Persekusi Aktifis Dakwah Jadi Alat Pemecah Belah Persatuan Umat Islam

12 November 20:30 | Dilihat : 224
Persekusi Aktifis Dakwah Jadi Alat Pemecah Belah Persatuan Umat Islam Ilustrasi

Acara kajian ustadz Felix Siauw di Bangil pada Sabtu (04/11/2017) terpaksa batal. Kehadiran ustadz yang digandrungi kawula muda  ini untuk mengisi kajian di Masjid Manarul Islam Bangil itu mendapat penolakan dari sejumlah orang dari sebuah ormas di wilayah tersebut. 

Belakangan diketahui, bahwa polisi ditekan ormas tertentu, yang meminta 3 pernyataan darinya. Yaitu: 1) Mengakui ideologi Pancasila sebagai ideologi tunggal NKRI. 2) Tidak akan menyebarkan ideologi Khilafah. 3) Menyatakan keluar dari Hizbut Tahrir Indonesia.

Sudah kesekian kalinya kajian-kajian yang sekiranya akan diisi oleh beliau dibatalkan oleh pihak yang berwenang dengan alasan yang sama yaitu mendapat tekanan dari ormas lain. Bukan hanya ustadz Felix saja yang mendapatkan perlakuan ini ustadz Khalid Basalamah, ustadz Bachtiar Natsir,Gus Nur dan ustadz Abdush Shomad, mereka juga tidak luput dari ancaman pembubaran yang dilakukan oleh ormas yang sama. Mereka berusaha membubarkan pengajian tersebut dengan dalih ceramah-ceramah beliau semua dinilai tidak menyejukkan, konten ceramahnya berisi tindakan provokatif dan radikal yang mengancam kebinekaan dan keutuhan NKRI. 

Upaya tekanan dari sekelompok ormas membuktikan bahwa pihak aparat keamanan atau kepolisian tidak berdaya dalam menghadapi ormas tersebut. Aparat seolah-olah tidak mau ambil resiko bahkan cenderung memihak pada ormas tersebut. Ini dilihat dari upaya polisi menghentikan acara pengajian daripada mengamankan acara dan mengusir pihak ormas yang berusaha ingin membubarkan pengajian. Hanya karena tuduhan anti pancasila, intoleransi dan mengajarkan Islam radikal yang dilontarkan oleh ormas tersebut polisi langsung membubarkan dan meminta para pembicara untuk pergi meninggalkan acara. Padahal jika mau di teliti semua tuduhan tersebut tidaklah terbukti. 

Upaya persekusi akhir-akhir ini tidak bisa dipisahkan dari upaya orang-orang anti Islam untuk memecah belah persatuan umat Islam. Apalagi genap satu tahun lalu umat Islam di Indonesia membuktikan bahwa persatuan Umat masih ada bahkan setelah penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok persatuan Umat Islam makin kokoh. Hal inilah yang membuat orang-orang yang anti Islam berusaha memecah belah persatuan tersebut. 

Sadar atau tidak, munculnya banyak persekusi (perburuan) dan pembubaran pengajian oleh ormas yang mengklaim penjaga Pancasila, NKRI dan kebhinekaan sudah mengarah pada perpecahan di kalangan umat Islam. Inilah hasil nyata dari upaya adu-domba dari para pihak yang anti Islam. Anehnya, Pemerintah seolah mendiamkan saja persoalan ini.

Disahkannya PERPPU Ormas no 2 tahun 2017 menjadi UU nampaknya semakin memperkeruh masalah. Alih-alih ingin menertibkan Ormas-ormas justru sebaliknya karena isi UU yang sangat dzalim dan bisa digunakan sesuai kepentingan. Jika pemerintah memang konsisten dengan UU yang dibuatnya, sudah seharusnya Banser dan GP Anshor sudah ditindak dengan UU ini karena telah melanggar pasal 59 ayat 3.d: ormas dilarang melakukan tindakan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi jelas mereka telah melanggar UU ORMAS karena mereka telah melangkahi wewenang kepolisian. Jadi jika mengacu pada UU tersebut maka Banser wajib untuk dibubarkan karena pelanggarannya. 

