah duduk di atas lantai. Aku pun berkata dalam hati, “Demi Allah, dia seperti bukan raja.”

Adi bin Hatim dikaruniai Allah Swt usia yang panjang. Adi bercerita lagi, “Dua perkara yang dikatakan Rasulullah sudah terbukti kebenarannya. Tinggal lagi yang ketiga. Namun, itu pasti terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita berkendaraan onta datang dari Qadisiyah tanpa takut kepada siapa pun, sehingga dia sampai ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.”

Kisah masuk Islamnya Adi bin Hatim ini menyelipkan sejumlah pelajaran (ibrah) dan menunjukkan kecerdasan Rasululah Saw sebagai seorang Nabi dan Rasul. Dakwah Nabi sangatlah tepat karena beliau tahu betul penyakit dan obat hati, serta titik-titik kelemahannya. Beliau memperlakukan setiap orang, juga Adi, sesuai dengan pengetahuan, pikiran, perasaan dan nuraninya. Inilah yang menyebabkan para pemimpin kabilah dan sebagian besar masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.

Adi bin Hatim menemukan tanda-tanda kenabian yang benar pada sisi kehidupan dan kehidupannya Nabi Muhammad. Ia juga menemukan tanda-tanda itu dari tutur kata dan pembicaraan beliau. Ia menemukan bukti kebenaran ucapan itu kemudian hari di peristiwa sejarah. Itulah yang menyebabkan Adi bin Hatim masuk Islam, membuatnya semakin yakin dan melepaskan diri dari perhiasan dunia serta fenomena kemewahan yang dimiliki kaumnya. Wallahu a’lam bissawab.

[shodiq ramadhan]

0 Komentar