Valentine Day Budaya Rusak dan Merusak

07 Februari 14:40 | Dilihat : 1819
Valentine Day Budaya Rusak dan Merusak Ilustrasi: Tolak Valentine Day

 

Februari sangat kental dengan bulan cinta, begitu banyak orang sekarang menyebutnya. Hal itu dikarenakan adanya momentum hari velentine atau sering disebut dengan V-Day. Menurut Ensiklopedia Amerika (volume XXVII/hal. 860) menyebutkan, valentine day adalah sebuah hari dimana orang-orang yang sedang dilanda cinta secara tradisional saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah-hadiah. Yaitu hari dimana Santo Valentine mengalami martir (seorang yang mati sebagai pahlawan karena mempertahankan kepercayaan/keyakinan)". Sedangkan menurut Ensiklopedia Britania (volume XIII/hal. 949), "Valentine yang disebutkan itu adalah seorang utusan dari Rhaetia dan dimuliakan di Passau sebagai uskup pertama" (smpmugamesra.sch.id). 
 
Budaya perayaan valentine jelas bukan merupakan budaya bangsa ini dan tentunya bukanlah budaya Islam. Valentine’s day adalah budaya  yang berasal dari budaya barat yang syarat dengan bumbu kebebasan. V-Day pada umumnya ditunggu oleh pasangan muda-mudi karena para pemuda seakan mendapat kesempatan untuk melampiaskan kasih sayang pada hari itu, bahkan hal tersebut didukung dengan menjamurnya acara bernuansa V-Day dengan banyaknya pernak-pernik berbau V-Day yang menyebar di berbagai toko dan pusat perbelanjaan.
 
Dampak yang dihasilkan dari maraknya perayaan V-Day ini pun tak kalah mengerikan. Melalui momentum V-Day ini penjualan kondom di sebagian daerah meningkat. Sebagai contoh di sejumlah mini market, apotek dan pedagang kaki lima di Bandar Lampung rata-rata bisa menjual 6-8 kotak perharinya dan pembelinya usia 17-23 tahun (lampung.tribunnews.com). Tak hanya itu, fenomena seks bebas juga meningkat tajam. 
 
Berdasarkan survei Tim Riset Kaltim Post tahun lalu terhadap 35 remaja di kota Samarinda yang berusia 16 hingga 18 tahun diperoleh data, sebanyak 6 remaja terbiasa merayakan Hari Valentine dengan berhubungan badan. Yang lebih memprihatinkan sebanyak 5 dari 6 orang tersebut masih berstatus sebagai pelajar di salah satu sekolah negeri menengah atas di Kota Samarinda (riaupos.co). 
 
Budaya V-Day ini berkembang pesat di negeri ini disebabkan semakin kuatnya arus liberalisasi dalam sistem sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan) yang diterapkan di negeri ini. Hal tersebut ditambah dengan adanya pengeksposan secara sengaja kemeriahan momentum V-Day ini dan mempromosikannya sebagai kampanye hari kasih sayang. Cara halus seperti inilah yang sebenarnya menyesatkan masyarakat, khususnya para pemuda sehingga budaya liberal semakin tertancap kuat di negeri ini.
 
Para kapitalis juga tidak mau ketinggalan dalam momentum V-Day ini. Perayaan VD dijadikan sarana untuk meraup keuntungan lebih dengan menjual berbagai pernik yang berkaitan erat dengan V-Day, seperti coklat, bunga, kado dan sejenisnya. Pada tahun lalu misalnya permintaan cokelat bertemakan hati di kota Malang meningkat hingga tiga kali lipat. Selain itu permintaan bunga mawar dari berbagai daerah meningkat hingga 400% (economy.okezone.com). Bahkan menurut survei ada 45% yang menyiapkan dana sebesar Rp100-300 ribu dan 43 % mau merogoh kocek lebih dari Rp300-600 ribu khusus di hari Valentine (m.viva.co.id). Maka sebenarnya siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan?.
 
V-Day adalah budaya sampah yang rusak dan merusak. V-Day berdampak buruk bagi para pemuda dan masyarakat. Pangkal dari V-Day adalah adanya budaya liberal yang dianut masyarakat. Maka harus ada upaya untuk mencegah sekaligus memberangus budaya sampah ini, yaitu: 
 
Memperkuat peran keluarga
 
Keluarga memiliki peran penting sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Keluarga bisa menjadi benteng virus liberalisme dan budaya perayaan V-Day. Maka diperlukan penguatan keluarga dengan menanamkan nilai moral dan agama serta selalu terikat dengan hukum agama (syariat).
 
Mengoptimalkan peran sekolah
 
Sekolah harusnya berperan untuk menangkal budaya perayaan V-Day ini. Guru melalui kurikulum harusnya memasukkan materi anti merayakan V-Day ke dalam materi pembelajaran. Selain itu Dinas Pendidikan juga semestinya memberikan himbauan dan pelarangan terkait kegiatan tersebut. 
 
Teladan orang tua dan lingkungan
 
Orang tua menjadi model panutan yang memberikan teladan bagi anaknya. Orang tua harus mencontohkan yang baik dengan tidak ikut merayakan V-Day (meski antar suami istri) sehingga bisa dicontoh anak-anaknya. Lingkungan semestinya juga tidak mengekspos kemeriahan V-Day, termasuk toko dan pusat pusat perbelanjaan tidak menjual pernak-pernik V-Day.
 
Peran Negara memberangus budaya liberal
 
Negara harusnya memfilter budaya asing yang masuk. Budaya asing yang merusak (sekulerisme, liberalisme, kapitalisme) seharusnya tidak mendapat tempat di negeri ini karena budaya tersebut yang membuat negeri ini terpuruk di semua lini. #TolakValentineDay 
 
Wijaya Kurnia Santoso 
(Tim Yuk Ngaji Nganjuk)
 

 

0 Komentar