Mengembalikan Karakter Para Pemuda

08 April 08:05 | Dilihat : 164
Mengembalikan Karakter Para Pemuda  Ilustrasi: Foto Pramuka yang sedang makan di atas tanah dan rumput tanpa alas yang beredar di media sosial.

Awal pekan lalu netizen dihebohkan oleh foto-foto yang viral di media sosial, di mana terlihat sekelompok remaja putri berseragam Pramuka sedang makan diatas tanah tanpa alas. Belakangan diketahui bahwa makan di atas tanah tanpa alas tersebut merupakan sanksi dari kakak pembina setelah mengetahui ada sejumlah anggotanya yang diam-diam makan di dalam tenda, dimana seharusnya semua anggota makan bersama di luar tenda. 

Humas dari Kwarda Banten, Wajid Nuad mengklarifikasi, meski itu merupakan sanksi, Wajid tetap tidak membenarkannya. Menurut Wajid, Kwarda Banten sendiri tidak membenarkan dengan adanya sanksi makan di atas tanah (Detikcom, 26/03/2017).

Hal ini juga mengundang reaksi dari beberapa tokoh, tak terkecuali Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault. Ia mengatakan, makan di atas tanah tanpa alas bukan bagian dari pendidikan dan pembinaan pada gerakan pramuka (Merdeka.com, 25/03/2017). Ketua umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait juga turut mengecam tindakan pembina pramuka yang menyuruh anggotanya makan nasi berajang tanah. Menurutnya, kegiatan Pramuka memang bertujuan melatih kemandirian, namun tak boleh dilakukan di luar akal sehat (Detikcom, 26/03/2017). 

Sanksi tersebut disayangkan oleh beberapa pihak, dimana Pramuka sebagai organisasi kepemudaan yang diklaim sebagai tempat pendidikan karakter anak bangsa memberikan sanksi yang melenceng dari etika berkarakter. Berita di atas merupakan salah satu dari berbagai macam permasalahan terkait pendidikan karakter para pemuda saat ini, meskipun pendidikan karakter diajarkan melalui berbagai kegiatan intra maupun ekstrakurikuler tetapi nyatanya pendidikan tersebut sangat jauh dari etika berkarakter, dimana kegiatan tersebut malah menuntut kegiatan-kegiatan yang bisa dikatakan konyol dan tanpa memiliki tujuan jelas. Misalnya, melatih keberanian dan kepercayaan diri dengan menyuruh berpakaian seaneh mungkin.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istilah karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain: tabiat dan watak. Dalam istilah Inggris, karakter berpadan dengan “character” yang dalam Oxford Advance Learners Dictionary of Current English (2000) dapat diartikan watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak. 

Berkowitz et al. (1998) dalam bukunya yang berjudul Handbook of moral and character education menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia telah terbiasa secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur, hal itu dilakukannya karena ia takut penilaian oleh orang lain bahwa dia seorang yang tidak dapat dipercaya, bukan karena keinginan yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri.

Melihat kondisi karakter pemuda saat ini sangat relevan dengan apa yang ditulis oleh Berkowitz tersebut, dimana mereka berkarakter tidak berdasarkan pada pemahaman yang menyeluruh. Hal ini terjadi karena dalam pendidikan karakter yang disusun dan digagas, dimana hampir semua landasan materi tidak menyinggung peran agama (Islam), sehingga para pemuda tidak memahami pondasi dari karakter yang sesungguhnya. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa telah terjadi sekulerisasi pendidikan karakter kepada para pemuda. 

