Donor dan Bank ASI Menurut Islam

Sabtu, 22 September 2012 - 16:43 WIB | Dilihat : 40319
Donor dan Bank ASI Menurut Islam

Ummu Hafizh
Ketua Departemen Wanita HDI


Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2010 menyebutkan bahwa hanya 33,6% bayi berumur 0-6 bulan yang mendapat ASI (Air Susu Ibu) eksklusif. Tingkat pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, terutama: kurangnya pengetahuan tentang manfaat ASI, gencarnya promosi susu formula, dan semakin meningkatnya jumlah wanita karir.

Padahal sudah ada PP No. 33 tahun 2012, yang mengatur tentang pemberian ASI eksklusif, pendonor ASI, pengaturan penggunaan susu formula bayi dan produk bayi lainnya, pengaturan bantuan produsen atau distributor susu formula bayi, saksi terkait, serta pengaturan tempat kerja dan sarana umum dalam mendukung program ASI Eksklusif.

Bahkan, di perkotaan saat ini telah berkembang trend baru berupa donor ASI dan bank ASI. Bagaimana  Islam mengatur hal ini?

Donor dan Bank ASI Menurut Islam


Donor ASI dilakukan oleh seorang ibu yang memiliki ASI berlimpah, dan berkeinginan untuk memberikan ASI-nya kepada bayi selain anaknya sendiri. Dengan adanya donor ASI akan mendorong timbulnya bank ASI.

Donor ASI dan Bank ASI berkaitan dengan ibu yang memberikan air susunya dan bayi yang menerima air susu tersebut.  Allah SWT berfirman: “(Diharamkan atas kamu mengawini) ibu-ibumu yang menyusui kamu dan saudara perempuan sepersusuan” (QS An Nisa: 23). Islam mengatur adanya hubungan nasab, yang mengharamkan adanya pernikahan antara bayi laki-laki yang menerima donor ASI dengan ibu yang mendonorkan ASI-nya serta saudara wanita yang sama-sama meminum ASI dari wanita tersebut. Atau sebaliknya, bayi wanita yang menerima donor ASI dengan saudara laki-laki yang sama-sama meminum ASI dari ibu yang mendonorkan ASInya tersebut.   

Berdasarkan Majma’ Fiqh Islam, Majelis penelitian di bawah koordinasi OKI dalam muktamar Islam yang diadakan pada tanggal 22 – 28 Desember 1985 telah menyimpulkan: “Setelah dipaparkan penjelasan secara fiqih dan ilmu kedokteran tentang bank ASI, maka terbukti bahwa bank ASI yang telah diujicoba di masyarakat Barat menimbulkan beberapa hal negatif, baik dari sisi teknis dan ilmiah. Sehingga mengalami penyusutan dan kurang mendapatkan perhatian. Sedangkan dalam masyarakat Islam, masih memungkinkan untuk mempersusukan anak kepada wanita lain secara alami. Keadaan ini menunjukkan tidak perlunya Bank ASI. OKI memutuskan untuk menentang keberadaan bank ASI di seluruh Negara Islam serta mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.

Kerusakan yang ditimbulkan dari pendirian bank ASI: pertama, terjadinya pencampuran nasab jika distribusi ASI tidak diatur secara ketat. Kedua, pendirian bank ASI memerlukan biaya yang sangat besar dan terlalu berat untuk ditanggung oleh Negara berkembang seperti Indonesia. Ketiga, ASI yang disimpan dalam bank berpotensi terkena virus dan bakteri yang berbahaya, bahkan kualitas ASI bisa menurun drastis dibandingkan dengan ASI yang langsung dihisap  bayi dari ibunya. Keempat, dikhawatirkan ibu dari keluarga miskin akan berlomba-lomba untuk menjual ASI-nya kepada bank dengan harga tinggi, sedangkan anak mereka diberi susu formula. Kelima, para wanita karir yang sibuk dan punya uang akan semakin malas untuk menyusui sendiri bayi mereka.

Pendapat yang membolehkan pendirian bank ASI memberikan syarat yang sangat ketat: setiap ASI yang dikumpulkan di bank ASI harus disimpan di tempat khusus dengan menulis nama pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain.  Setiap bayi yang meminum ASI tersebut harus dicatat identitasnya secara lengkap dan frekuensi mengkonsumsi ASI dari pendonor yang sama. Jika bayi sudah 5 kali meminum ASI yang sama, maka kedua keluarga harus dipertemukan dan diberi sertifikat hubungan sepersusuan. Sehingga selanjutnya jelas terjadi pengharaman pernikahan diantara mereka seperti saudara kandung yang menjadi mahram mereka.

