Islam dalam Sorotan Media, Membangun atau Merusak Citra

Senin, 28 November 2016 - 12:57 WIB | Dilihat : 2194
Islam dalam Sorotan Media, Membangun atau Merusak Citra Ilustrasi media
Media sosial dengan fitur asyiknya memudahkan kita untuk membagikan informasi baru entah itu bersifat masih simpang siur atau memang sudah valid. Dengan media, informasi terkini dari manapun bahkan belahan dunia manapun bisa dengan mudah didapat.  
 
Media sudah membudaya dan mengubah budaya masyarakat tradisional ke budaya baru ‘modern’. Mereka yang terbudaya oleh teknologi, yang hanya mengikuti tren, menjadi sasaran empuk pasar teknologi dan terus berkutat dengan cerita dan keluhan dampak negatif teknologi terhadap kehidupan sehari-hari.
 
Meskipun begitu, kita tidak perlu mengisolasi diri dan bersikap anti-media sosial, Karena kehadiran media sosial keniscayaan sebagai konsekuensi pergaulan global. Dengan media juga, terlebih media sosial maupun elektronik belajar bisa menjadi lebih mudah Karena akses yang dengan mudah bisa didapat. Dakwah dengan media pun bisa dilakukan, tentu itu adalah implementasi positif dari adanya media. Alangkah indahnya media jika semua yang di informasikan berisi kenyataan sesungguhnya.
 
Televisi, adalah media elektronik pertama yang menjadi pusat para penonton dalam mengkonsumsi berita teraktual. Tidak dapat dipungkiri, kini televisi sudah menjadi ajang poilitik untuk para politikus dimana mereka bisa dengan uang mengharumkan nama mereka dan menutupi aib mereka.
 
Televisi, dengan indra visualisasi penonton dapat dengan mudah mempengaruhi paradigma penonton, juga bisa menjadi ajang perusak moral dan etika dimana yang beruang atau berkuasalah yang menang, berhasil menutupi kebohongan, dan menyebarkan berita miring.
 
Masih hangat di telinga kita tentang berita aksi bela islam II 4 November lalu. Bagaimana tidak, aksi yang dilakukan oleh umat Islam ini mencapai kurang lebih 2 juta peserta. Tak dapat dipungkiri lagi, aksi ini benar-benar menyita perhatian dari golongan muda hingga tua. Selain itu jika di liat dari ketinggian dari para peserta aksi, jalanan sekitar masjid istiqlal, bundaran HI, dan istana presiden dipenuhi oleh orang-orang yang melaksanakan aksi, jalanan seperti lautan manusia.
 
Sekiranya aksi ini terlihat menyita perhatian publik karena banyaknya peserta, namun aksi ini tidak sericuh apa yang terlintas dipikiran. Jika kita melihat realita, demo atau aksi biasanya identik dengan hal-hal kekerasan, bentrok pendemo dan aparat, perusakan fasilitas umum. Tetapi siapa yang sangka, aksi ini benar-benar aksi damai bela Islam. Banyak pemandangan indah bisa di lihat, seperti massa FPI yang membentuk pagar manusia di depan polisi, melindungi polisi dari para provokator, massa aksi yang membawa tanaman, massa aksi dan polisi yang shalat berjamaah, saling menuangkan air wudhu dengan air mineral, saling mengoleskan pasta gigi, dan rombongan santri yang bersih-bersih mengutip dan menyapu sampah.
 
Namun tetap saja, banyak provokator yang tidak bertanggungjawab mengatasnamakan sebagia pendemo, dan merusak fasilitas. Hingga media pun salah fokus, menyorotkan perhatian publik pada hal-hal yang tidak menjadi tujuan dari para peserta aksi.
 
Karena setiap media memiliki hak bebas, ada saja potensi untuk menipu. Masyarakat bisa menilai mana saja media yang suka memutarbalikkan fakta, menyajikan berita yang menyudutkan dan seterusnya yang intinya bisa dibilang anti Islam. 
 
Hal seperti ini bisa menjadi salah kaprah dalam kalangan masyarakat. Penyebaran berita yang simpang siur dianggap menjadi tanggungjawab penulis atau narasumber itu sendiri. Sekalipun banyak orang mengatakan bahwa media adalah dunia tanpa batas, namun seperti halnya berinteraksi dengan orang lain, maka sudah pasti ada etika yang harus dipatuhi. Dalam menyebarkan berita, kita harus memperhatikan kode etik.
 
Kode etik berbicara soal akhlakul karimah, jelasnya kita harus bisa membedakan mana nilai baik dan mana nilai buruk dari informasi terkini yang bisa kita bagikan, dimana sebelumnya kita sudah mengecek kebenaran data dan fakta sabagai bahan baku informasi yang akan disampaikan. 
 
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (Qs. Al-Hujurat:6)
 
Salsabila Khilda
Anggota LDK Al-Intisyar UIKA
0 Komentar