Puasa Syawal Harus Berturut-turut?

Jumat, 10 Juli 2015 - 16:44 WIB | Dilihat : 4947
Puasa Syawal Harus Berturut-turut? Ilustrasi

Diasuh oleh:

KH A Cholil Ridwan, Lc
Ketua MUI Pusat, Pengasuh Pesantren Husnayain, Jakarta
Pertanyaan dikirim ke: [email protected]
 
 
Assalamualaikum wr wb. Apakah puasa sunnah di bulan Syawal harus ditunaikan enam hari berturut-turut atau boleh tidak berturut-turut?. Terima kasih. 
 
Ahmad Muttakin, Depok, Jabar.
 
 
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
 
Disunnahkan bagi seorang Muslim setelah menyelesaikan puasa Ramadhan dan merayakan hari raya Idul Fitri untuk melanjutkan berpuasa di bulan Syawal, yakni berpuasa enam hari darinya. 
 
Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari sahabat Abu Ayub al-Anshari ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu diikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa ad-dahru (puasa tiap hari sepanjang tahun). (HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan ad-Darimi. Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dari jalur Abu Hurairah ra.)
 
Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh mazhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
 
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah, Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi. Ibnu Majah meriwayatkannya dengan lafadz: “Barangsiapa yang berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri maka (sama dengan puasa) setahun penuh. Barangsiapa yang membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”
 
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa Ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Subhanallah...
 
Lalu, apakah puasa Syawal harus berurutan dan dilakukan di awal Ramadhan?. Puasa enam hari ini tidak harus dilakukan langsung setelah hari raya, juga tidak harus dilakukan secara berturut-turut. Yang diminta oleh syariat semata-mata puasa enam hari saja dari bulan Syawal, enam hari yang mana pun dan bagaimana pun darinya. Ini merupakan pendapat Ahmad. 
 
Sementara mazhab Syafi’i berpendapat berpuasa enam hari berturut-turut lebih utama. Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhal (utama) melakukan puasa Syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fitri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa Syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” 
 
Qadha’ Puasa Ramadhan Terlebih Dahulu
 
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qadha’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,“Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
 
Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi Saw tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100). Wallahu a’lam bissawab. []
 
0 Komentar