Sebuah Catatan di Hari Ibu

Selasa, 22 Desember 2015 - 09:38 WIB | Dilihat : 4045
Sebuah Catatan di Hari Ibu  Ilustrasi

 

Saat saya mengantar anak yang baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar mengikuti pelajaran renang (ekstra kurikuler pilihannya), di area kolam renang terlihat pemandangan yang membuat risih. Ada dua  anak perempuan pelajar SMP, yang satu berpakaian renang yang terbuka leher, tangan dan pahanya. Yang satu lagi memakai celana panjang tapi atasnya memakai pakaian ketat terbuka tangannya.  Keduanya tidak memakai kerudung.  Mereka berdua berada di tengah-tengah kerumunan teman-teman laki-laki mereka yang hanya memakai celana pendek.  Bahkan anak perempuan yang satu kelihatannya dekat terus dengan pacarnya. 
 
Yang membuat pandangan saya menjadi tersentak, karena ada salah satu teman mereka yang memakai celana panjang seragam sekolah, yang tertulis nama sekolah Islam tertentu. 
 
Saya tidak bisa diam melihat hal tersebut. Rasa keIslaman saya terganggu. Saya terdorong untuk menegur mereka.  “Kalian sekolah di mana?”.  Mereka menjawab dengan menunjukkan nama SMP Islam. “Oh sekolah Islam ya? Seragamnya untuk yang perempuan setiap hari memakai kerudung?”.  “Iya”, jawab mereka.  “Loh kok sekarang begini pakaian kalian? Memang kalian tidak tahu bahwa membuka aurat berdosa? Terus ngapain kalian nih yang perempuan malah ngumpul-ngumpul disini dengan laki-laki? Sudah yang perempuan pergi ke tempat lain”, ujar saya.  
 
Terlihat jelas wajah-wajah mereka menunjukkan  perasaan tidak suka. Bahkan yang membuat saya terhenyak, tiba-tiba salah seorang anak perempuan itu menyahut dengan perkataan, “Ini urusan kami. Ibu nggak usah ikut campur deh”.  Masya Allah, dengan berang saya menjawab, “Eh kamu, masih kecil kurang ajar ya sama orangtua.  Sebagai seorang Muslim, saya berkewajiban mengingatkan kalian.  Kalian kelihatan orang saja berani berbuat seperti ini.  Bagaimana kalau kalian tidak kelihatan orang.  Kalian jangan mempermalukan Islam.  Bagaimana masa depan umat Islam, kalau generasi mudanya saja seperti ini?  Astgahfirullohal Azhim.  Mana guru kalian? Saya akan datangi sekolah kalian?”.  Alhamdulillah, akhirnya kedua anak perempuan tersebut pergi juga. 
 
Lalu saya amati sekitar kolam renang.  Teman-teman mereka yang lain banyak, dan mereka memakai baju seragam kaos olahraga tanpa kerudung.  Guru yang ada memang cuma satu orang, yaitu guru olahraga.  Setelah selesai mengajar, guru tersebut langsung pergi.  Karena tidak ada yang mengawasi, terlihat ada di antara mereka yang bermain bebas dengan berpasangan.  Main perosotan (papan seluncuran air) berduaan berpegangan, meskipun di tengah keramaian teman-teman mereka.
 
Kemaksiatan Bergelimangan
 
Ya Alloh, beginilah keadaan kaum Muslimin.  Pelajar di sekolah Islam pun tidak melaksanakan ajaran Islam.  Mereka seenaknya saja membuka aurat dan berinteraksi bebas dengan teman yang berlainan jenis yang bukan muhrimnya.  Mereka seperti tidak tahu bagaimana aturan Islam tentang pakaian yang menutup aurat.  Mereka tidak tahu bagaimana aturan pergaulan dengan yang berlainan jenis. 
 