Sekulerisme oleh Muhammad Qutb (1986) dalam bukunya ancaman sekulerisme, diartikan sebagai iqamatu al hayati ‘ala ghayri asasin mina al-dini, yakni dibangunnya struktur kehidupan diatas landasan selain agama (Islam). Dalam sistem saat ini, aturan-aturan Islam memang tidak pernah secara sengaja selalu digunakan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Sementara dalam urusan sosial kemasyarakatan, agama Islam ditinggalkan. Sementara itu, sistem pendidikan yang sekuler materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia berkarakter sholeh yang sekaligus mengusai iptek. Pendidikan sekuler matrealistik memberikan kepada pemuda suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material (kesuksesan) serta memungkiri hal-hal yang bersifat non materi (keridhoan Allah atas aktifitas perbuatan tersebut). Pengamatan secara mendalam atas semua hal di atas, membawa kita pada suatu kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan: bahwa semua itu telah menjauhkan manusia dari hakikat kehidupannya sendiri. Manusia telah dipanglingkan dari hakikat visi dan misi penciptaannya. 

Berdasarkan pada kondisi buruknya pendidikan karakter saat ini, maka untuk mengembalikan karakter para pemuda tersebut, diperlukan langkah optimasi pada muatan pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah), penguasaan tsaqofah Islam (kumpulan pengetahuan tentang hukum dan aturan yang berkaitan dengan keyakinan (akidah, iman), pandangan hidup, penyelesaian masalah dan sistem kehidupan masyarakat), serta tidak keluar sedikitpun dari asas akidah Islam. Pembentukan kepribadian Islam hakikatnya merupakan konsekuensi keimanan seorang muslim, yakni bahwa sorang muslim harus memegang identitas muslimnya yang tampak pada cara berfikir (aqliyyah) dan cara bersikapnya (nafsiyyah) yang senantiasa dilandaskan pada ajaran Islam. 

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : ‘sesungguhnya aku termasuk kaum muslimin’” (QS Al fushshilat 33)

“Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian, sehingga dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Hadits Arba’in An Nawawiyyah)

Selain membuat seseorang menjadi faqih, pembentukan pendidikan karakter dengan muatan kepribadian dan tsaqofah Islam sejatinya melahirkan akhlak mulia. Para ulama terdahulu benar-benar telah membuktikan hal tersebut: fakih sekaligus berakhlak mulia. 

Contohnya adalah Imam Asy-Sya’bi. Suatu saat beliau dicela oleh seseorang. Namun, beliau tidak risau apalagi marah. Beliau hanya menanggapi si pencela dengan berkata, “Jika aku seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni aku. Namun, jika aku tidak seperti yang engkau katakan, semoga Allah mengampuni engkau.” (Imam al-Mawardi, Adab ad-Dunya’ wa ad-Din, hlm. 216).

Imam Abu Hanifah pernah menahan diri untuk tidak memakan daging kambing, setelah mendengar bahwa ada seekor kambing dicuri. Ia melakukan itu selama beberapa tahun sesuai dengan usia kehidupan kambing pada umumnya hingga diperkirakan kambing itu telah mati (Ar-Rawdh al-Faiq, hlm. 215).

Akhlak mulia juga ditunjukkan oleh Imam Abdurrahman. Salah seorang ulama mazhab Syafii ini terkenal dengan sifat wara’-nya. Khurrah binti Abdurrahman as-Sinjawi, istrinya, menyampaikan, bahwa suaminya pernah tidak makan nasi sekian lama. Pasalnya, penanaman padi membutuhkan banyak air. Saat itu, di wilayah tempat tinggalnya, yakni Marwa, air tidak banyak sehingga menjadi bahan rebutan. Akibatnya, banyak petani yang melakukan kezaliman terhadap petani lainnya demi memperoleh air untuk mengairi lahannya. Inilah yang menjadi alasan mengapa Imam Abdurrahman tidak makan nasi sekian lama (Lihat: Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, V/102).

Beberapa contoh di atas hanyalah secuil gambaran tentang bagaimana generasi Muslim terdahulu dalam mempraktikkan karakternya yang tercermin dari ketinggian adab dan akhlak mereka, dan begitulah seharusnya karakter para pemuda saat ini dan masa depan. 


Nurfajrin Nisa
Alumni Pascasarjana IPB, tinggal di Sepanjang, Sidoarjo

0 Komentar