Sia-sia Bubarkan HTI

10 Februari 22:15 | Dilihat : 3266
 Sia-sia Bubarkan HTI Ilustrasi: Demonstrasi Muslimah menolak Perppu Ormas. [foto: tribunnews.com]

Jumat 9 Februari 2018, saat berjalan menuju pintu gerbang Masjid Jami’ Babussalam, Kecamatan Kanigaran-Probolinggo, ada pemuda membagi-bagikan selebaran kepada para jamaah. Ternyata selebaran berupa buletin "Kaffah". Tidak saya baca halaman depan, langsung beralih ke bagian kesimpulan. Disitu ada solusi khas ala Hizbut tahrir. "Jika syariah diterapkan secara menyeluruh..." "hal itu bisa diwujudkan di dalam sistem Khilafah Rasyidah". Apapun masalahnya, khilafah menjadi satu satunya obat mujarab.

Dibubarkan rezim Jokowi lewat Perppu nomor 2 tahun 2017, Kiprah Hizbut Tahrir tak pernah berhenti dari dunia dakwah. Buletin Jumat yang kini mereka sebarkan telah berganti nama dari Al-Islam ke Kaffah. Namanya boleh beda, isinya tetap sama. "SK nya dari Allah swt, tak ada kata dakwah berhenti," ujar Arman saat saya temui menjemput putrinya di TK 'Aisyiyah 20 Kota Malang. Arman mengatakan dakwah para syabab hanya berganti cover. Ibarat bunglon, menyesuaikan dengan lingkungannya.

Di media sosial, kiprah mereka masih nyaring mengritik pemerintah dan rezim yang mereka anggap diktator di luar negeri. Lewat fanpage "Harakatono" dan "Kaffah Media". Dua fanpage ini cukup rajin membuat aneka meme. Ada pula fanpage "Shautul Ulama Media" menggalang opini "Kyai Membela HTI". Isinya menghimpun berbagai pandangan moderat kyai terhadap kiprah Hizbut Tahrir. Entahlah mereka kyai betulan atau kyai jadi-jadian.

Selain buletin dan fanpage facebook, aktivitas dakwah mereka bersifat seminar, pengajian dan training keislaman. Januari 2018, salah satu elite Hizbut tahrir KH. Shiddiq al Jawi menggelar kajian fiqh muamalah. Beliau menggandeng "Komunitas Tanpa Riba". Di Masjid  As-Syahriyah Jalan Pluto No. 5, beliau menerangkan hukum syirkah.

Bukan hanya KH. Shiddiq, Ustaz Felix Siauw aktif berdakwah menyasar remaja. Beliau tidak koar-koar isu khilafah. Hanya mengritisi budaya pacaran dan pergaulan bebas remaja. Bulan november 2017, kajian Felix batal digelar karena di satroni Banser. 

Lembaga pendidikan formal yang dikelola syabab Hizbut Tahrir tetap berjalan seperti biasa. Mulai SDIT Insantama Kota Malang, SMPIT Al Amri Leces, Probolinggo hingga STEI Hamfara Yogyakarta. Walau anti demokrasi, tapi kampus yang berafiliasi ke Hizbut Tahrir ini mau mengurus akreditasi ke Badan Akreditasi Nasional.

Menurut pandangan saya, sia-sia pemerintah membubarkan kelompok Hizbut Tahrir. Karena pada hakekatnya, cuma tiga kelompok yang membahayakan eksistensi negara ini: pemburu rente (koruptor), korporasi asing dan pejabat yang masih punya pola pikir warisan Mafia Barkeley. Jadi harusnya pemerintah fokus memerangi tiga kelompok tersebut.  Wallahu'allam.

Fadh Ahmad Arifan 
Pendidik di MA Muhammadiyah 2 Kota Malang

0 Komentar