Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah?

Selasa, 13 Oktober 2015 - 12:19 WIB | Dilihat : 2540
 Menghadiri Undangan Walimah, Wajibkah? Ilustrasi : Janur kuning yang biasa dipasang sebagai penanda alamat tempat Walimah.

 

Pengasuh:
KH A. Cholil Ridwan, Lc
(Pengasuh Pondok Pesantren Husnayain, Jakarta Timur)
 
 
Assalamualaikum wr wb. Pak Kyai, kami sering mendapatkan undangan untuk menghadiri walimah, seperti walimah nikah (resepsi di gedung) bahkan juga undangan makan-makan. Menurut Islam, kecuali kita punya uzur, apakah hukumnya wajib kita menghadiri undangan seperti itu?. Bagaimana bila kita tahu akan ada kemaksiatan dalam acara itu?. Terima kasih.
 
Vina, tinggal di Depok, Jawa Barat.
 
 
 
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
 
Walimah berarti penyajian makanan untuk acara pesta. Ada juga yang mengatakan, walimah berarti segala macam makanan yang dihidangkan untuk acara pesta atau lainnya.
 
Walimah merupakan amalan yang sunnah.  Hal ini sesuai dengan hadits riwayat dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw pernah berkata kepada Abdurrahman bin Auf: “Adakan walimah, meski hanya dengan satu kambing.” (Muttafaqun Alaih)
 
Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa Rasulullah Saw  pernah melihat bekas kuning pada Abdurrahman bin Auf, maka beliau bertanya, “Apa ini?”. “Wahai Rasulullah, aku telah menikahi seorang wanita dengan (mas kawin) seberat biji emas,” jawab Abdurrahman. Lalu beliau mengucapkan, “Mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Adakanlah walimah, meski hanya dengan seekor kambing.” (HR. At Tirmidzi). Imam At Tirmidzi mengatakan, “Ini merupakan hadits hasan shahih.”
 
Jumhur ulama berpendapat, bahwa walimah merupakan suatu hal yang sunnah dan bukan wajib. Ini terkait hukum penyelenggaraan walimah. 
 
Lalu, bagaimana hukum menghadiri undangan walimah?. Menghadiri undangan merupakan suatu yang diperintahkan Rasulullah Saw, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits di bawah ini:
 
Dari Ibnu Umar, dia menceritakan Rasulullah Saw bersabda: “Hadirilah undangan, jika kalian diundang.” (HR. Bukhari, Muslim, dan AT Tirmidzi). Imam At Tirmidzi mengatakan, Ini merupakan hadits hasan shahih.”
 
Dari Abu Musa, dari Nabi Saw, dimana beliau bersabda: “Bebaskanlah orang yang dalam kesulitan, datangilah orang yang mengundang (dalam walimah) dan jenguklah orang yang sedang sakit.” (HR. Bukhari)
 
Dari Al Barra’ bin Azib, dia menceritakan: “Rasulullah Saw telah memerintahkan kami dengan tujuh hal. Yaitu, menjenguk orang sakit, menantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, membebaskan sumpah, menolong orang yang didzalimi, menyebarkan salam, dan menghadiri undangan. Beliau juga melarang kami mengenakan cincin emas, bejana perak, uang palsu, sutra halus, dan sutra kasar.” (HR. Bukhari).
 
Dari Jabir, dia menceritakan Rasulullah Saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian diundang makan, maka hendaklah dia mendatanginya. Jika menghendaki dia boleh makan,dan jka menghendaki dia boleh tidak memakannya.” (HR. Muslim)
 
Dari Abu Hurairah, dia bercerita: “Jika salah seorang diantara kalian diundang, maka hendaklah dia mendatanginya, jika dia dalam keadaan puasa maka hendaklah dia mendoakannya, dan jika tidak maka hendaklah dia makan.” (HR. Muslim)
 
Dinukil Ibnu Abdil Barr, Al-Qadhi Iyadh, dan An Nawawi: “Adanya kesepakatan untuk mewajibkan menghadiri Walimatul ‘Ursy (resepsi pernikahan). “Dalam kitab Al Fath disebutkan: “Mengenai hal itu terdapat beberapa pandangan, tetapi pendapat yang popular dari para ulama adalah mewajibkannya.”
 
Sedangkan Jumhur ulama penganut Imam Asy-Syafi’i dan Imam Hanbali secara jelas menyatakan bahwa menghadiri undangan ke Walimatul ‘Ursy adalah fardhu ‘ain. “Adapun sebagian dari penganut keduanya ini berpendapat bahwa menghadiri undangan tersebut adalah sunnah.”
 
Dari kitab Al Bahr dikisahkan dari Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana pada acara lainnya, menghadiri undangan walimatul ‘urs merupakan hal yang disunnahkan. Sedangkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas menunjukkan adanya hukum wajib menghadiri undangan. Apalagi setelah adanya pernyataan secara jelas, bahwa orang yang tidak mau menghadiri undangan telah berbuat maksiat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.
 
Nah, terkait adanya unsur maksiat dalam sebuah walimah, bila kita tahu dalam acara walimah yang hendak kita datangi itu akan ada aktivitas atau sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam maka kita boleh untuk tidak menghadiri walimah tersebut. 
 
Dari Ali bin Abi Thalib, dia menceritakan: “Aku pernah membuat makanan, lalu aku mengundang Rasulullah Saw, beliau pun datang dan melihat beberapa gambar di dalam rumah, maka beliau kembali pulang.” (HR. Ibnu Majah).
 
Karena itu, bagi pengundang, hendaknya menjadikan walimah yang dia gelar sesuai dengan syariat Islam dan tidak dilakukan aktivitas apapun yang mendatangkan dosa. Seperti dalam Walimatul ‘Urys, hendaknya dalam undangan yang dikirimkan dijelaskan bahwa walimah digelar sesuai dengan syariat Islam, karenanya para tamu diminta untuh menggunakan busana yang syar’i dan tempat duduk tamu laki-laki dan perempuan akan dipisah. Wallahu a’lam bissawab.
 
0 Komentar