Bahasa dan Cinta

Jumat, 08 Maret 2013 - 07:17 WIB | Dilihat : 10371
Bahasa dan Cinta

Bahasa Indonesia miskin akan istilah cinta. Rindu, kasih, sayang, suka, khawatir, harap, dan risau masuk ke dalam satu kata yaitu cinta. Lantas apakah kita bisa menilai cinta itu baik atau buruk? Cinta ini buta. Bukan seseorang bunuh diri karena tak memiliki, kawin lari karena tak direstui, atau mengkhianati sahabat karena cinta kepada pasangan sahabatnya, melainkan tak tahu cinta yang seterangnya.

Ada 50 istilah cinta dalam bahasa Arab diantaranya Al-‘Isyqu (cinta yang meluap-luap), Al-Alaqah (cinta, hubungan, segumpal darah), Asy-Syajwu (cinta yang berujung dengan kesedihan atau kegelisahan), Al-Wahl (takut, gemetar), At-Tabbalah (derita cinta),  Al-Junun (gila, tidak waras), dan  At-Ta’abbud (Penghambaan) (lihat: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. 2012.Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Bekasi: Darul Falah)

Al-‘Isyqu adalah istilah cinta terburuk dan penggunaannya tidak disukai orang-orang Arab. Seolah-olah mereka menyembunyikan kata ini dan tidak digunakan dalam bahasa resminya. Hanya manusia zaman sekarang yang suka menggunakan kata ini. Seorang penyair pernah berkata,    
  
Apa sulitnya bagi seorang pendusta
untuk berkata, padamu kuserahkan cinta
dia berkata sebenarnya engkaulah kekasihku
sekalipun tak ada ketulusan pada dirimu


Al-Alaqah bisa juga dibaca Al-Aliqu yang berarti mencintai dengan segenap hati. Hati selalu ingin berhubungan dengan yang dicintai. Dalam syair dikatakan,

Hubungan antara ibu dan sang putra
laksana uban yang bercampur rambut hitam
   
       
Al-Wahl dapat terjadi ketika tiba-tiba orang yang mencintai melihat orang yang dicintai. Ia akan terpesona, terperangah, dan berubah rona wajahnya. Tak sepatah kata terucap dari lidahnya. Mengapa hal ini dapat terjadi? Karena keindahan yang menguasai hati. Hati yang dikuasai menjadi tawanan. Tentu tawanan akan gemetar menghadapi penawannya. Seorang penyair berkata,

Tanda cinta yang menyusup ke dalam hati
ada yang berubah jika dia melihat yang dicintai
     
     
At-Tabbalah dari kata tabala, yang artinya dibuat binasa. Menurut Al-Jauhary, tabalahum ad-dahru yang artinya waktu telah membinasakan mereka. Syair Ka’b bin Zuhair bin Abu Sulma berbunyi,

Kebahagian hatiku hari ini menjadi derita
terikat dan terbelenggu karenanya
          
Al-Junun dapat  terjadi karena cinta. Cinta manusia yang menggelora dan berlebihan akan menutup akal, sehingga tidak bisa berpikir secara sadar dalam membedakan hal-hal yang baik atau buruk. Dikatakan dalam syair,

Engkau gila karena orang yang dicinta
cinta yang membara lebih nyata dari gila
bara itu tidak padam sepanjang masa
orang  gila menggelepar kapan pun juga.
     
     
At-Ta’abbud adalah puncak cinta dan ketundukan. Cinta kepada yang menciptakannya adalah fitrah manusia.  “Tidak Kuciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah (cinta) kepada Ku.” (Az-Zariyat: 56). Visi cinta  yang mulia apabila manusia cinta karena Allah, dengan cara Allah, dan mengharap ridha Allah.  Sejarah mengenang satu kata cinta dari Bilal bin Rabah yaitu Ahad. “Miskin bahasa cinta bukan berarti Indonesia miskin cinta”

Andi Ryansyah, Mahasiswa UNJ, tinggal di Jakarta Timur

1 Komentar