Tebus Mahal Rasa Aman

11 Februari 17:05 | Dilihat : 732
Tebus Mahal Rasa Aman Ilustrasi: Massa berkumpul di Pondok Pesantren Al Hidayah (Santiong), Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Belum hilang dari ingatan kasus penganiayaan Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah (Santiong), Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kyai Umar Basri, usai shalat subuh, aksi serupa terjadi lagi. Kepala Operasi (Ka Ops) Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), R Prawoto mengalami penganiyaan, membuat nyawanya melawang, Kamis (01/02/2018) kemarin.

Aksi brutal yang menimpa Kyai Umar Basri dan ustadz Prawoto itu dilakukan oleh orang yang disebut-sebut mengalami gangguan jiwa. Hal ini membuat para tokoh geram dan mengecam lewat media sosial miliknya. 

Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr Mohammad Siddik MA, mengaku prihatin dengan kejadian penganiayaan ustadz belakangan ini. Beliau  menegaskan, motif pelaku penganiayaan harus diungkap. Sebab masyarakat ingin tahu lebih banyak tentang kasus ini. Apakah berdiri sendiri atau terkait dengan perkara lain. Ini seperti disengaja. Dia cari momentumnya. Dia tungguin. Seperti orang berakal,” tuturnya kepada hidayatullah.com usai shalat zuhur di Masjid Al-Furqan DDII, Jakarta, Rabu (07/02/2018).

Berbagai analisis politis muncul di masyarakat. Terlepas dari itu, setidaknya kejadian tersebut mencerminkan satu hal, yakni belum adanya jaminan keamanan. Sebagai rakyat  sangat berharap kepada aparat dan pemerintah. Mereka wajib memberikan jaminan keamanan. 

Sekulerisme merupakan biang segala sumber ketidakamanan di negri ini. Pemisahan agama dengan kehidupan telah menjadi dasar pengambilan kebijakan berdasarkan aturan buatan manusia. Dimana negara hanya mengakomodir persaingan Individu dalam sebuah masyarakat. Siapa yang kuat (kapital) maka dia yang mampu membeli rasa aman itu.

Realita yang ada slogan mengayomi dan melindungi hanya berlaku untuk kelompok tertentu, untuk kepentingan tertentu saja. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan keamanan sekarang ini. Masyarakat harus membayar mahal, misal membayar jasa keamanan, body guard  dan memasang Cctv. Kesemuanya hanya bisa terbayar oleh mereka yang punya uang. Sebaliknya, bagi masyarakat lemah itu sesuatu yang mustahil. Untuk memenuhi kebutuhan hidup saja berat.

Sistem Islam Menjamin Rasa Aman

Di dalam Islam, jaminan  keamanan wajib bagi  negara untuk mewujudkannya. Rasa aman adalah hak bagi rakyat. Tanpa harus menunggu ancaman terhadap jiwa, fisik, psikis, harta, kehormatan dan keamanan. Hal mendasar munculnya rasa tidak aman adalah tidak tertanamnya keimanan dan ketaqwaan individu dalam masyarakat. Sehingga dalam pemenuhan kebutuhan dan naluri jauh dari aturan Islam. 

Menghalalkandengan jalan apapun. Mudah tergerus arus zaman. Merampok, membunuh, menculik demi menebus uang untuk memenuhi kebutuhan. Termasuk menjadi " Orang Gila" dan menganiaya ustad.

Berbeda dengan Islam. Masyarakat adalah kumpulan dari individu yang satu pikiran, satu perasaan dan satu aturan. Negara sebagai penanggung jawab  agar mengokohkan keimanan dan membina ketakwaan rakyat. Melalui sistem pendidikan formal maupun non formal pada semua jenjang, level, usia dan kalangan

Diantaranya adalah menanamkan pemahaman bahwa seorang muslim wajib memberi rasa aman kepada orang lain. Nabi Saw bersabda:

"Muslim itu adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya ". (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Untuk mencegah terjadinya kejahatan atau kemungkaran, Islam juga mewajibkan masyarakat untuk saling menasihati dan melakukan amar makruf nahi mungkar sesama mereka. Dan negara wajib menjamin atmosfer yang kondusif untuk itu.

Islam adalah solusi tuntas faktor yang menjadi sebab kejahatan. Kesulitan ekonomi akan terselesaikan dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang akan mampu memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan) dan kebutuhan dasar (kesehatan, pendidikan) untuk rakyat. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, kekayaan akan terdistribusi secara adil dan merata. Setiap orang juga mendapat jaminan untuk bisa memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan masing-masing.

Tindakan main hakim sendiri akan hilang dengan  penerapan hukum Islam. Dalam sistem sanksi Islam, setiap orang yang merasa dirugikan atau haknya dilanggar mudah mencari keadilan melalui proses hukum yang independen, pasti, tidak berbelit dan terbuka untuk semua orang, berbeda dengan sekarang.

Penerapan  Islam secara total, akan meminimalisir, bahkan menghilangkan segala bentuk kejahatan. Kalaupun ada kejahatan, maka sanksi dan pidana Islam yang diterapkan akan membuat pelakunya jera dan orang tidak berani melakukan kejahatan.

Orang yang mencuri melebihi seperepat dinar dan memenuhi ketentuan syariah, dijatuhi sanksi dipotong tangannya hingga pergelangan tangan. Orang yang berzina dihukum cambuk 100 kali jika belum menikah dan dirajam hingga mati jika sudah pernah menikah. Kekerasan seksual yang tidak sampai tingkat itu tetap dijatuhi sanksi yang berat.

Orang yang melakukan pelanggaran fisik, terhadapnya diterapkan qishash. Jika menyebabkan cedera organ, ia diharuskan membayar diyat yang tidak kecil sesuai ketentuan syariah. Bahkan untuk pembunuhan disengaja, pelakunya akan dibalas bunuh, kecuali dimaafkan oleh ahli waris korban, namun dia harus membayar diyat (QS al-Baqarah: 178) berupa 100 ekor onta (40 diantaranya bunting). Pelaku pembunuhan jenis lainnya wajib membayar diyat 100 ekor onta, atau senilai 1.000 dinar (1 dinar=4,25 gram emas). Sementara orang yang melakukan gangguan keamanan, melakukan hirabah, sanksi terhadapnya sangat-sangat berat yaitu dipotong tangan dan kakinya secara bertimbal balik (QS al-Maidah [5]: 33).

Penerapan sistem sanksi dan hukuman itu akan efektif menjadi benteng terakhir yang bisa mencegah dan mengikis terjadinya tindak kejahatan. Pada akhirnya keselamatan dan rasa aman bisa dirasakan oleh seluruh rakyat. Allah Swt berfirman:

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (TQS al-Baqarah [2]: 179

Dengan semua itu, sistem Islam bisa memberikan jaminan rasa aman bagi seluruh warga. Namun hal itu hanya bisa terwujud melalui penerapan syariah Islam secara menyeluruh dan sempurna.

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS. al-Maidah [5]: 50).

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []
 

Silvi Ummu Zahiyan 
Muslimah Peduli Negeri, tinggal di Ciampea, Bogor

0 Komentar