Fungsi As-Sunnah terhadap Alquran

Kamis, 22 Mei 2014 - 14:06 WIB | Dilihat : 19607
Fungsi As-Sunnah terhadap Alquran Kitab Sahih Al-Bukhari, kitab hadits yang menempati urutan pertama derajat kesahihannya.

Diasuh oleh:
KH A Cholil Ridwan, Lc
Ketua MUI Pusat, Pengasuh Pesantren Husnayain, Jakarta


Assalamualaikum wr wb. Ada segolongan orang yang menganggap Alquran sebagai sumber hukum sudah lengkap, sehingga tidak perlu lagi digunakan Hadits (As-Sunnah). Bagimana sebenarnya kedudukan hadits terhadap Alquran, benarkah klaim kelompok yang sering disebut Ingkar Sunnah itu?. Terima kasih atas jawabannya. 

Yayan, Sukabumi
 


Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh


Sunnah Rasul saw merupakan hujjah (sumber rujukan) dalam perkara agama dan salah satu dalil hukum syara’. Alquran, sumber pokok dari syariat Islam, telah menegaskan kehujjahan Sunnah. Allah swt berfirman: “…apa saja yang dibawa oleh rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah…” (QS. Al Hasyr [59]: 7).

Dalam ayat lain Allah Swt berfirman:  “Dan tidaklah yang diucapkannya itu berdasarkan hawa nafsu. Tidaklah hal itu melainkan merupakan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An Najm [53]: 3-4)

Sunnah al-Nabawiyyah merupakan wahyu dari Allah dengan makna saja. Sedangkan lafadznya (redaksinya), berasal dari Rasulullah saw sendiri. Rasul saw bersabda: “Hampir-hampir seseorang diantara kalian berbaring di atas tempat tidurnya, kemudian mengucapkan sebuah hadits dariku. Dia mengatakan: “Antara kami dan kalian terdapat Kitabullah. Dan apa saja yang kami temukan di dalamnya (al-Kitab) berupa kehalalan maka kami menghalalkannya. Dan apa saja yang kami dapati di dalamnya berupa keharaman maka kami akan mengharamkannya. Ketahuilah bahwa apa yang diharamkan Rasul Allah adalah seperti apa yang diharamkan Allah”

Sebagian besar ayat-ayat Alquran datang dalam bentuk yang umum (‘aammah), global (mujmalah) dan muthlaq. Sehingga fungsi As-Sunnah kadang sebagai tafshiil (perincian) dari keglobalan Alquran; atau takhshiish (mengkhususkan) terhadap keumumannya; atau taqyiid (membatasi) bagi kemutlakannya; atau menyertakan hukum cabang baru yang asalnya (pokoknya) bersumber dari ayat (Alquran). Allah berfirman: “Kami telah menurunkan kepadamu peringatan agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (QS. An Nahl [16]: 44)

Pertama, memerinci keglobalan Alquran (tafshiil al-mujmal). Contohnya adalah; tatkala Allah memerintahkan untuk melakukan shalat, maka Allah berfirman “Dan dirikanlah shalat…” (QS. An Nuur[24]: 56) tanpa ada penjelasan (bayaan) tentang waktu-waktu, rukun-rukun, dan jumlah raka’atnya. Dalam hal ini al-sunnah menjelaskannya dengan terperinci. Rasulullah saw bersabda:  “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” Beliau juga bersabda: “Ambillah dariku mengenai manasik yang kalian akan kerjakan.”, untuk memerici pelaksanaan ibadah haji yang difardhukan dalam Alquran.

Kedua, mengkhususkan keumuman Alquran (takhshiish ul ‘aamm). Misalnya firman Allah:  “Bagi wanita pezina dan lelaki pezina maka jilidlah masing-masing dari mereka dengan 100 kali jilidan.” (QS. An Nuur [24]: 2).

Ayat ini mengandung pengertian umum untuk seluruh pezina. Kemudian, perbuatan dan perkataan Rasul datang menghususkan keumuman ayat tersebut, yakni, bagi pezina yang belum menikah (ghayru mutazawiijiin). Mengenai orang-orang yang sudah menikah (al mutazawiijuun), maka bagi mereka dikenai hukum rajam sampai mati. Rasul sendiri pernah merajam Maa’iz dan Al-Ghaamidiyyah. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali ia adalah salah satu di antara ketiga kelompok ini, yakni laki atau perempuan yang telah beristri atau bersuami yang berzina, jiwa dengan jiwa (pembunuh), dan orang yang meninggalkan agamanya, serta memecah belah kesatuan al jamaa’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Ketiga, membatasi (taqyiid) kemutlakan Alquran. Allah berfirman: “Bagi pencuri lelaki dan wanita, maka potonglah tangan dari kedua orang itu.” (QS. Al Maa-idah [5]: 38).

Ayat tersebut mengandung pengertian mutlak, mencakup seluruh pencurian dan seluruh pencuri. Namun demikian As-Sunnah datang membatasi pencurian tersebut, dengan sabda Rasul Saw: “Potong tangan hanya dilakukan bagi pencurian yang kadarnya telah mencapai ¼ dinar atau lebih.” (Muttafaq ‘alaih);

Juga jika pencuri tersebut telah mengeluarkan barang yang dicurinya dari tempat penyimpanan, yakni tempat yang biasanya dijadikan tempat penyimpanan harta, dan serta taqyid-taqyid lainnya yang telah dijelaskan dalam Sunnah.

Keempat, menyertakan hukum cabang baru yang yang pokoknya bersumber dari Alquran. Allah berfirman: “Dan janganlah kalian mengumpulkan (untuk dinikahi) dua orang wanita bersaudara.”

Rasul Saw kemudian menyertakan hukum ini dengan hukum haramnya menggabungkan seorang wanita dengan bibinya (baik saudara dari pihak bapak atau ibu) dengan sabda Beliau Saw: “Janganlah mengumpulkan (menikahi) wanita, antara bibinya dan keponakannya. Sesungguhnya jika kalian melakukannya maka kalian telah memutuskan silaturrahim.”

Demikianlah fungsi As-Sunnah terhadap Alquran. Dengan demikian tidaklah benar klaim kelompok ingkar sunnah yang menyatakan Alquran saja cukup sebagai sumber hukum dengan menolak As-Sunnah. Bahkan para ulama sepakat kelompok ingkar sunnah adalah kafir. Wallahu a’lam bissawab.

0 Komentar