Upaya memecah belah kaum muslimin sebenarnya tidak lepas dari strategi global dalam menghancurkan Islam. Dalam Dokumen RAND Corporation yang merupakan lembaga think-thank (gudang pemikiran) neo–conservative AS  yang berjudul “Building Moderate Muslim Networks”, juga dalam dokumen RC berjudul “Civil Democratic Islam–Partners, Resources and Strategies,” yang diterbitkan tahun 2007 ini, langkah pertama upaya pecah-belah adalah dengan melakukan pengelompokan umat Islam menjadi empat: kelompok fundamentalis (radikal), kelompok tradisionalis, kelompok modernis (moderat) dan kelompok sekular.

Rekomendasi RC berikutnya adalah “politik belah bambu”, yakni mengangkat satu pihak dan menginjak pihak lain. Untuk memenangkan kelompok moderat, misalnya, dipropagandakanlah “gerakan melawan radikalisme”. Berikutnya adalah membentrokkan antar kelompok tersebut. Di dalam negeri, upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang dicap sebagai fundamentalis (radikal) seperti HTI dan FPI. Inilah yang telah dan sedang terjadi akhir-akhir ini.

Pererat Ukhuwah Islam

Persatuan Umat Islam saat memang menjadi mimpi buruk bagi barat. Ketakutan barat dilatarbelakangi oleh pengalaman sejarah yang menakutkan ketika mereka harus menghadapi negara superpower Khilafah Islam. Umat Islam yang bersatu dibawah Khilafah Islam berhasil menguasai 2/3 dunia. 

Setelah khilafah Islam berhasil diruntuhkan tahun 1924  saat itulah umat Islam terpecah, kalah, terjajah dan tertindas hingga saat ini. Barat memahami betul persatuan adalah inti dari kekuatan umat Islam. Khilafah Islam pada masa kegemilangan telah menunjukkan posisinya sebagai negara superpower abad pertengahan. Barat senantiasa berusaha untuk mencerai beraikan persatuan umat. Dulu ketika khilafah berada di Turki mereka memunculkan pan Turkisme dan pan Arabisme. Hingga akhirnya berhasil dipecah lagi menjadi 50 negara bangsa. Perbedaan kelompok saat ini menjadi cara jitu untuk memecah belah. Hingga tuduhan radikalis, fundamentalis, dan anti pancasila juga digunakan untuk memecah persatuan umat. Umat Islam mudah sekali disulut padahal definisi radikal Anti Pancasila saja belum clear. 

Dalam Islam perbedaan adalah rahmat. Menjaga persatuan umat adalah wajib. Kewajiban menjaga ukhuwah Islamiyah didasarkan pada nash Alquran, Allah Swt berfirman:

إِنَّمَا الْمًؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Sungguh orang-orang Mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian dirahmati. (TQS al-Hujurat [49]: 10).

Persatuan kaum Muslim harus didasarkan pada asas Islam. Belajar dari proses tatsqif Rasulullah Saw menegakkan Ukhuwah Islamiyah harus:

Pertama, dimulai dari meluruskan keyakinan dan memurnikan pemikiran dari berbagai unsur perusak  misalnya menjadikan ikatan-ikatan selain ikatan akidah Islam sebagai dasar persatuan.

Kedua, asas yang jernih dan mengakar ini haruslah senantiasa dipupuk dengan ilmu dan amal, mengikuti pembinaan Islam dan riyadhah berdakwah untuk menumbuhkan kepedulian. Berdakwah untuk menyeru mereka untuk kembali kepada keimanan Islam, kembali bersatu menjalin keterikatan kalbu dengan akidah dan pemikiran Islam hingga bersatu dalam satu kepemimpinan Islam.

Ketiga, mewujudkan persatuan kaum Muslim dibawah satu panji kepemimpinan Islam, berpegang teguh di atas tali agama Allah yang kokoh dengan menerapkan Islam kaffah dalam kehidupan, membentuk masyarakat Islam Islam yang memiliki satu pemikiran, satu perasaan, dan satu sistem hukum yakni Islam. Wallahu 'alam bish-shawab.

Lisa Budiarti
Aktifis dakwah di Cilacap

0 Komentar