Ini dosa siapa? Ini salah siapa?  Pemerintah, Menteri Pendidikan, Kepala sekolah, guru agama, wali kelas, guru olahraga, orangtua anak itu atau anak itu sendiri?  Dan yang sudah pasti, pemandangan ini sudah biasa terlihat di mana-mana.  Masyarakat yang mayoritas Islam pun sudah terbiasa dan diam seribu bahasa.  Tidak ada lagi yang menegur, protes, atau merasa terganggu.
 
Kemaksiatan sudah menjadi budaya.  Maka wajarlah banyak kejadian di antara para remaja Islam: pergaulan bebas, pezinahan, aborsi bahkan prostitusi.  Yang lebih parah lagi, karena sudah bosan dengan pergaulan bebas, terjadilah LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender).  Na’udzu billah min dzalik.  Kemaksiatan tambah semarak dan semakin susah diberantas.
 
Di hari ibu ini, ternyata peran ibu menjadi semakin berat. Karena tugas mendidik anak-anak untuk tetap dalam fitrah tauhidnya, menjadi beban mutlak orangtua si anak itu sendiri.  Lingkungan sudah tidak peduli, sekolah yang peduli pun hanya sebatas jam belajar di sekolah, apalagi pemerintah yang tidak membuat kebijakan-kebijakan yang melindungi umat Islam untuk dapat menjalankan syariatnya.  Serangan media membanjiri remaja dengan informasi yang mendangkalkan akidah, selama 24 jam, di kamar tidur bahkan dalam genggaman anak.
 
Gelombang Emansipasi Wanita
 
Gelombang emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20, mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia, termasuk wanita Islam. Dengan kemasan amat menarik, menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Kini banyak wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa. 
 
Posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi. Wanita tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Banyak yang bangga dengan gerakan emansipasi wanita. Persamaan hak antara lelaki dan wanita menjadi produk serta indikator kemajuan.
 
Gerakan emansipasi menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah tidak adil. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarir di luar rumah, bukan semata-mata milik kaum lelaki, tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.
 
Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini  digeluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejahteraan keluarga atau untuk mengaktualisasikan diri ke tengah masyarakat. 
 
Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karir yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah tangga sukses, yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlak yang baik, melayani suami, serta mendorong karir suami.
 
Tugas Ibu di Era Modernisasi
 
Peran muslimah amat menentukan kualitas generasi Muslim yang tangguh. Peran ibu bagi seorang anak tak hanya sebatas hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu. Perkembangan iman, psikologi, intelektual, sosial dan fisik. Diperlukan ketrampilan menjadi ibu yang baik, menanamkan nilai-nilai Islam yang dilaksanakan dalam kehidupannya sehari-hari.
 
Ibu di era modern harus bisa mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga bisa mengarahkan anak-anaknya untuk memanfaatkan segala kemudahan alat-alat komunikasi untuk kemuliaan umat Islam.  Ibu harus tegas kepada anak-anaknya agar menjalankan syariat Islam di  tengah arus modernisasi.
 
Islam tidak melarang wanita aktif di luar rumah dalam dakwah di tengah-tengah masyarakat. Tercatat kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan, Ummu Imarah ikut dalam perang Uhud dan pada waktu perang dengan Musailammah Al Kadzhab mendapat sepuluh luka di tubuhnya.
 
Islam tidak melarang wanita bekerja.  Tetapi ketika wanita bekerja, dapat memberi kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya, tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, rumah dan anak-anaknya. 
 
Jika wanita bekerja, wajib memenuhi:
1. Pekerjaanya halal, bukan haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram (Sekretaris yang berkhalwat dengan direkturnya, penari yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminumnya).
2.Pekerjaan tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaan
3. Memenuhi adab keluar rumah (berbusana muslimah, tidak berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, berbicara tidak berlebihan, tidak berbaur antara wanita dan pria, tidak memandang lawan jenis dengan syahwat dan tidak melakukan gerak-gerik yang dapat menimbulkan syahwat lelaki.
4. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
5. Tidak melalaikan tugas rumah tangga dan mendidik anak. Wallahu a’lam bissawab.
 
[Ummu Hafizh]
 
1 Komentar