Hukum Mengoreksi Penguasa dalam Islam

12 Februari 08:19 | Dilihat : 621
Hukum Mengoreksi Penguasa dalam Islam Ilustrasi

Dalam Islam melakukan kritik atau mengoreksi penguasa hukumnya adalah fardhu. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw :

سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا

“Akan datang  para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa  saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para sahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” Jawab Rasul.” (HR. Imam Muslim).

Aktivitas mengoreksi penguasa merupakan bagian dari amar makruf nahi mungkar, sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa saja diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya.  Apabila dnegan tangan tidak mampu, hendaknya ia mengubah dengan lisannya.  Jika ia tidak mampu mengubah dengan lisannya, hendaknya ia mengubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Koreksi dilakukan terhadap kebijakan penguasa maupun aparat negara yang melakukan penyimpangan atau pelanggaran terhadap prinsip ajaran-ajaran islam. Misalnya, mereka merampas hak-hak rakyat, mengabaikan kewajiban-kewajiban rakyat, melalaikan salah satu urusan rakyat atau memerintah bukan berdasarkan  hukum yang diturunkan oleh Allah SWT. Koreksi tersebut dilakukan bisa oleh individu, jamaah atau lembaga representatif umat semisal majelis umat.
 
Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw, para Khulafaur Rasyidin dan tabiin sesudahnya. Pada masa Rasulullah Saw, beliau pernah mengoreksi pejabat yang bertugas mengurus zakat. Beliau tidak segan-segan mengumumkan perbuatan buruk yang dilakukan oleh pejabatnya di depan kaum muslim, dengan tujuan agar pelakunya bertaubat dan agar pejabat-pejabat lain tidak melakukan perbuatan serupa.

Imam Bukhari dan Muslim menuturkan sebuah riwayat dari Abu Humaid Al-Sa’idi bahwasanya ia berkata: “Rasulullah Saw mengangkat seorang laki-laki menjadi amil untuk menarik zakat dari Bani Sulaim. Laki-laki itu dipanggil dengan nama Ibnu Luthbiyyah. Tatkala tugasnya telah usai, ia bergegas menghadap Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw menanyakan tugas-tugas yang telah didelegasikan kepadanya. Ibnu Lutbiyah menjawab, ”Bagian ini kuserahkan kepada anda, sedangkan yang ini adalah hadiah yang telah diberikan orang-orang (Bani Sulaim) kepadaku.”

Rasulullah Saw berkata, ”Jika engkau memang jujur, mengapa tidak sebaiknya engkau duduk-duduk di rumah ayah dan ibumu, hingga hadiah itu datang sendiri kepadamu”. Beliau pun berdiri, lalu berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Setelah memuji dan menyanjung Allah SWT, beliau bersabda, ”’Amma ba’du. Aku telah mengangkat seseorang di antara kalian untuk menjadi amil dalam berbagai urusan yang diserahkan kepadaku. Lalu, ia datang dan berkata, ”Bagian ini adalah untukmu, sedangkan bagian ini adalah milikku yang telah dihadiahkan kepadaku. Apakah tidak sebaiknya ia duduk di rumah ayah dan ibunya, sampai hadiahnya datang sendiri kepadanya, jika ia memang benar-benar jujur? Demi Allah, salah seorang di antara kalian tidak akan memperoleh sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menghadap kepada Allah SWT dengan membawanya. Ketahuilah, aku benar-benar tahu ada seseorang yang datang menghadap Allah swt dengan membawa onta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik. Lalu, beliau   mengangkat kedua tangannya memohon kepada Allah swt, hingga aku (perawi) melihat putih ketiaknya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketika masa kekhalifahan Umar bin Khattab, datang seorang wanita yang memprotes Umar karena telah membatasi mahar pada saat itu. Ketika Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu menyampaikan khutbah di atas mimbar, dia menyampaikan bahwa Umar hendak membatasi Mahar sebanyak 400 Dirham, sebab nilai itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw jika ada yang lebih dari itu maka selebihnya dimasukkan ke dalam kas negara. Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan manusia saat itu, dengan perkataannya: “Wahai Amirul mu’minin, engkau melarang mahar buat wanita melebihi 400 Dirham?” Umar menjawab: “Benar.” Wanita itu berkata: “Apakah kau tidak mendengar firman Allah:

” …. sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak. Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ?.” (QS. An Nisa (4): 20)

Umar menjawab; “Ya Allah ampunilah, semua manusia lebih tahu dibanding Umar.” Maka umar pun meralat keputusannya. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/244. Imam Ibnu katsir mengatakan: sanadnya jayyid qawi (baik lagi kuat). Sementara Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menyatakan hasan li ghairih).

Oleh karena itu maka wajib bagi kaum Muslim untuk melakukan koreksi ( muhasabah ) kepada penguasa yang melakukan kemungkaran. Bahkan Rasulullah Saw menjelaskan kewajiban serta keutamaan melakukan koreksi kepada penguasa. 

Al-Thariq menuturkan sebuah riwayat:

قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ إِمَامٍ جَائِرٍ

“Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw, seraya bertanya, “Jihad apa yang paling utama.”  Rasulullah Saw menjawab,’ Kalimat haq (kebenaran) yang disampaikan kepada penguasa yang zalim.“ (HR. Imam Ahmad).

Dalam riwayat lain diriwayatkan: “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw tatkala ia melakukan jumrah ‘aqabah pertama, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?”   Rasulullah Saw diam.  Ketika melakukan jumrah ‘aqabah kedua, laki-laki itu bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?”  Namun, Rasulullah saw tetap diam.   Lalu, tatkala melakukan jumrah ‘aqabah ketiga, ia bertanya lagi kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, apa jihad yang paling utama?”  Rasulullah saw memasukkan kakinya ke pelana kuda, hendak menaikinya, seraya berkata,”Siapa yang bertanya tadi?” Laki-laki itu menjawab, “Saya yang Rasulullah.”  Beliau saw menjawab, “Kata-kata haq yang ditujukan kepada penguasa zalim.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

 Di dalam riwayat lain, Rasulullah Saw telah mendorong kaum Muslim untuk menentang dan mengoreksi penguasa dzalim dan fasiq, walaupun harus menanggung resiko hingga taraf kematian.   

Rasulullah Saw bersabda: “Pemimpin syuhada’ adalah Hamzah, serta laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu ia menasehati penguasa tersebut, lantas, penguasa itu membunuhnya.” (HR Hakim dari Jabir).

Itulah hukum muhasabah kepada penguasa sebagai bagian dari amar makruf nahi mungkar, karena pemimpin adalah pelayan umat yanh akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Wallahu a'lam bishowab

Ummu Faza El-Kenzo
 

0 Komentar