Kasus Perkosaan Marak, Siapa yang Salah?

Selasa, 02 April 2013 - 11:27 WIB | Dilihat : 5170
 Kasus Perkosaan Marak, Siapa yang Salah?

Achmad P Nugroho
Mahasiswa PNJ
Sekretaris Direktur LAPMI HMI Cabang Depok

Akhir-akhir ini, pemerkosaan menjadi sebuah trending topic dalam indeks berita nasional. Bahkan peristiwa yang terakhir, menimpa seorang pelajar SMK disalah satu sudut kota Jakarta. Gadis tersebut diperkosa secara bergiliran dan beramai-ramai oleh sembilan pelaku, yang (sebenarnya) hampir sebaya dengan sang korban. Sontak, kejadian ini membuat sebagian dari kita mengelus dada. Peristiwa tersebut tentu menambah daftar hitam mengenai kekerasan seksual di negeri tercinta. Sebelumnya, kita juga telah mendengar mengenai berita dugaan pelecehan seksual oleh seorang oknum guru disalah satu SMA unggulan di Ibukota. Kita juga masih ingat mengenai nasib seorang gadis SD yang meninggal dunia, akibat tindakan pelecehan seksual dan pemerkosaan ayahnya sendiri, dan masih banyak lagi kisah-kisah tragis nan miris mengenai pemerkosaan dan pelecehan seksual disekitar kita.

Berdasarkan data Polda Metro Jaya, kasus pemerkosaan di DKI Jakarta meningkat 13,33 persen. Tahun 2010 terdapat 60 kasus pemerkosaan, tahun 2011 terjadi 68 kasus pemerkosaan. Sementara menurut laporan Komnas perempuan 2011, kekerasan terhadap perempuan didominasi dengan pemerkosaan sebanyak 400,939. Angka terbanyak dilakukan dalam rumah tangga 70.115 kasus, pemerkosaan dilakukan suami, orangtua, saudara atau keluarga dekat. Sedangkan pemerkosaan di tempat umum terjadi sebanyak 22.285 kasus. Dalam data tersebut terungkap 1,561 kasus pemerkosaan yang tidak terselesaikan. Angka dalam data-data tersebut, tentu menjadikan tanda tanya di diri kita: Mengapa dan bagaimana bisa?

Kejadian pemerkosaan dan pelecehan, sejatinya tidak hanya dialami di dunia. Beberapa waktu yang lalu, kita tentu tidak lupa ketika seluruh dunia, digemparkan dengan kasus pemerkosaan seorang mahasiswi di India secara massal oleh enam pemuda. Perempuan tersebut diperkosa lalu dilempar dari sebuah bis kota bagai seonggok sampah. Peristiwa ini membuat seantero negeri Bollywood itu murka. Hal serupa, juga terjadi dibelahan dunia lainnya seperti Eropa dan Amerika. Hanya saja, kultur budaya menyebabkan kasus pemerkosaan dan pelecehan bukan sebuah aib maupun tindak pidana. Bahkan dalam beberapa kasus, pemerkosaan pada kawasan ini menjadi sebuah tren dan seni ketika bercinta.

Di Indonesia sendiri, tindakan tersebut muncul sebagai dampak eskpor budaya dari Amerika dan Eropa. Hal ini memunculkan presepsi dan paradigma di masyarakat Indonesia, mengenai perilaku-perilaku disekitarnya. Presepsi dan paradigma itu menempatkan budaya perilaku Amerika dan Eropa sebagai kasta tertinggi dalam interaksi sosial bermasyarakat, sehingga seseorang yang menerapkan budaya perilaku Amerika maupun Eropa akan dipandang sebagai individu yang modernis dan berwawasan global. Bahkan tak jarang, paradigma ini menjadikan sebuah kebiasaan yang Abnormal menjadi sebuah hal yang normal.

Dunia gemerlap (Baca: dugem) misalnya, yang pada awalnya masih menjadi tabu di sebagian besar masyarakat Indonesia. Gaya hidup ini kerapkali di identikkan dengan aktivitas yang abnormal, terkadang di luar batas moral. Namun seiring zaman, gaya hidup tersebut kini menjadi sebuah kenormalan di presepsi masyarakat, khususnya Ibukota. Bahkan tak jarang, beberapa dari mereka menjadikan aktivitas dugem sebagai sebuah rutinitas keseharian serta lahan pekerjaan.

Begitupula mengenai masalah berpakaian disekitar kita. Dahulu, seorang wanita yang menggunakan pakaian mini dan ketat akan dipandang sebagai (maaf) wanita murahan. Stigma ini sebenarnya masih melekat disebagian besar kalangan pria, namun tidak dalam paradigma kaum wanita. Sebagian besar wanita perkotaan, memandang pakaian mini dan ketat adalah bentuk eksplorasi diri yang menghadirkan tingginya tingkat kepercayaan pada individu wanita tersebut. Bahkan tak jarang, para wanita berlomba-lomba untuk menampilkan lekuk tubuhnya sebagai sebuah rasa bangga dan jumawa terhadap setiap mata lelaki yang kadang takjub serta tertegun memandangnya.

Konsekuensi dari itu semua, menjadikan masyarakat Indonesia permisif terhadap ekspor budaya dari Eropa dan Amerika. Artinya, bukan tidak mungkin bila sesuatu yang kini abnormal dimata kita, menjadi sebuah kenormalan di masa depan nanti. Inilah yang harus dicermati oleh semua pihak, termasuk kalangan penggiat HAM dan aktivis feminisme dalam memandang kasus pemerkosaan dan pelecehan di Indonesia. Tentu hal tersebut harus segera ditanggulangi, sebelum menjangkiti dan menghancurkan jatidiri bangsa ini.

Upaya tanpa cela?

Tindakan pemerkosaan dan pelecehan, memang dengan apapun alasannya, tidak bisa kita perkenan. Hal tersebut jika dibiarkan apalagi dilegalkan, akan menjadi sebuah kebiasaan. Ini harus menjadi sebuah kewajiban kita, untuk menerapkan sebuah penjagaan serta pengawasan terhadap objek pemerkosaan. Akantetapi, pemerkosaan dan pelecehan tidak bisa diamati melalui akibat yang ditimbulkan serta dampak kerugian pada korban. Motivasi pelaku dalam melakukan tindakan, juga harus diikutsertakan saat menghakimi korban pemerkosaan.

Perlu diketahui, sebagian besar pelaku pemerkosa berasal dari kawasan perdesaan yang notabene masih memegang nilai-nilai rigid pada kehidupan sosial bermasyarakat. Sementara  yang menjadi korban, seringkali berasal dari kawasan perkotaan. Hal ini tentu menghadirkan perbedaan dari segi sudut pandang, dimana orang dari kawasan perdesaan kerap salah dalam menilai perilaku masyarakat perkotaan. Dampaknya ketika terjadi legalitas kondisi yang abnormal, masyarakat perdesaan menganggap hal itu adalah sebuah kesempatan untuk mencoba merasakan.

Oleh karenanya, perlu adanya pemahaman kepada masyarakat umum di Indonesia mengenai kondisi tersebut. Hal ini bermakna, bahwa tidak semua perilaku budaya abnormal di perkotaan menjadi sebuah panutan. Perilaku tersebut, juga tidak menggambarkan sebuah kebebasan yang dilegalkan secara utuh di perkotaan. Dengan demikian, kasus pemerkosaan dan pelecehan tidak hanya dituntaskan melalui hukum peradilan, melainkan juga disertai pemahaman secara komprehensif sebagai landasan pencegahan kasus tersebut di masa depan.

0 Komentar