HMI dan Revitalisasi Gerakan Mahasiswa Islam

Selasa, 05 Februari 2013 - 11:35 WIB | Dilihat : 11203
HMI dan Revitalisasi Gerakan Mahasiswa Islam

Achmad P Nugroho
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Sekretaris Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Depok

Pasca reformasi, marak organisasi baru berdiri yang ragamnya mulai dari partai, lembaga sosial hingga ormas yang bersifat kedaerahan. Situasi ini juga menimpa pada organisasi mahasiswa khususnya yang beorientasi keIslaman. Tercatat ada KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang berdiri tahun 1998 dan GEMA Pembebasan (Gerakan Mahasiswa Pembebasan) yang hadir di tahun 2005. Kemunculan dua organisasi mahasiswa Islam ini menambah keberadaan organisasi mahasiswa sebelumnya seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), SEMMI (Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah), dan organisasi mahasiswa Islam lainnya. Secara kasat mata, banyaknya keberadaan gerakan mahasiswa Islam di Indonesia menunjukkan keberagaman yang ada di negeri tercinta.

Namun bila diteliti lebih lanjut,justru situasi tersebut melemahkan kekuatan Ummat Islam di Indonesia. Terjadinya friksi antargerakan mahasiswa di kampus-kampus kadang lebih kental nuansa politis dibandingkan nuansa ideologis.Bahkan terkadang masing-masing gerakan menafikkan keberadaan gerakan lainnya dan mengkafirkan gerakan diluar mereka. Apalagi kebanyakan gerakan mahasiswa Islam di Indonesia membawa bendera rujukan  ideologi yang berbeda, seperti PMII (NU), IMM (Muhamadiyah), SEMMI (SI), KAMMI (PKS), dan GEMA Pembebasan (HTI). Kondisi tersebutlah yang terkadang menyulitkan Mahasiswa Islam bergerak bersama dalam mewujudkan aspirasi umat Islam di Indonesia. Perbedaan orientasi rujukan ideologi inilah yang terkadang menyempitkan arena pemikiran para mahasiswa Islam, dimana mereka lebih berkutat mencari celah kesalahan rujukan ideologi yang dimiliki oleh gerakan mahasiswa Islam lainnya.

Praktis hanya HMI yang tak mempunyai rujukan ideologi tetap dalam gerakannya.Sejak awal berdiri pada tanggal 5 Februari 1947, HMI memang tidak pernah menjadikan organisasi tertentu sebagai pijakan ideologi termasuk dengan Masyumi yang kerapkali disebut sebagai Bapak Ideologis HMI. Sikap Indepedensi inilah yang membuat HMI tetap tegar sebagai organisasi Mahasiswa Islam, meskipun Masyumi dibubarkan oleh Orde Lama. Tidak adanya rujukan ideologi tetap inilah yang menyebabkan hampir semua ideologi masuk dan berpolarisasi didalam HMI. Mulai dari Islam Kiri, Islam Liberal, hingga berbagai rujukan ideologi yang menyebar di kalangan umat.

Sayangnya, polarisasi Islam Liberal dan Islam Kiri amatlah kuat dalam HMI sehingga amat jarang kita temui anggota HMI yang mencerminkan pribadi insan Islami. Namun, kondisi tersebut tidak mengeneralisir bahwa HMI adalah organisasi Liberal atau kekirian seperti justifikasi subjektif aktivis gerakan mahasiswa Islam lainnya, terutama yang mengklaim bergerak di bidang dakwah. Hal tersebut dikarenakan dasar pijakan yang digunakan adalah sumber ajaran Islam (Al-Qur’an&Hadist) serta NDP (Nilai Dasar Perjuangan) yang merupakan penjabaran taktis gerakan HMI. Oleh karenanya realita yang terjadi saat ini, bukanlah kesalahan HMI melainkan kesalahan presepsi masing-masing pribadi yang menjalankan roda organisasi.

Revitalisasi, Mimpi atau Potensi?

Kondisi HMI yang tak punya rujukan tetap ideologi seperti organisasi mahasiswa Islam lainnya bisa menjadi potensi inisiator HMI dalam merevitalisasi gerakan mahasiswa Islam di Indonesia. Revitalisasi ini bisa dimulai dalam menyamakan presepsi tujuan akhir gerakan mahasiswa Islam. Tujuan tersebut haruslah konkrit dan bukan sekadar hipokrit semata. Gerakan mahasiswa Islam sudah seharusnya bersatu bergerak seirama untuk kepentingan umat, bukan untuk kepentingan elit pejabat.

Selain itu kondisi HMI yang masih terpolarisasi oleh Islam liberal maupun Islam kiri harus dapat dibenahi oleh kelompok gerakan Islam dari unsur lainnya. Pembenahan ini merupakan pembenahan internal yang berarti bahwa unsur gerakan Islam berkontribusi dalam menghadang hegemoni pemahaman-pemahaman yang berkembang dalam organisasi ini. Fakta sejarah tentang HMI sebagai anak “ideologis” Masyumi harus dimaknai bahwa HMI berpotensi sebagai pemersatu ummat.

Dengan demikian, sudah merupakan sebuah kewajiban bagi kita sebagai mahasiswa Islam untuk meneruskan semangat ukhuwah Islamiyah dan perjuangan dakwah yang diwariskan 66 Tahun yang lalu. Revitalisasi Gerakan Mahasiswa Islam tak kan tercapai bila masing-masing unsur gerakan Islam tetap taqlid dan fanatik buta terhadap rujukan ideologinya. Indepedensi gerakan juga mesti dijaga dimana menyatakan yang benar adalah benar, dan yang salah tetaplah salah.

Revitalisasi gerakan mahasiswa Islam harus diawali dengan iktikad dari masing-masing unsur gerakan untuk menggali lebih dalam esensi perjuangan terhadap umat, terlepas dari caranya apakah itu melalui penyampaian dakwah, penegakan khilafah & syariah, maupun penggunaan siyasah (politik). Sehingga tercapainya masyarakat madani dan rabbani ditengah-tengah ummat ini, bukan sekadar mimpi.

0 Komentar