Islam juga mengatur bahwa bayi yang berhak mengkonsumsi ASI dari donor ASI hanyalah bayi yang ibunya tidak dapat mengeluarkan air susu, ibu si bayi sakit, atau ibu si bayi meninggal. Dalam situasi tersebut, di jaman nabi (memang tidak ada susu formula) tidak direkomendasikan dengan susu kambing atau sapi, tetapi dengan ASI dari ibu susu. Nabi tidak hanya mendapat ASI dari ibunya, tetapi juga dari ibu susu yang bernama Halimah Sa’diyah. Jadi bank ASI dan donor ASI boleh-boleh saja asal tetap memperhatikan masalah nasab.

Batasan Umur

Mayoritas ulama mengatakan bahwa batasan umur penerima donor ASI adalah  seorang bayi berumur dua tahun ke bawah. Dalilnya adalah firman Allah swt: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. “ (QS. Al Baqarah: 233)

Jumlah Susuan

Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Hanyasanya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram) terjadi karena lapar” (HR Bukhari No. 2647 dan Muslim No. 3679).

Hadits Aisyah ra: “Dahulu dalam Al Qur`an, susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih tetap di baca seperti itu.” (HR Muslim No.3670)

Cara Menyusu

Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan tulang, baik dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan secara langsung, ataupun dengan cara memasukkan ASI ke lubang hidungnya, atau dengan cara menuangkannya langsung ke tenggorakannya, atau dengan cara yang lain.

Seperti halnya dengan masalah bayi tabung yang dihukumi berdasarkan sperma dan ovum yang berproses menjadi zygot, bukan jima’ atau dukhul atau bertemunya pasangan suami-isteri dalam hubungan suami isteri. Sama saja dengan perihal Asi yang sampai kepada mulut bayi yang menerima donor ASI, lalu ASI tersebut masuk kedalam tubuhnya membentuk tulang, darah dan daging. Bukan perihal harus secara langsung mulut bayi menyusu dari wanita pendonor ASI.

Menyusui (ar-Radha’) berdasarkan pendapat empat Imam Madzab: Madzab Hanafi, isapan anak yang disusui terhadap payudara wanita pada waktu tertentu. Madzab Maliki, masuknya ASI seorang wanita kedalam perut bayi meskipun wanita itu mati atau masih kecil, dengan menggunakan alat untuk memasukkan ASI ke dalam perut, atau melalui suntikan, yang menjadikan ASI sebagai makanan. Madzab Syafi’i, sampainya ASI wanita atau apa yang dihasilkan dari ASI tersebut pada perut bayi atau otak atau sumsumnya.  Madzab Hambali, mengisap atau meminum ASI yang terkumpul karena kehamilan dari payudara seorang wanita dan yang seperti itu.

Jadi, memasukkan ASI ke perut bayi lewat mata, telinga atau pori-pori kulit kepala, atau pun lewat suntikan yang tidak dimaksudkan sebagai pemberian makanan, maka hal ini tidak menyebabkan pengharaman nikah. Sebab, air susu tersebut tidak melewati jalan yang biasa, sehingga tidak akan membuahkan daging dan tulang. Demikian juga ASI yang disuntikkan ke dalam tubuh namun tidak dimaksudkan sebagai makanan, maka hal ini tidak menyebabkan keharaman nikah.  

Kesimpulan

Donor ASI melalui bank ASI, berpotensi merancukan hubungan mahram atau persaudaraan karena sepersusuan. Pendonor hanya sekedar memberikan identitas dirinya secara umum, seperti seseorang yang akan mendonorkan darahnya. Selanjutnya tidak dapat dilacak siapa saja bayi-bayi yang pernah mengkonsumsi ASI-nya, sehingga tidak jelas bagi seseorang siapa bermahram dengan siapa. Akibatnya, akan terjadi kelak di kemudian hari, seorang laki-laki menikah dengan seorang wanita yang ternyata pernah mengkonsumsi ASI dari seorang wanita pendonor ASI yang sama. Bila hal ini terjadi, berarti pasangan tersebut telah melakukan keharaman karena menikahi mahram yang terjadi akibat ikatan saudara sepersusuan. Inilah bahaya yang nyata dari keberadaan donor ASI yang disimpan di bank ASI tanpa dilengkapi dengan pencatatan secara syar’i.

Oleh karena itu, Kementrian Kesehatan yang sedang menggodok peraturan yang berkaitan dengan donor ASI dan bank ASI, harus memperhatikan kaidah-kaidah syariat Islam yang berkaitan dengan hubungan nasab sepersusuan. Jangan sampai kaum muslimin yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini terjerumus dalam dosa yang turun temurun ke anak cucu. Na’udzubillaahi min dzalik!

1 Komentar