Romantisme Cinta

Selasa, 23 April 2013 - 09:48 WIB | Dilihat : 6104
Romantisme Cinta

Cinta kepada makhluk itu kebergantungan hati kepada makhluk sehingga menyebabkan kenyamanan saat dekat dengannya atau perasaan gelisah saat jauh darinya. Definisi ini tidak bisa disamakan dengan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah sudah didefinisikan dalam surat Ali Imran ayat 31 yang artinya Katakanlah Muhammad, “Jika kamu cinta kepada Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  Ekspresi cinta adalah ittiba’. Jadi menapak tilas jejak hidup Rasulullah dari semua sisinya. Di dalam diri Rasulullah tidak hanya ada perang dan keperkasaan, tapi juga taman bunga dan kelembutan. Ada canda, kehangatan, dan air mata rindu.

Imam masjid Quba, Shaykh Salih Al Maghamsi yang penulis kagumi menjelaskan dengan romantis apa itu cinta kepada Allah. Jika seorang hamba telah megenali tentang keridhaan Allah, berarti mengindikasikan Allah telah mencintainya. Dan Nabi Muhammad adalah seorang hamba yang paling mengenalinya. Nabi Muhammad menjelaskan janji Allah yaitu Jika Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Allah tidak akan melemparkannya ke dalam neraka. Atas dasar ini, wahai laki-laki dan wanita yang diberkahi Allah, jadikanlah obsesi terbesarmu dalam hidupmu adalah mendapatkan cintanya Allah. Tidak boleh ada yang lebih besar. Karena jika Allah sudah mencintaimu, maka kamu selamat dari neraka.

Kalau kamu ingin mendapat cintanya Allah, maka berusahalah mencari di dalam Alquran dan hadits, mana yang diridhai oleh Allah dan cari titik-titik yang diridhai Allah. Dalam hadits dijelaskan bahwa ketika seorang hamba berusaha mendekat kepada Ku dengan memperbanyak ibadah-ibadah sunnah, maka Aku akan mencintainya. Jadi diantara cara yang paling penting dan berefek besar mendapat cintanya Allah adalah perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah setelah engkau mengerjakan yang wajib. Ini diantara cara yang paling hebat untuk mendapat balasan cintanya Allah.

Sesungguhnya seseorang tidak akan pernah mencapai derajat mendapat cintanya Allah sebelum ia menjadikan satu-satunya yang paling agung dalam dirinya adalah Allah. Allah berfirman, Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan sesembahan, mereka mencintai tandingan-tandingan itu seperti mereka mencintai Allah atau bahkan lebih dari mencintai Allah. Begitulah gaya hidup orang-orang yang kufur.

Sedangkan karakter orang beriman itu, mencintai Allah melebihi segalanya. Ia tidak punya tandingan-tandingan selain Allah. Kalau seseorang ingin tahu seberapa besar cintanya kepada Allah, maka perhatikan dua hal di dalam dirinya. Pertama seberapa besar keinginannya dan kecintaanya kepada sesuatu yang diridhai Allah. Kedua seberapa besar keinginannya mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsu. Pada saat itu, lihat mana yang ia pilih diantara keduanya. Ini menjadi barometer cinta seorang hamba kepada Allah.

Ibrahim, Ishak, dan Yakub adalah diantara nabi yang patut kita jadikan contoh dalam mencintai Allah.  KetikaIbrahim dihadapkan 2 pilihan antara Allah dan lainnya,maka Ibrahim pasti memilih Allah. Ishak tidak pernah mendebat Allah. Setiap Yakub  bertambah musibah, maka bertambah pula prasangka baiknya kepada Allah.

Andi Ryansyah
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

1 Komentar