Full Day School, Membentuk atau Memperburuk Karakter?

Minggu, 14 Agustus 2016 - 16:33 WIB | Dilihat : 3165
 Full Day School, Membentuk atau Memperburuk Karakter? Ilustrasi: Murid Sekolah Dasar.

 Atas nama realisasi pendidikan berkarakter, gagasan Full Day School hadir bak sebuah solusi emas nan cerdas. Dengan adanya program Full Day School, siswa dapat terhindar dari segala macam pengaruh negatif di luar sekolah. Ketika orang tua sibuk bekerja, tidak sanggup memberikan pengawasan yang baik, guru dan sekolah akan mengambil alih peran besar dalam pendidikan anak. 

Tidak mengapa. Orang tua tidak perlu risau dan repot berperan dalam proses pendidikan anak. Cukuplah mereka bekerja dan memenuhi kebutuhan anak secara materi. Serahkan semua masalah pendidikan kepada pihak sekolah, maka sang anak akan menjadi jiwa yang berkarakter. Begitulah kiranya sang Mendikbud berwacana usai pelantikannya beberapa waktu lalu.
 
Anda yakin atas kebenaran statement tersebut?
 
Coba kembali fikirkan. Kurikulum sekuler yang tertanam di sudut-sudut sekolah akan mampu membentuk jiwa yang berkarakter? Sementara kurikulum pendidikan saat ini lebih menekankan pembentukan intelektualitas (IQ) dibandingkan pembentukan jiwa dan karakter (EQ). Dari sini, anak bisa jadi ia cerdas tapi culas, bermental koruptor misalnya. Dan ini jauh lebih membahayakan bagi pendidikan generasi ummat. Anak diajarkan untuk mengabaikan nilai-nilai agama dalam kehidupan. Seakan agama hanyalah bagian kecil daripada mata pelajaran harian. Cukup dipelajari dua jam dalam seminggu. Cukup diterapkan dalam ibadah ritual. Tidak lebih dari itu. 
 
Maka jelas bahwa kurikulum saat ini hanya akan membuat generasi jauh dari karakter taqwa. Abai akan identitas seorang muslim. Asing terhadap nilai-nilai agama dalam kehidupan. Inikah yang dinamakan pendidikan berkarakter? Atau malah pembodohan karakter?
 
Selain itu, coba kembali pikirkan. Sepanjang apapun waktu guru untuk mendidik. Sebesar apapun peran yang sekolah ambil dalam proses pendidikan. Semua tidak akan pernah mampu menggantikan peran keluarga dalam proses pendidikan anak. 
 
Peran keluarga jauh ebih penting bagi proses pendidikan anak. Ada sosok ibu yang hadir sebagai guru utama bagi para anak. Sosok yang tegar sekaligus lembut, khusus dilahirkan  sebagai pendidik bagi para generasi. 
 
Pendidikannyalah yang mampu melahirkan sosok yang berkarakter juga bertakwa. Pengawasannyalah yang mampu melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif era kini. Tiada duanya.
 
Bukankah begitu seharusnya?
 
Namun realita tak mengindahkannya. Sistem yang ada saat ini memaksa para ibu untuk turut andil dalam pencarian nafkah. Membuat mereka lupa akan identitas seorang pendidik. Seakan materi jauh lebih berarti bagi sang buah hati. 
 
Mereka terpedaya, bahkan seringkali tidak menyadarinya. Menjadi budak atas gaya penjajahan yang tersirat, neokolonialisme. Sementara di satu sisi, sosok anak, sang generasi, begitu amat membutuhkannya.
 
Tidak salah lagi. Full Day School hanyalah sarana guna memperkuat pengaruh kurikulum sekuler bagi generasi, juga melanggengkan pemberdayaan terhadap perempuan. So, untuk siapakah gagasan Full Day School diusung?


Salma Azizah Dzakiyyunnisa
Pelajar, Asal dari Bandung
0 Komentar