Qurban Multimanfaat DDII: Perkuat Dakwah Pedalaman

Selasa, 02 Oktober 2012 - 13:19 WIB | Dilihat : 27290
 Qurban Multimanfaat DDII:  Perkuat Dakwah Pedalaman

"Maaf Ustadz, jawi tidak bisa ditangkap," lapor Lukmanul Hakim ketika menyambut Tim LAZIS Dewan Da’wah yang tiba di Desa Saliguma, Siberut Tengah, Mentawai, Sumatera Barat, 9 November 2011. Da’i muda itu gagal menyediakan sapi kurban yang dipesan tiga hari sebelumnya, lantaran tak dapat ditangkap di hutan. Masya Allah, padahal, saat itu Hari Tasyri’ terakhir Bulan Dzulhijjah 1432 H. Batas akhir waktu pemotongan kurban tinggal beberapa jam lagi.

Tiba-tiba, Rustam nyeletuk. ‘’Di desa saya ada, harganya Rp 5 juta,’’ kata warga Desa Madobak, Siberut Selatan, itu.

‘’Nah, boleh, itu saja,’’ sambut Tim LAZIS.

‘’Tapi harus ditangkap sendiri di hutan,’’ imbuh Rustam dengan nada biasa saja, seolah tak ada masalah.

‘’Ya sudah, kita beli Rp 7 juta, tolong bawa ke sini jawinya,’’ tawar Tim LAZIS.

‘’Bisa, bisa,’’ jawab Rustam meyakinkan, ‘’dalam dua hari pasti bisa ditangkap dan diantar ke sini.’’  Astaghfirullah, dua hari lagi!

Alhamdulillah, saat ashar, akhirnya didapatkan seekor sapi liar setempat. Sapinya berperawakan langsing, tapi galak luar biasa. Perlu enam orang untuk meringkusnya dengan tali.
Usai sholat, jawi buru-buru dinaikkan ke perahu kayu kecil untuk dibawa ke Desa Sarausau, Siberut Barat Daya.

Namun di tengah jalan, jawi itu terpaksa disembelih di tepi sungai di Dusun Gotap, Saliguma. Pasalnya, sebentar lagi masuk waktu maghrib. Terlambat sedikit, gugurlah status kurban amanah dari donatur LAZIS Dewan Da’wah tersebut. Setelah dipotong, sebagian kecil daging dibagikan kepada warga Gotap, sisanya dibawa ke Sarausau.

Itulah ‘’seni’’-nya memotong kurban di Mentawai. Ada faktor budaya masyarakat dan alam setempat yang harus cermat diperhitungkan, karena berpotensi membuat ‘’kejutan’’.

‘’Karena itu, kami mohon pengertian pekurban, kalau ingin kurbannya dikirim ke Mentawai maka kena tambahan biaya Rp 1,5 juta per ekor sapi,’’ terang Asrofi Muslihuddin, koordinator Program Qurban Multimanfaat (Qurban M-2) LAZIS Dewan Da’wah.

Asrofi menambahkan, selain Mentawai, tambahan biaya juga dikenakan untuk lokasi kurban di Aceh dan Nias sebesar Rp 3,5 juta/ekor sapi dan Rp 1,25 juta/ekor kambing. Sedangkan untuk Kepulauan Riau dan Sulawesi Utara, tambahannya Rp 2,5 juta/ekor sapi dan Rp 1 juta/ekor kambing.

Meski ribet dan mahal, kurban di pelosok-pelosok semacam itu sangat penting karena mendukung kerja dakwah para da’i yang ditempatkan Dewan Dakwah di sana. ‘’Qurban penting untuk mengikat hati mualaf dan calon mualaf,’’ tandas Ustadz Ramli, koordinator dakwah di Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai.

Selain itu, kurban jawi juga sebagai syiar untuk mengonsumsi daging halal. Sebab, dari 10 desa yang dibina da’i Dewan Da’wah di Mentawai, baru Sarausau yang sudah steril dari babi. Warga di 9 desa lainnya masih beternak babi, dan memakannya saat ada pesta adat.

Misi yang sama juga menjadi pertimbangan distribusi Qurban M-2 ke Pulau Nias, Tanah Karo Sumut, Sulawesi Utara, dan lainnya.

Qurban M-2 juga dimaksudkan untuk menyelenggarakan sholat Iedul Adha di komunitas mualaf pedalaman. Untuk ini LAZIS memintakan infak para pekurban sebesar Rp 500 ribu per daerah pemotongan Qurban M-2 yang dipesan.

Harga pokok Qurban M-2 yang dipatok LAZIS adalah Rp 1.250.000 untuk kambing/domba, dan Rp 8.500.000 untuk sapi/kerbau. Bila ingin bertujuh patungan sapi/kerbau, harganya Rp 1.300.000/orang. Harga ini belum termasuk biaya tambahan untuk penyelenggaraan sholat Ied dan pemotongan di lokasi pedalaman tertentu tadi.

Informasi lebih lanjut, silakan mampir ke Gedung Menara Dakwah Jl Kramat Raya 45 Jakarta, Telp (021) 31901233; Fax (021) 3903291. Atau, silakan SMS ke 0853 1940 1876.

0 Komentar