Fenomena Guru Cantik Live Bigo Saat Mengajar, Dimana Keteladanan Guru?

22 November 09:17 | Dilihat : 360
Fenomena Guru Cantik Live Bigo Saat Mengajar, Dimana Keteladanan Guru? Ilustrasi: Video seoang guru yang melakukan live bigo saat jam pelajaran.

Mercy Marselinda
Mahasiswi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta

Beberapa waktu lalu publik dihebohkan oleh ulah seorang guru cantik yang melakukan live bigo saat jam pelajaran berlangsung. Video ini menjadi viral di media sosial. Dalam  video yang berdurasi kurang dari dua menit itu, dengan wajah centil guru tersebut meminta sawer di depan para peserta didiknya. Ia bertingkah aneh dan tidak layak dilakukan seorang guru saat mengajar apa lagi jika dikaitkan dengan profesinya sebagai seorang guru. 

Video yang telah ditonton ribuan kali itu menuai beragam kritik dan komentar dari masyarakat tidak terkecuali dari para praktisi pendidikan, menyayangkan tindakan guru tersebut yang dilakukan pada saat ia mengajar di kelas. Memang, setiap orang memiliki kebebasan untuk berekspresi dan menunjukkan eksistensi dirinya. Apalagi di era digital sekarang ini, di mana teknologi informasi berkembang sedemikian pesat. 

Kemajuan di bidang teknologi informasi membuat orang dengan mudah mengakses internet, ditambah tersedianya berbagai aplikasi berbasis internet, memungkinkan setiap orang mengabadikan setiap kegiatannya sehari-hari baik melalui video atau gambar bahkan live video, dengan sekejap dapat tersebar di media sosial. Namun, yang sangat disayangkan dari video ini  adalah tingkah laku sang guru yang seharusnya menjadi panutan bagi peserta didiknya. Belum lagi, jika dikaitkan dengan integritas dan profesionalitas sebagai seorang guru dalam mendidik subjek didiknya, tentu tindakan tersebut akan sangat kontras dan menuai tanda tanya besar, sudahkah seorang guru mendidik dengan keteladanan bagi para peserta didiknya ?.

Dalam kurikulum 2013 hasil revisi, pendidikan penguatan karakter merupakan aspek penting dalam membentuk peserta didik yang berkarakter. Untuk membentuk peserta didik yang berkarakter diperlukan keteladanan dan integritas guru dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik generasi penerus bangsa. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 tentang tujuan pendidikan nasional yaitu “Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 

Untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia sebagaimana telah disebutkan dalam tujuan pendidikan tersebut, keteladanan dari seorang guru menjadi cara yang efektif dalam membentuk karakter peserta didik. Profesi guru sebagai pendidik dan pembimbing bagi para peserta didiknya merupakan profesi yang mulia dan membutuhkan kompetensi kepribadian yang baik. Jadi, seorang guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu yang dimiliki lantas selesai, namun lebih dari itu seorang guru harus mendidik dengan keteladanan dan ketulusan hati mengingat subjek didik membutuhkan figur keteladanan.

Berdasarkan teori pembelajaran konstruktivisme, bahwa ilmu pengetahuan dapat dibentuk melalui interaksi sosial. Dengan demikian, interaksi peserta didik dengan guru maupun lingkungan sekitar dapat mempengaruhi proses pembentukan karakter dari peserta didik tersebut. dalam rangka membentuk pengalaman barunya melalui  pembelajaran. Untuk membentuk pengalaman baru berdasarkan interaksi sosial dan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu  proses pembelajaran agar dapat terlaksana dengan baik, seorang guru atau pendidik sudah seharusnya berperan sebagai motivator, fasilitator, moderator, mentor bahkan role model yang baik bagi peserta didiknya.  

Peran guru ini yang nantinya dikolaborasikan dengan  empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Salah satu sub kompetensi kepribadian yang harus dimiliki seorang guru adalah berakhlak mulia dan menjadi teladan, yaitu bertindak sesuai dengan norma religius dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik. 

Faktanya, saat ini banyak guru yang perilakunya tidak mencerminkan profesinya sebagai seorang guru, bahkan di era digital ini bisa dikatakan mengalami degradasi. Jangankan memiliki integritas dan profesional dalam mendidik, keteladanan yang seharusnya dimiliki sebagai seorang guru saja  masih dipertanyakan. Salah satu contoh adalah video yang telah disebutkan sebelumnya, bahkan masih banyak guru yang kurang bisa menempatkan waktu kapan dia harus mengajar dan kapan ia melakukan aktivitas di media sosial. Masih banyak guru yang melakukan kegiatan di media sosial dan jejaring sosial pada saat jam pelajaran berlangsung tanpa ada kaitannya sama sekali dengan kegiatan pembelajaran. Tidak jarang kita dapatkan seorang guru yang live video pada saat mengajar, live story ataupun membuat vlog dengan gaya atau perilaku yang sangat tidak mencerminkan profesinya sebagai guru. 

Hal tersebut dilakukan hanya demi menunjukkan eksistensinya di media sosial. Tentu saja hal ini amat disayangkan, seharusnya dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat digunakan untuk mempermudah dan mendukung proses pembelajaran yang lebih baik sehingga menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkarakter, berkualitas dan mampu bersaing di era globalisasi ini.

Membangun kualitas peserta didik yang berkarakter dan berakhlak mulia serta memiliki integritas tinggi tanpa adanya keteladanan, bagaikan membangun istana pasir yang sewaktu-waktu akan hancur diterjang ombak. Mengingat banyaknya pemberitaan di media terkait perilaku guru yang belum menerapkan prinsip keteladanan dalam mendidik, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh dinas terkait, untuk meningkatkan kualitas, intergritas dan profesionalitas guru di era digital dan di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini. 

Pertama, Dinas Pendidikan Nasional hendaknya mengadakan pembinaan karakter bagi guru secara berkala melalui PLPG (Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru). 

Kedua, Dinas Pendidikan mengadakan pelatihan berbasis IT (Information and Technology) secara berkala, sehingga guru dapat memanfaatkan IT dengan sebaik-baiknya untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan mencegah penyalah gunaan IT. 

Ketiga, instansi pendidikan terkait sebaiknya meberikan sanksi bagi guru yang kedapatan menyalahgunakan profesinya pada saat mengajar, misalnya lebih asik bermedia sosial tanpa peduli pada peserta didiknya pada jam pelajaran  berlangsung. 

Pada dasarnya apabila guru telah memahami profesinya sebagai guru yang mendidik melalui keteladanan, maka ia akan mendidik dengan integritas dan profesionalitas yang tinggi. Semoga dikemudian hari  tiap guru dapat memberikan keteladanan yang baik bagi peserta didiknya, sehingga tidak ada lagi video-video yang mempermalukan profesi guru beredar di media. 

Jakarta, 15 November 2017

0 Komentar