Menjadi Muslim Pemberani

19 Februari 14:30 | Dilihat : 3335
Menjadi Muslim Pemberani Ilustrasi pejuang Palestina mempertahankan Al Aqsha
 
Pemberani atau keberanian biasanya dalam bahasa Arab disebut sebagai Syaja'ah Pemberani adalah sifat yang apa bila di dengar saja membuat hati membara, jiwa serasa terbakar, semangat pun menggebu apa lagi bila yang mendengar para pemuda, bahkan musuh-musuh pun bergidik merinding mendengar kata ini. Pemberani merupakan sifat yang seharusnya tertanam dalam pribadi seorang muslim. Lantas apa itu keberanian? Apakah berani menantang orang ataukah berani berkelahi?
 
Seseorang Tentara sekalipun, walau dia bersenjata lengkap, berpakaian seragam lengkap, rapih dalam berbaris, tidak pula langsung dapat dikatakan sebagai pemberani, karena ketika dihadapkan padanya musuh yang nyata, sebagaiman buya HAMKA dalam buku Pribadi Hebat mengatakan “Karena banyak juga pengecut yang sanggup menghadapi musuh, memegang bedil dengan tangan menggigil.” Terkadang pula ada juga orang yang walau hanya bersenjata seadanya, tidak menyurutkan semangatnya melawan musuhnya.
 
Pemberani tidak berarti seseorang yang tidak memiliki takut. Rasa takut dimiliki oleh semua orang yang normal, rasa takut adalah normal. Keberanian (courage) seseorang justru dapat dilihat dari sikap diri dalam menghadapi rasa takut itu. Seseorang yang disebut pemberani adalah orang yang mampu overcome their fear, menghadapi rasa takutnya, bahkan meletakan rasa takutnya seolah-olah ia berkawan dengan rasa takut tersebut. Dia yang memilih berbalik lari ketika dihadapkan oleh rasa takut adalah mereka yang disebut sebagai pengecut (coward).
 
Inazo Nitobe dalam bukunya Bushido menggambarkan keberanian seorang samurai dengan mengatakan “Orang yang benar-benar pemberani adalah orang yang selalu tenang, ia tidak pernah terkejut, tidak ada yang bisa mengusik ketenang jiwanya. Di tengah pertempuran yang sengit ia tetap tenang, ditengah bencana yang dasyat, ia menjaga pikirannya tetap jernih.” Dalam kultur masyarakat Jepang, samurai memang menjadi simbol kultural dari jiwa ksatria yang pemberani. Bila tidak sedang berperang maka yang para samurai banyak yang menyibukan dirinya untuk melakuka meditasi menenangkan pikirannya.
 
Setidaknya Mental seorang pemberani yang digambarkan Inazo Nitobe, menjelaskan kepada kita bahwa seseorang yang berani adalah mereka akalnya tetap berjalan ketika dihadapkan mara bahaya, selalu mampu mengendalikan dirinya dan pikirannya tidak tertutupi oleh dorongan emosional belaka. Bila seseorang hanya bertindak hanya didasarkan pada dorongan emosional belaka yang sifatnya sesaat, maka tindakan tersebut tidaklah bisa disebut sebagai sifat pemberani, tapi lebih tepatnya disebut nekad.
 
Al Habib Umar bin Abdurrahman Al 'Athas, penyusun Ratibul 'Athas, menyelipkan salah satu Dzikir di dalam Ratibnya, yang berbunyi:
 
بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ 
 
Dengan nama Allah, aku beriman pada Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka tidak ada rasa takut dalam dirinya
 
Dzikir diatas menunjukan kepada kita bahwa seorang muslim sejati yang mengaku beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, haruslah merupakan juga pribadi yang berani, pribadi yang mampu mengatasi rasa takutnya, dengan menancapkan rasa Iman dalam sanubarinya, singkatnya Keberanian adalah refleksi dari keimanannya. Seseorang yang beriman dengan benar, niscaya dia hanya akan "melihat" Allah SWT dalam worldview atau Pandangan Dunianya. Allah SWT adalah yang Maha Satu, Dia satu-satunya tempat bergantung, Yang Maha Kuasa atas segalanya, Dia Yang Maha Besar,  Yang mengatur Alam Semesta beserta isinya, hanya kepada Allah SWT rasa takut tersebut dipersembahkan. 
 
Hilanglah alasan seseorang yang teguh memegang imannya untuk takut, jadilah dia seorang yang pemberani. Imam Syafi'i menghadapi penguasa yang zalim yang memaksa dirinya untuk mengakui kesesatan penguasa saat itu, Imam Ahmad bin Hambal bahkan sampai harus merasakan sakitnya siksaan diseret kuda berkilo-kilo panjangnya karena tidak mau mengakui kesesatan penguasa zalim itu, tapi mereka tetap tidak bergeming, tetap teguh menjaga keimanannya untuk tidak tunduk oleh kezaliman penguasa saat itu, mereka itulah sebagian dari banyaknya contoh pemberani sejati.
 
Bila seseorang muslim yang mengaku beriman tapi masih ada rasa takut, bahkan menunjukan sikap yang pengecut, maka beristigfarlah, dalam hati orang tersebut pasti ada sesuatu yang salah, pasti ada yang bermasalah pada Imannya. Bila hawa nafsu dan syahwat membelenggu mentalitasnya, ketamakan dalam diri dan ambisi-ambisi duniawi memenuhi pikirannya, maka janganlah harap muncul keberanian terpancar dari dirinya. Oleh karena itu, As Syahid Sayyid Quthb dalam ma'alim fit thoriq menganjurkan agar seorang muslim melakukan jihad akbar untuk menghilangkan hal tersebut agar memunculkan keberanian (berjihad) dalam dirinya.
 
Pikirannya hanya sibuk dalam ketaatan pada Allah SWT, hatinya penuh dengan dzikir kepada Allah SWT, maka terpancarlah keberanian dalam diri seorang muslim. Bila hal tersebut sudah termanifestasikan dalam pribadi seorang muslim, maka hanya perlu dorongan kecil dari Allah SWT:
 
...فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴿١٥٩﴾
 
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali 'Imran, 159)
 
Wallahu'alam bishowwab
 
Ali Alatas, SH
Ketua Umum Front Mahasiwa Islam
 
1 Komentar