Istri tak Wajib Kerjakan Pekerjaan Rumah Tangga?

Jumat, 08 Januari 2016 - 06:24 WIB | Dilihat : 7582
Istri tak Wajib Kerjakan Pekerjaan Rumah Tangga? Ilustrasi: Alat-alat Kebersihan
SI Online - Sejak kecil, sebagian besar dari kita para muslimah, terbiasa menyaksikan ibu mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga. Dari memasak, menyapu, menyuci baju, mengepel lantai, dan banyak lainnya. 
 
Hingga kini pun, kita masih banyak menyaksikan bahwasanya semua pekerjaan rumah tangga itu dikerjakan oleh para istri, tak terkecuali kita. Pekerjaan ibu rumah tangga boleh dibilang adalah jenis pekerjaan yang tak ada selesainya, dari bangun tidur hingga tidur lagi.
 
Lelah, itu pasti. Tapi dipikir-pikir, benarkah semua jenis pekerjaan rumah tangga itu adalah tugas istri? Lalu, apakah tugas suami hanya bekerja mencari nafkah tanpa ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan, kerapihan, dan kenyamanan rumah?
 
Terkait siapa yang wajib mengerjakan pekerjaan rumah tangga, para ulama berbeda pandangan dalam hal ini. Sebab tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebutkan kewajiban memasak dan mencuci dibebankan kepada istri atau menjadi tanggung jawab suami.
 
Dalam kitab Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah, Abdul Majid Mahmud Mathlub menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan dan memperoleh keturunan.
 
Adapun pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, dan sebagainya termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. 
 
Dalam Syarh an-Nawawi, Imam Nawawi mengomentari kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, yang karena itu Asma' turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw. “Semua ini (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut) termasuk kepatutan, bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), adalah merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”
 
Sementara itu, fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda, 
 
“Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad & Thabrani)
 
Maka sebagai seorang istri, ketika suaminya memerintahkan untuk mencuci, memasak, menyapu halaman, dan sebagainya ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan untuknya dan mencucikan pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. 
 
Dalam hal ini, Nabi saw dan para sahabat Nabi pun menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.
 
Terlepas dari dua perbedaan pendapat tersebut, dalam Islam, hubungan suami istri dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, serta saling tolong menolong dalam suka dan duka. Segala urusan rumah tangga harus didasarkan dalam prinsip keikhlasan dan musyawarah, saling menasihati dalam kebenaran, serta saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan berumah tangga.
 
Semoga Allah memberkahi dan meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. 
 
(Haifa HR)

 

1 Komentar